Sumenep — Di tengah senyapnya proses seleksi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep 2026, sesungguhnya sedang berlangsung sebuah penyaringan yang jauh lebih keras dari sekadar ujian tertulis. Ini bukan semata tentang siapa paling fasih berbicara atau paling mencolok tampil di depan. Ini tentang siapa yang paling mampu menahan diri, membaca suasana, dan tahu kapan harus melangkah serta kapan memilih diam.
Pengamat birokrasi Abu Jamal menyebut, ada satu karakter yang sejak awal hampir pasti tersisih dari bursa Sekda: figur dengan gaya keras, meledak-ledak, dan gemar mendominasi ruang. Karakter seperti ini, menurutnya, tak ubahnya musik aliran rock metal, keras, menghentak, dan memaksa telinga untuk tunduk.
“Bupati Sumenep tidak sedang mencari Sekda yang datang dengan hentakan. Pemerintahan bukan panggung konser,” ujar Abu Jamal, Senin (23/2/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, arah seleksi Sekda kali ini justru bergerak senyap namun tajam. Angka, rekam jejak, dan kelengkapan administrasi memang menjadi pintu masuk, tetapi bukan kunci terakhir. Yang menentukan adalah kecocokan irama: apakah calon Sekda mampu berjalan di jalur yang telah ditetapkan kepala daerah, atau justru ingin menciptakan jalur sendiri dan menyeret birokrasi keluar rel.
Abu Jamal menggambarkan birokrasi sebagai perjalanan panjang. Bupati adalah penentu arah, sementara Sekda adalah penjaga kecepatan. Bila penjaga kecepatan lupa membaca medan dan memacu kendaraan sesuka hati, yang terjadi bukan percepatan pembangunan, melainkan kecelakaan kebijakan.
“Tidak ada visi-misi Sekda. Visi-misi itu milik Bupati. Sekda tugasnya memastikan semua roda berputar sesuai arah, bukan memutar setir sendiri,” tegasnya.
Ia menilai, salah satu penyakit laten birokrasi adalah ketika Sekda merasa dirinya pusat gravitasi. Saat itu, perintah berubah menjadi tekanan, koordinasi menjelma benturan, dan pelayanan publik kehilangan sentuhan kemanusiaannya. Struktur memang masih berdiri, tetapi suasana kerja menjadi kaku dan penuh ketegangan.
Dalam konteks Sumenep, stabilitas birokrasi bukan kemewahan, melainkan kebutuhan mendesak. Wilayah yang luas, persoalan sosial yang berlapis, serta tuntutan publik yang terus meningkat membutuhkan ketenangan dan kejernihan berpikir, bukan kepanikan struktural.
Dari sisi administrasi, proses seleksi kini telah mengerucut pada tiga pejabat yang dinyatakan lolos ke tahap akhir. Ketiganya berasal dari latar belakang dinas strategis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumenep dan saat ini memasuki fase paling sensitif, di mana karakter, kecakapan membaca situasi, serta kemampuan menempatkan diri menjadi penilaian utama.
Tiga pejabat yang masuk dalam tiga besar calon Sekda Sumenep 2026 tersebut adalah Agus Dwi Saputra, Chainur Rasyid, dan R. Abd. Rahman Riadi.
Meski demikian, Abu Jamal menegaskan bahwa keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan Bupati, dengan pertimbangan yang bukan hanya terukur secara administratif, tetapi juga terasa secara emosional dan kepemimpinan.
Arah seleksi ini, kata dia, sejalan dengan gaya kepemimpinan Achmad Fauzi Wongsojudo yang dikenal menjaga ritme kerja tanpa kegaduhan. Dalam irama tersebut, Bupati justru lebih menyukai alunan lembut, ibarat musik tentang mencintai tanpa dicintai: mendayu-dayu, sabar, dan menyentuh hati. Bukan lagu yang menuntut sorak, melainkan yang menumbuhkan pengertian.
Bagi Abu Jamal, pemerintahan yang kuat bukan yang paling berisik, tetapi yang paling mampu menjaga perasaan publik sambil tetap melangkah pasti. Sekda pun dipandang bukan sebagai figur yang harus ditakuti, melainkan sosok yang membuat seluruh perangkat daerah berani bekerja dengan tenang.
“Sekda yang baik itu bukan yang bikin OPD tegang, tapi yang bikin OPD paham apa yang harus dikerjakan,” ujar Abu Jamal.
Ia mengingatkan, gaya kepemimpinan keras kerap tampak tegas di permukaan, namun rapuh di dalam. Dentumannya mungkin terdengar kuat sesaat, tetapi meninggalkan retakan panjang dalam tubuh birokrasi yang sulit dipulihkan.
Kini, masyarakat Sumenep hanya bisa membaca isyarat. Dan isyarat itu cukup jelas: siapa pun yang terpilih nanti, bukanlah figur yang gemar menghentak dan egoistis, melainkan sosok yang mampu menenangkan ruangan dan menjaga harmoni.
“Sumenep tidak butuh Sekda yang suaranya paling keras. Yang dibutuhkan adalah Sekda yang langkahnya paling tepat,” pungkas Abu Jamal.
Seleksi masih berjalan, keputusan belum diumumkan. Namun satu nada dasar telah terdengar jelas: di Sumenep, harmoni bukan pilihan tambahan, ia adalah syarat utama.
Penulis : Redaksi







