Nasional – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, masyarakat biasanya menerima Tunjangan Hari Raya (THR) yang menjadi berkah sekaligus kebahagiaan tersendiri. Namun di balik euforia tersebut, ancaman kejahatan siber juga kerap meningkat, memanfaatkan kelengahan pengguna di ruang digital.
Pakar mikroelektronika dari Institut Teknologi Bandung, Budi Rahardjo, mengingatkan masyarakat agar lebih waspada saat beraktivitas di dunia digital, terutama ketika memegang uang lebih di masa Lebaran.
Menurutnya, momentum THR sering dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk menjerat korban melalui berbagai modus penipuan digital.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“THR bisa menjadi pemicu kejahatan siber, karena saat itu masyarakat biasanya memegang uang lebih. Jadi harus ekstra hati-hati,” ujarnya dalam Webinar Cerdas Digital (Cerdik) Bedah Ruang Siber Jilid XIII bertema “THR Utuh, Data Tangguh: Gembok Data Pribadi, Lepas Dari Jebakan Scam & Investasi Bodong”, Rabu (11/03/2026).
Dalam kegiatan yang digelar oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur tersebut, Budi memaparkan berbagai modus yang kerap digunakan pelaku kejahatan siber. Salah satunya adalah pesan phishing yang menyamar sebagai undangan pernikahan digital, notifikasi paket, atau tautan yang mengarahkan pengguna untuk mengunduh aplikasi berbentuk file APK.
Ia menegaskan, jika pengguna sampai mengklik tautan atau mengunduh aplikasi mencurigakan, data yang ada di perangkat seperti komputer atau telepon genggam berpotensi langsung diambil oleh pelaku.
“Jangan pernah memberikan data pribadi kepada siapapun,” tegasnya.
Menurut Budi, data pribadi sangat berharga dan dapat disalahgunakan untuk berbagai aktivitas ilegal, termasuk pinjaman online tanpa sepengetahuan pemiliknya. Tak jarang, korban baru menyadari setelah didatangi atau ditagih oleh penagih utang.
“Bisa saja tiba-tiba kita ditagih hutang oleh kolektor, padahal kita tidak pernah meminjam. Itu karena data kita disalahgunakan,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyarankan masyarakat untuk meningkatkan keamanan perangkat dengan menggunakan kata sandi yang kuat. Meski sederhana, penggunaan password tetap menjadi langkah penting dalam menjaga keamanan data.
“Setidaknya password itu lebih bagus daripada tidak ada password sama sekali,” katanya.
Namun ia mengingatkan agar tidak menggunakan kata sandi yang berkaitan dengan identitas pribadi seperti nama, tanggal lahir, alamat, atau informasi yang mudah ditebak. Kebiasaan tersebut, menurutnya, sangat rentan diretas oleh pelaku kejahatan siber.
“Karena data seperti itu biasanya sudah diketahui umum,” tambahnya.
Lebih jauh, Budi juga memperkenalkan strategi keamanan digital yang dikenal dengan “Air Gap”, yakni memisahkan perangkat untuk aktivitas finansial dan sosial.
Dalam strategi ini, satu handphone khusus digunakan untuk transaksi keuangan seperti mobile banking dan menerima kode OTP. Sementara perangkat lainnya digunakan untuk aktivitas komunikasi dan media sosial.
“Kalau handphone utama diretas, tidak ada uangnya di situ. Jadi tidak ada yang bisa diambil,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat juga diimbau agar tidak sembarangan menginstal aplikasi serta lebih waspada terhadap telepon dari nomor yang tidak dikenal.
“Kalau ada telepon mencurigakan, pura-pura saja sibuk. Jangan terima telepon dari nama yang tidak ada di phonebook,” tegasnya.
Dengan meningkatnya aktivitas digital di tengah masyarakat, edukasi tentang keamanan siber menjadi semakin penting. Apalagi menjelang Lebaran, ketika transaksi dan aktivitas daring meningkat drastis.
Budi berharap masyarakat dapat lebih bijak dan berhati-hati dalam menggunakan ruang digital, sehingga kebahagiaan menerima THR tidak berubah menjadi kerugian akibat penipuan siber.







