SUMENEP, Senin, 23/2/2026-Persaingan menuju kursi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep Tahun 2026 semakin memasuki fase penentuan. Tak lagi sekadar adu nilai dan kelengkapan administrasi, namun pertarungan rasa, karakter, dan kecocokan irama kepemimpinan.
Pengamat birokrasi, Abu Jamal, mengibaratkan sosok Sekda ideal seperti musik yang mampu diterima oleh semua telinga. Bukan musik yang gaduh, memekakkan, atau hanya disukai segelintir kalangan.
“Bupati dan masyarakat Sumenep tentu tidak mencari musik yang bikin bising. Bukan musik keras seperti rock yang tak terkontrol, bukan pula dangdut koplo yang menghentak tanpa arah,” ujar Abu Jamal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, Sekda yang ideal justru seperti musik jazz yang tenang tapi berkelas, pop yang mudah diterima lintas generasi, atau keroncong yang sederhana namun menenangkan. Irama yang menyentuh hati, bukan memaksa telinga.
Abu Jamal menegaskan, Bupati adalah pencipta lagu dalam pemerintahan daerah. Namun Sekda adalah pengatur irama, arranger, sekaligus dirigen yang menentukan apakah lagu pemerintahan terdengar harmonis atau justru sumbang.
“Kalau lagunya bagus tapi aransemen Sekdanya kacau, hasilnya tetap tidak enak didengar. Pemerintahan bisa gaduh, birokrasi saling berbenturan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar jangan sampai Sekda diibaratkan seperti musik eksperimental yang egoistik, asyik sendiri, sulit dipahami, dan tak peduli apakah publik menikmati atau justru tersingkir.
Dalam seleksi JPT Pratama Sekda Sumenep 2026, Abu Jamal menilai kepekaan sosial, kemampuan mendengar aspirasi, serta kecerdasan emosional sama pentingnya dengan kompetensi teknis dan manajerial.
“Sekda itu bukan solois. Ia bagian dari orkestra besar bernama birokrasi. Kalau semua alat musik dimainkan sendiri-sendiri, yang muncul bukan lagu, tapi kebisingan,” ujarnya.
Masyarakat Sumenep kini menunggu, siapa sosok yang mampu memainkan musik pemerintahan dengan nada yang pas, tidak terlalu keras, tidak terlalu lambat, namun konsisten menjaga ritme pelayanan publik.
“Yang dibutuhkan Sumenep hari ini adalah Sekda yang iramanya enak didengar dari desa sampai kota. Musik yang menenangkan, bukan yang membuat orang menutup telinga,” pungkas Abu Jamal.
Penulis : Redaksi








