BARONG GROUP Dorong Revolusi Industri Rokok: Petani Harus Jadi Penguasa

Senin, 30 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

INDONESIA — Kemegahan industri tembakau nasional kembali disorot. Di tengah angka produksi yang terus meningkat dan keuntungan yang mengalir ke puncak industri, nasib petani tembakau justru masih terjebak dalam lingkaran lama: harga murah, posisi lemah, dan ketidakpastian yang tak berujung.

Sebuah kegelisahan mendalam kini berubah menjadi seruan terbuka. HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy, Founder Owner Bandar Rokok Nusantara Global Grup (BARONG GRUP), menilai bahwa ada yang tidak beres dalam struktur industri tembakau Indonesia.

“Ia besar, tetapi tidak adil. Ia tumbuh, tetapi tidak merata,” ungkapnya, menggambarkan realitas yang selama ini dirasakan para petani.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selama puluhan tahun, hubungan antara petani dan industri dinilai timpang. Petani hanya menjadi pemasok bahan baku tanpa kuasa menentukan harga. Tembakau mereka dibeli dengan nilai rendah, sementara produk akhirnya dijual dengan harga tinggi di pasar.

Kondisi ini melahirkan ironi yang terus berulang: petani bekerja keras di ladang, tetapi tetap berada di garis bawah kesejahteraan.

Fakta ini semakin terasa di wilayah seperti Madura, yang dikenal sebagai salah satu lumbung tembakau terbesar, namun masih menghadapi persoalan kesejahteraan yang kompleks.

“Masalahnya bukan pada petani, tetapi pada sistem yang tidak berpihak,” tegasnya.

Menurutnya, sistem yang ada saat ini hanya mengalirkan nilai tambah ke atas, sementara petani sebagai fondasi industri hanya menerima bagian kecil. Karena itu, perubahan tidak cukup dilakukan di permukaan, melainkan harus menyentuh akar persoalan.

Solusi yang ditawarkan pun terbilang radikal: membangun industri dari bawah melalui pengembangan ribuan pabrik rokok skala UMKM di daerah penghasil tembakau.
Langkah ini diyakini mampu memutus ketergantungan pada industri besar sekaligus mendekatkan petani dengan proses produksi. Dengan demikian, harga tembakau dapat lebih layak, distribusi lebih pendek, dan keseimbangan pasar mulai tercipta.

Di sisi lain, model ini juga diharapkan mampu menjawab persoalan tingginya harga rokok legal yang selama ini membebani masyarakat menengah ke bawah.

Ketika harga tidak terjangkau, pasar kerap melahirkan alternatif sendiri, termasuk peredaran rokok ilegal.

Namun, menurut Khalilur, solusi bukan dengan membiarkan pelanggaran tumbuh, melainkan dengan menghadirkan produk legal yang terjangkau dan berkeadilan.

“Pabrik UMKM bisa menjadi jalan tengah—legal, efisien, dan berpihak pada petani,” jelasnya.

Ia menegaskan, gagasan ini bukan sekadar konsep, melainkan telah mulai dijalankan sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian industri tembakau nasional.
Jika diterapkan secara luas, ia optimistis akan terjadi perubahan besar: industri tidak lagi terpusat, petani tidak lagi terpinggirkan, dan pasar menjadi lebih sehat.

Lebih dari itu, gerakan ini membawa pesan kuat tentang keadilan sosial—bahwa industri tidak boleh hanya menguntungkan segelintir pihak, tetapi harus memberikan manfaat yang merata.

Seruan ini menjadi penegasan bahwa masa depan industri tembakau Indonesia tidak bisa lagi bertumpu pada sistem lama. Perubahan harus dimulai dari akar—dari ladang, dari petani, dan dari keberanian untuk merombak struktur yang selama ini timpang.

Penulis : Anton

Berita Terkait

Forum Pedagang Kaki Lima Kabupaten Kebumen Resmi Deklarasi, Siap Perjuangkan Aspirasi Pedagang
Merajut Asa di Balik Jeruji: WBP Perempuan Rutan Pemalang Sulap Benang Jadi Karya Bernilai Ekonomi
Dari Ruang Kelas ke Lahan Hijau, Kepala SMP di Pemalang Raup Jutaan Rupiah dari Kangkung Organik
Kehadiran KPK dan Kejaksaan dalam SPMB Disorot, BPI KPNPA RI Bogor: Jangan Sampai Pendampingan Timbulkan Rasa Takut 
Nobar Piala Dunia 2026 Jadi Perekat Kebersamaan, Kodim 0210/TU Dekatkan Diri dengan Warga
Antrean Mengular, SPBU 5483504 Lombok Tengah Tetap Layani Pembelian Pertalite Pakai Botol Plastik
Himpunan Mahasiswa Prodi Manajemen UNIMUGO Sukses Gelar MANAFERA FUTSAL CUP 2026, Ajang Futsal Pelajar Se-Jateng DIY Berlangsung Meriah
Pelatihan Startup Bisnis di STMIK Tazkia Bogor: Mahasiswa Belajar Bangun Bisnis Digital Langsung dari Nol

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 15:40 WIB

Forum Pedagang Kaki Lima Kabupaten Kebumen Resmi Deklarasi, Siap Perjuangkan Aspirasi Pedagang

Selasa, 30 Juni 2026 - 19:52 WIB

Merajut Asa di Balik Jeruji: WBP Perempuan Rutan Pemalang Sulap Benang Jadi Karya Bernilai Ekonomi

Selasa, 30 Juni 2026 - 11:35 WIB

Dari Ruang Kelas ke Lahan Hijau, Kepala SMP di Pemalang Raup Jutaan Rupiah dari Kangkung Organik

Selasa, 30 Juni 2026 - 11:31 WIB

Kehadiran KPK dan Kejaksaan dalam SPMB Disorot, BPI KPNPA RI Bogor: Jangan Sampai Pendampingan Timbulkan Rasa Takut 

Selasa, 30 Juni 2026 - 10:02 WIB

Nobar Piala Dunia 2026 Jadi Perekat Kebersamaan, Kodim 0210/TU Dekatkan Diri dengan Warga

Berita Terbaru