Nasional – Di tengah panasnya operasi pemberantasan rokok ilegal dan mencuatnya dugaan penyimpangan pita cukai, sebuah suara lantang mengguncang dari tanah Madura. Bukan sekadar kritik, melainkan perlawanan terbuka dari akar rumput industri tembakau.
HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, atau yang dikenal sebagai Gus Lilur, Owner Bandar Rokok Nusantara Global Grup (BARONG Grup), resmi mendeklarasikan PANCA AMPERA—Lima Amanat Petani Tembakau Madura–Nusantara. Sebuah seruan yang bukan hanya menggugah, tetapi juga menohok kebijakan yang dinilai tak berpihak pada rakyat kecil.
“Ini bukan sekadar aspirasi. Ini adalah suara dari bawah. Suara mereka yang selama ini bertahan dalam tekanan—petani, buruh, dan pengusaha kecil,” tegas Gus Lilur, Senin (13/4).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Deklarasi ini lahir dari realitas pahit yang selama bertahun-tahun membelit jutaan petani tembakau dan pelaku usaha rokok rakyat—terhimpit regulasi, ditekan biaya tinggi, dan kerap menjadi sasaran penegakan hukum yang dinilai tidak adil.
Jeritan Pertama: Hentikan Kriminalisasi
Dalam poin pertama, Gus Lilur menyoroti keras praktik penegakan hukum yang dinilai kerap menyasar pelaku usaha kecil.
Menurutnya, pengusaha rokok pribumi justru sering diposisikan seolah-olah pelaku utama pelanggaran, padahal mereka hanya berjuang untuk bertahan di tengah sistem yang rumit dan mahal.
“Jangan samakan mereka dengan jaringan besar. Mereka ini tulang punggung ekonomi rakyat,” ujarnya dengan nada tegas.
Peringatan Keras: Rokok Ilegal Harus Dihentikan
Namun di sisi lain, ia tidak memberi ruang bagi praktik ilegal. Rokok ilegal disebutnya sebagai ancaman serius yang merusak industri dan menggerus penerimaan negara.
Meski begitu, ia mengingatkan—penindakan yang salah arah justru bisa mematikan pelaku usaha legal yang sedang berusaha bangkit.
Tuntutan Tegas: Cukai Khusus untuk Rakyat
Sorotan tajam juga diarahkan pada kebijakan cukai yang dinilai tidak ramah terhadap UMKM.
Dengan suara penuh tekanan, Gus Lilur menuntut hadirnya skema cukai khusus bagi rokok rakyat—sebuah solusi yang diyakini mampu membuka jalan legal bagi pelaku kecil sekaligus menekan peredaran rokok ilegal.
“Kebijakan sekarang terlalu berat. Kalau tidak diubah, yang kecil akan terus terpinggirkan,” katanya.
Harapan Besar: KEK Tembakau Madura
Di tengah kegelisahan, muncul harapan besar: Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau Madura.
Bagi Gus Lilur, KEK bukan sekadar proyek—melainkan jalan keluar untuk mengangkat derajat Madura dari sekadar penghasil bahan baku menjadi pusat industri bernilai tinggi.
“Ini momentum. Kalau gagal, kita akan terus tertinggal,” ujarnya.
Pesan Terakhir: Negara Harus Hadir
Puncak dari PANCA AMPERA adalah satu pesan kuat: negara tidak boleh abai.
Petani tembakau—yang selama ini berada di garis paling rentan—harus menjadi prioritas utama. Tanpa kesejahteraan mereka, industri tembakau nasional disebut hanya berdiri di atas fondasi rapuh.
“Kalau petani jatuh, semuanya ikut runtuh,” tegasnya.
PANCA AMPERA kini bukan sekadar deklarasi. Ia menjelma menjadi simbol perlawanan, sekaligus harapan. Sebuah pengingat keras bahwa di balik riuhnya industri, ada jutaan suara yang selama ini nyaris tak terdengar—dan kini mulai menggema
Penulis : Anton








