SUMENEP – Persaingan Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Sekretaris Daerah Kabupaten Sumenep Tahun 2026 memasuki babak paling panas. Panitia Seleksi (Pansel) resmi mengumumkan tiga besar peserta terbaik, namun publik kini disuguhi drama karakter yang tajam, penuh strategi, dan intrik birokrasi bak pacuan kuda.
Pengamat birokrasi Abu Jamal menganalogikan ketiga kandidat ini dengan metafora kuda. Kuda Terbang digambarkan sebagai figur gesit dan komunikatif, pendengar aspirasi semua kalangan, dengan kemampuan mencuri perhatian di forum-forum strategis. Kecepatannya tak terbantahkan, namun menurut Abu Jamal, “kecepatan harus dikontrol agar tidak kehilangan pijakan teknokratis.”
Sebaliknya, Kuda Tuli adalah sosok pejabat yang “bisu terhadap aspirasi rakyat.” Ia jarang menangkap kebutuhan masyarakat, acuh terhadap kritik, dan cenderung menutup diri. Abu Jamal menegaskan, jika diberi kendali penuh birokrasi, Kuda Tuli bisa menjadi ancaman bagi kelancaran pemerintahan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, Kuda Hitam muncul sebagai sosok kontroversial. Ia bekerja seenaknya, egoistik, dan angkuh. Minim transparansi, memaksakan kehendak sendiri, dan acuh terhadap masukan bawahan.
“Kuda Hitam ini tipe yang paling menyulitkan birokrasi. Tenang tapi licik, terlihat santai namun bisa merusak harmoni jika diberi ruang,” ujar Abu Jamal.
Dari sisi administrasi, tiga besar yang lolos adalah:
Agus Dwi Saputra, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
Chainur Rasyid, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian
Dr. R. Abd. Rahman Riadi, Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak
Tahapan seleksi meliputi administrasi, penelusuran rekam jejak, uji kompetensi manajerial dan teknis, hingga wawancara akhir. Ketua Pansel, Indah Wahyuni, SH., M.Si., menegaskan keputusan bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat, dengan prinsip transparansi, objektivitas, dan akuntabilitas.
“Sekarang arenanya berbeda. Fase psikologis dan politik birokrasi menentukan siapa yang mampu bertahan sampai finis,” kata Abu Jamal.
Menurutnya, Kuda Terbang cepat tapi bisa kelelahan, Kuda Tuli cenderung kehilangan momentum, sementara Kuda Hitam bisa melaju diam-diam, tapi mematikan.
Abu Jamal menegaskan, jabatan Sekda bukan sekadar posisi administratif. “Sekda adalah dirigen birokrasi. Ia harus tahu kapan mempercepat, kapan menahan, dan kapan berdiri paling depan menghadapi tekanan. Salah karakter, birokrasi bisa kehilangan harmoni,” tegasnya.
Kini publik Sumenep menunggu dengan napas tertahan: siapa yang akan meraih restu Bupati dan menyeimbangkan ritme pemerintahan daerah? Kuda yang gesit, kuda yang tuli, atau kuda yang diam tapi berbahaya?
“Yang pasti, tiga besar ini mencerminkan kebutuhan riil birokrasi Sumenep hari ini dan beberapa tahun ke depan,” pungkas Abu Jamal, menutup babak pacuan paling dramatis menuju finis Sekda Sumenep 2026.
Penulis : Redaksi







