SUMENEP, Jumat (17/6/2026) – Momentum Hari Lahir (Harlah) ke-66 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menjadi panggung penegasan peran strategis mahasiswa sebagai motor perubahan di tengah derasnya tantangan zaman.
Dalam peringatan penuh semangat tersebut, Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, menegaskan bahwa PMII bukan sekadar organisasi kemahasiswaan, melainkan kawah candradimuka yang telah melahirkan generasi kritis, tangguh, dan berdaya saing sejak berdiri pada 17 April 1960.
“Di usia ke-66 ini, PMII harus semakin kuat, tidak hanya dalam gagasan, tetapi juga dalam aksi nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk hadir di tengah berbagai persoalan rakyat. Mulai dari tekanan ekonomi, kesenjangan sosial, hingga tantangan di sektor pendidikan, semua membutuhkan sentuhan pemikiran dan aksi konkret dari kalangan muda intelektual.
Di tengah situasi yang kian kompleks, keberadaan mahasiswa dinilai menjadi harapan baru sebagai agen perubahan yang mampu menawarkan solusi, bukan sekadar kritik tanpa arah.
Lebih jauh, Bupati Fauzi mengajak seluruh kader PMII di Kabupaten Sumenep untuk tidak terjebak dalam wacana semata. Ia menekankan pentingnya gerakan yang menyentuh akar persoalan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.
“Harlah ini harus menjadi titik refleksi sekaligus energi baru untuk terus bergerak, mengabdi, dan menjaga nilai-nilai keislaman serta keindonesiaan,” ujarnya.
Ia pun menutup dengan penegasan yang menggugah, bahwa momentum ini bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan panggilan untuk bangkit dan membuktikan peran mahasiswa sebagai garda perubahan sejati.
“Ini adalah momentum untuk bangkit dan membuktikan bahwa mahasiswa adalah garda perubahan yang sesungguhnya,” pungkasnya.
Penulis : Redaksi








