Selera Bupati Sumenep Menyaring Sekda: Harmoni Lagu Mencintai Tanpa Dicintai Lebih Kuat daripada Dentuman Rock Metal

Selasa, 24 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tiga kandidat Sekda, satu keputusan menentukan. Di tangan Bupati Sumenep, arah birokrasi akan dipilih dengan rasa.

Tiga kandidat Sekda, satu keputusan menentukan. Di tangan Bupati Sumenep, arah birokrasi akan dipilih dengan rasa.

Sumenep — Di tengah senyapnya proses seleksi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep 2026, sesungguhnya sedang berlangsung sebuah penyaringan yang jauh lebih keras dari sekadar ujian tertulis. Ini bukan semata tentang siapa paling fasih berbicara atau paling mencolok tampil di depan. Ini tentang siapa yang paling mampu menahan diri, membaca suasana, dan tahu kapan harus melangkah serta kapan memilih diam.

Pengamat birokrasi Abu Jamal menyebut, ada satu karakter yang sejak awal hampir pasti tersisih dari bursa Sekda: figur dengan gaya keras, meledak-ledak, dan gemar mendominasi ruang. Karakter seperti ini, menurutnya, tak ubahnya musik aliran rock metal, keras, menghentak, dan memaksa telinga untuk tunduk.

“Bupati Sumenep tidak sedang mencari Sekda yang datang dengan hentakan. Pemerintahan bukan panggung konser,” ujar Abu Jamal, Senin (23/2/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, arah seleksi Sekda kali ini justru bergerak senyap namun tajam. Angka, rekam jejak, dan kelengkapan administrasi memang menjadi pintu masuk, tetapi bukan kunci terakhir. Yang menentukan adalah kecocokan irama: apakah calon Sekda mampu berjalan di jalur yang telah ditetapkan kepala daerah, atau justru ingin menciptakan jalur sendiri dan menyeret birokrasi keluar rel.

Abu Jamal menggambarkan birokrasi sebagai perjalanan panjang. Bupati adalah penentu arah, sementara Sekda adalah penjaga kecepatan. Bila penjaga kecepatan lupa membaca medan dan memacu kendaraan sesuka hati, yang terjadi bukan percepatan pembangunan, melainkan kecelakaan kebijakan.

“Tidak ada visi-misi Sekda. Visi-misi itu milik Bupati. Sekda tugasnya memastikan semua roda berputar sesuai arah, bukan memutar setir sendiri,” tegasnya.

Ia menilai, salah satu penyakit laten birokrasi adalah ketika Sekda merasa dirinya pusat gravitasi. Saat itu, perintah berubah menjadi tekanan, koordinasi menjelma benturan, dan pelayanan publik kehilangan sentuhan kemanusiaannya. Struktur memang masih berdiri, tetapi suasana kerja menjadi kaku dan penuh ketegangan.

Dalam konteks Sumenep, stabilitas birokrasi bukan kemewahan, melainkan kebutuhan mendesak. Wilayah yang luas, persoalan sosial yang berlapis, serta tuntutan publik yang terus meningkat membutuhkan ketenangan dan kejernihan berpikir, bukan kepanikan struktural.

Dari sisi administrasi, proses seleksi kini telah mengerucut pada tiga pejabat yang dinyatakan lolos ke tahap akhir. Ketiganya berasal dari latar belakang dinas strategis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumenep dan saat ini memasuki fase paling sensitif, di mana karakter, kecakapan membaca situasi, serta kemampuan menempatkan diri menjadi penilaian utama.

Tiga pejabat yang masuk dalam tiga besar calon Sekda Sumenep 2026 tersebut adalah Agus Dwi Saputra, Chainur Rasyid, dan R. Abd. Rahman Riadi.

Meski demikian, Abu Jamal menegaskan bahwa keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan Bupati, dengan pertimbangan yang bukan hanya terukur secara administratif, tetapi juga terasa secara emosional dan kepemimpinan.

Arah seleksi ini, kata dia, sejalan dengan gaya kepemimpinan Achmad Fauzi Wongsojudo yang dikenal menjaga ritme kerja tanpa kegaduhan. Dalam irama tersebut, Bupati justru lebih menyukai alunan lembut, ibarat musik tentang mencintai tanpa dicintai: mendayu-dayu, sabar, dan menyentuh hati. Bukan lagu yang menuntut sorak, melainkan yang menumbuhkan pengertian.

Bagi Abu Jamal, pemerintahan yang kuat bukan yang paling berisik, tetapi yang paling mampu menjaga perasaan publik sambil tetap melangkah pasti. Sekda pun dipandang bukan sebagai figur yang harus ditakuti, melainkan sosok yang membuat seluruh perangkat daerah berani bekerja dengan tenang.

“Sekda yang baik itu bukan yang bikin OPD tegang, tapi yang bikin OPD paham apa yang harus dikerjakan,” ujar Abu Jamal.

Ia mengingatkan, gaya kepemimpinan keras kerap tampak tegas di permukaan, namun rapuh di dalam. Dentumannya mungkin terdengar kuat sesaat, tetapi meninggalkan retakan panjang dalam tubuh birokrasi yang sulit dipulihkan.

Kini, masyarakat Sumenep hanya bisa membaca isyarat. Dan isyarat itu cukup jelas: siapa pun yang terpilih nanti, bukanlah figur yang gemar menghentak dan egoistis, melainkan sosok yang mampu menenangkan ruangan dan menjaga harmoni.

“Sumenep tidak butuh Sekda yang suaranya paling keras. Yang dibutuhkan adalah Sekda yang langkahnya paling tepat,” pungkas Abu Jamal.

Seleksi masih berjalan, keputusan belum diumumkan. Namun satu nada dasar telah terdengar jelas: di Sumenep, harmoni bukan pilihan tambahan, ia adalah syarat utama.

 

Penulis : Redaksi

Berita Terkait

Bupati Tongtong Sumenep: Pemimpin Penjaga Warisan Budaya Madura
Bupati Sumenep: Festival Tong-Tong Bukan Sekadar Hiburan, tetapi Identitas Budaya Madura
Hari Jadi Sumenep Penuh Kemegahan Budaya, Kementerian Pariwisata Apresiasi Festival Tong-Tong yang Kembali Tembus KEN 2026
Diskominfo Sumenep Sukses Dorong Kampanye Digital Lewat Gerakan “Nongtong Bareng” di Festival Musik Tong-Tong
JJS DPRD Sumenep Jadi Simbol Kebersamaan, Cak Fauzi: Jangan Terpecah karena Politik
Di Balik Festival Tong-Tong, Cak Fauzi Titip Pesan untuk Masa Depan Sumenep di Hari Jadi ke-757
Hari Jadi Sumenep ke-757, Cak Fauzi Dorong Gotong Royong Jadi Kekuatan Pembangunan
Fajar Baru Kamtibmas Probolinggo: Lepas AKBP Rico dengan Pendekatan Humanis, Sambut AKBP Lucky dengan Sinergi

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 16:27 WIB

Bupati Tongtong Sumenep: Pemimpin Penjaga Warisan Budaya Madura

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:54 WIB

Bupati Sumenep: Festival Tong-Tong Bukan Sekadar Hiburan, tetapi Identitas Budaya Madura

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:45 WIB

Hari Jadi Sumenep Penuh Kemegahan Budaya, Kementerian Pariwisata Apresiasi Festival Tong-Tong yang Kembali Tembus KEN 2026

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:14 WIB

JJS DPRD Sumenep Jadi Simbol Kebersamaan, Cak Fauzi: Jangan Terpecah karena Politik

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:06 WIB

Di Balik Festival Tong-Tong, Cak Fauzi Titip Pesan untuk Masa Depan Sumenep di Hari Jadi ke-757

Berita Terbaru

PEMERINTAHAN

Bupati Tongtong Sumenep: Pemimpin Penjaga Warisan Budaya Madura

Minggu, 18 Okt 2026 - 16:27 WIB

TNI-POLRI

Polisi Ungkap Dugaan Kasus Sabu di Nonggunong Sumenep

Minggu, 18 Okt 2026 - 11:51 WIB