SUMENEP – Pengamat birokrasi Sumenep, Abu Jamal, secara tegas memprediksi bahwa tiga sosok pejabat dengan karakter berbeda akan melenggang ke tiga besar Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep Tahun 2026. Ia menganalogikan ketiganya sebagai tiga kuda yang sedang berpacu di lintasan akhir seleksi: Kuda Tuli, Kuda Terbang, dan Kuda Nil.
“Sejak awal saya melihat, tiga besar Sekda ini akan diisi oleh figur dengan tiga karakter itu. Bukan satu tipe saja. Kuda Tuli, Kuda Terbang, dan Kuda Nil,” ujar Abu Jamal, Jumat (6/2/2026).
Menurutnya, ketiga tipe tersebut bukan metafora kosong, melainkan cerminan nyata dari karakter kepemimpinan yang sedang diuji dalam seleksi Sekda Sumenep.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kuda Tuli itu kuat secara struktur, tahan tekanan, dan pekerja keras, tapi sering kali kurang peka terhadap suara di sekitarnya. Kuda Terbang itu cerdas, cepat, dan menguasai panggung. Sedangkan Kuda Nil tenang, konsisten, tidak mencolok, tapi langkahnya berat dan menentukan arah,” jelasnya.
Prediksi Abu Jamal itu muncul di tengah fase paling krusial seleksi Sekda Sumenep 2026. Setelah tahapan asesmen kompetensi dan potensi diumumkan oleh Panitia Seleksi (Pansel), publik dikejutkan dengan gugurnya sejumlah figur yang sebelumnya digadang-gadang sebagai kandidat kuat.
Sebagaimana diumumkan Pansel melalui Pengumuman Nomor: 13/PANSEL JPT PRATAMA-SMP/II/2026, dari delapan pelamar yang lolos seleksi administrasi, tujuh mengikuti asesmen dan enam dinyatakan memenuhi syarat untuk melanjutkan ke tahapan berikutnya, yakni penulisan makalah dan wawancara.
Enam kandidat tersebut adalah Achmad Dzulkarnain, Agus Dwi Saputra, Chainur Rasyid, Ferdiansyah Tetrajaya, Moh Iksan, dan R. Abd. Rahman Riadi. Mereka dijadwalkan mengikuti tahapan lanjutan pada 6–7 Februari 2026 di Hotel Swiss-Belinn, Surabaya.
Namun bagi Abu Jamal, angka dan nama bukanlah faktor penentu utama.
“Seleksi Sekda ini bukan soal siapa paling populer atau paling lantang. Ini soal karakter kepemimpinan. Dan justru tiga karakter itulah yang dibutuhkan birokrasi,” tegasnya.
Ia menilai, ketiga tipe kuda tersebut sama-sama layak dan berpeluang masuk tiga besar, karena birokrasi tidak pernah berdiri di atas satu karakter tunggal.
“Birokrasi butuh tenaga, kecepatan, dan ketenangan sekaligus. Karena itu, jangan heran kalau nanti tiga besar diisi oleh figur yang keras bekerja, figur yang cepat berpikir, dan figur yang tenang memimpin,” ujar Abu Jamal.
Abj Jamal menyebut, tahapan penulisan makalah dan wawancara akan menjadi ruang seleksi paling jujur. Di sanalah akan terlihat apakah Kuda Terbang mampu mengendalikan kecepatan, apakah Kuda Tuli bersedia mendengar, dan apakah Kuda Nil sanggup berbicara tegas saat dibutuhkan.
“Sekda itu dirigen. Kalau hanya cepat tanpa arah, orkestrasi bisa kacau. Kalau kuat tapi tidak mendengar, bisa timpang. Tapi kalau tenang, konsisten, dan tahu kapan harus memimpin, birokrasi akan berjalan stabil,” sebutnya.
Abu Jamal juga menegaskan bahwa persaingan enam kandidat kini benar-benar terbuka. Tidak ada lagi unggulan mutlak. Siapa pun bisa masuk tiga besar, tergantung kesiapan mental, kedalaman gagasan, dan kecocokan dengan kebutuhan Sumenep.
“Ini bukan lomba sprint, tapi maraton. Yang sampai tiga besar adalah mereka yang mampu menjaga napas birokrasi sampai garis akhir,” ucapnya.
“Saya yakin, publik nanti akan melihat Kuda Tuli, Kuda Terbang, dan Kuda Nil berdiri sejajar di tiga besar. Tinggal satu yang akan dipilih sebagai dirigen utama birokrasi Sumenep,” pungkas Abu Jamal.
Penulis : Redaksi








