SUMENEP – Proses Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep Tahun 2026 kian mengerucut dan memasuki babak paling menegangkan. Di balik tahapan administratif dan asesmen kompetensi yang tampak formal, tersimpan drama besar: harapan publik, gugurnya figur favorit, serta pertarungan sengit antar kandidat yang tersisa.
Pengamat kebijakan publik dan pemerintahan Sumenep, Ainur Syarmila, menggambarkan dinamika seleksi Sekda kali ini tak ubahnya laga sarat gengsi dua kesebelasan dengan kekuatan berimbang: Persija vs Perssu Sumenep.
“Kalau sebelumnya dianalogikan Kuda Putih versus Kuda Hitam, sekarang lebih tepat Persija melawan Perssu. Sama-sama kuat, sama-sama punya modal, dan sama-sama ingin menang,” ujar Ainur, Jumat (6/2/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Ainur, gugurnya dua nama yang sejak awal digadang-gadang sebagai calon kuat, Eri Susanto dan Arif Firmanto, justru membuat peta persaingan berubah total. Tidak ada lagi figur dominan yang benar-benar di atas angin.
“Ketika kekuatan relatif seimbang seperti ini, pertandingan bisa berlanjut ke perpanjangan waktu, bahkan adu penalti. Dalam konteks Sekda, itu berarti keputusan akhir akan sangat ditentukan oleh detail kecil, integritas, dan kebijakan strategis kepala daerah,” tegasnya.
Seperti diketahui, Panitia Seleksi (Pansel) Pengisian JPT Pratama Sekda Sumenep secara resmi mengumumkan hasil asesmen kompetensi dan potensi pada Kamis petang, 5 Februari 2026, sebagaimana tertuang dalam Pengumuman Nomor: 13/PANSEL JPT PRATAMA-SMP/II/2026, berdasarkan Berita Acara Nomor: 12/PANSEL JPT PRATAMA-SMP/II/2026.
Dari delapan pelamar yang dinyatakan lolos seleksi administrasi, tujuh hadir mengikuti asesmen, dan enam peserta dinyatakan memenuhi syarat untuk melanjutkan ke tahap berikutnya. Namun publik dibuat terkejut dengan tidak lolosnya Eri Susanto dan Arif Firmanto, dua figur yang selama ini dinilai memiliki kapasitas teknis, pengalaman, dan visi pembangunan yang kuat.
“Eri dan Arif itu ibarat pemain inti. Ketika mereka gugur, formasi berubah total. Semua kandidat yang tersisa kini punya peluang yang relatif sama,” ujar seorang wartawan senior di Sumenep.
Enam kandidat yang lolos asesmen, Achmad Dzulkarnain, Agus Dwi Saputra, Chainur Rasyid, Ferdiansyah Tetrajaya, Moh Iksan, dan R. Abd. Rahman Riadi, dijadwalkan mengikuti tahapan penulisan makalah dan wawancara pada 6–7 Februari 2026 di Hotel Swiss-Belinn, Surabaya.
Ainur menilai, keenam kandidat tersebut memiliki latar belakang dan gaya kepemimpinan yang berbeda-beda.
“Ada yang kuat di manajerial, ada yang teknokratis, ada yang komunikatif, dan ada pula yang dikenal tenang tapi efektif. Ini seperti tim dengan komposisi pemain yang seimbang,” katanya.
Namun, Ainur mengingatkan bahwa pertarungan sesungguhnya justru baru dimulai. Dari enam kandidat yang masih bertahan, hanya tiga orang yang nantinya akan dipilih dan diserahkan kepada Bupati Sumenep sebagai tiga besar calon Sekda.
“Enam ini masih di lapangan, tapi setelah makalah dan wawancara hanya tiga yang akan lolos. Dari enam akan mengerucut menjadi tiga besar,” tegas Ainur.
Menurutnya, fase ini ibarat babak gugur dalam kompetisi sepak bola. Tidak ada lagi ruang untuk kesalahan, karena satu kekeliruan kecil bisa langsung menutup peluang.
“Di tahap ini bukan sekadar siapa yang pintar bicara atau unggul secara administratif. Kedalaman gagasan, konsistensi visi, dan kemampuan membaca persoalan riil Sumenep akan sangat menentukan,” ujarnya.
Masuknya tiga besar, lanjut Ainur, bukan hanya soal prestasi seleksi, melainkan penanda siapa yang benar-benar siap memikul tanggung jawab strategis sebagai Sekda.
“Tiga besar ini adalah pemain inti. Dari merekalah Bupati akan memilih satu dirigen utama birokrasi. Setiap jawaban, setiap argumen, bahkan setiap sikap dalam wawancara bisa menjadi penentu,” katanya.
Ainur menegaskan bahwa jabatan Sekda bukan posisi seremonial, melainkan simpul strategis pemerintahan daerah. Sekda dituntut mampu mengoordinasikan OPD, menjaga stabilitas birokrasi, meredam gesekan sosial-politik, serta menerjemahkan visi kepala daerah ke dalam kebijakan nyata.
“Sekda itu dirigen. Kalau salah pilih, orkestrasi birokrasi bisa sumbang. Tapi kalau tepat, pemerintahan bisa berjalan rapi dan efektif,” ucapnya.
Ia berharap proses seleksi dari enam ke tiga besar dilakukan secara objektif, profesional, dan transparan agar hasil akhirnya benar-benar mendapat legitimasi publik.
“Harapan saya, siapa pun yang terpilih nanti adalah Sekda yang menang karena kualitas, bukan manuver. Seperti pertandingan ideal yang dimenangkan oleh tim yang bermain bersih, solid, dan cerdas,” terang Ainur.
Ainur Syarmila mengibaratkan pertarungan menuju kursi Sekda Sumenep layaknya laga Persija vs Perssu, dua tim dengan kekuatan berimbang dan gengsi tinggi. Tidak ada unggulan mutlak, semua kandidat bermain di level yang relatif sama.
“Dalam situasi seperti ini, hasil akhir bukan ditentukan oleh nama besar, melainkan oleh ketenangan, konsistensi strategi, dan kecermatan membaca peluang. Seperti sepak bola, laga bisa berlanjut hingga extra time, bahkan adu penalti, di mana detail kecil dan keputusan di menit akhir menjadi penentu kemenangan,” tandas Ainur.
Penulis : Redaksi








