SAMPANG, Detikzone.id – Proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) di Desa Sejati, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, terancam tidak selesai sesuai target. Hingga awal Juni 2026, progres fisik proyek baru mencapai 73 persen, sementara waktu pelaksanaan tersisa kurang dari tiga pekan. Selasa (02/5/2026).
Berdasarkan informasi pada papan proyek, pembangunan Sekolah Rakyat di Sampang merupakan bagian dari paket Pembangunan Sekolah Rakyat Provinsi Jawa Timur 1 yang mencakup lima daerah, yakni Surabaya, Gresik, Tuban, Sampang, dan Jombang.
Pekerjaan tersebut dikerjakan oleh Waskita–CAG KSO berdasarkan kontrak Nomor 560/SPK/Gs19.2/2025. Nilai kontrak keseluruhan paket mencapai Rp1,165 triliun yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2025–2026, dengan masa pelaksanaan selama 240 hari kalender dan masa pemeliharaan 360 hari kalender.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, pantauan Detikzone.id di lokasi proyek pada Senin (1/6/2026) menunjukkan sejumlah pekerjaan utama masih berlangsung. Para pekerja terlihat melakukan pengecoran struktur bangunan menggunakan crane, sementara pembangunan plengsengan di sisi barat kawasan juga belum rampung.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan kontraktor menyelesaikan proyek tepat waktu. Pasalnya, target penyelesaian proyek ditetapkan pada 20 Juni 2026, sedangkan progres fisik yang dicapai masih berada di angka 73 persen.
Project Manager Sekolah Rakyat Sampang dari PT Waskita Karya, Dimas Reza, mengakui progres pembangunan saat ini baru mencapai 73 persen.
“Sampai hari ini progresnya sudah 73 persen,” kata Dimas kepada Detikzone.id, Senin (1/6/2026).
Menurut Dimas, nilai pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Sampang berkisar antara Rp170 miliar hingga Rp200 miliar. Meski demikian, pihaknya tetap optimistis proyek dapat dituntaskan pada akhir Juni sehingga sebagian fasilitas belajar sudah bisa digunakan pada Juli 2026.
“Di Sampang dana nya kurang lebih sekitar Rp170 hingga Rp200 miliar dan ditargetkan selesai di akhir Juni. Sehingga pada bulan Juli ada kelas yang bisa digunakan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Sekolah Rakyat Sampang dirancang sebagai kawasan pendidikan terpadu yang mencakup jenjang SD, SMP, hingga SMA dengan kapasitas sekitar 1.000 siswa.
Fasilitas yang dibangun meliputi ruang kelas, asrama siswa, rumah susun guru, masjid, kantin, gedung serbaguna, lapangan upacara, serta sarana olahraga seperti lapangan sepak bola dan lapangan basket.
Dimas menyebut beberapa fasilitas telah selesai dikerjakan, di antaranya asrama putra-putri SMP dan SMA, kantin, lapangan sepak bola, serta akses jalan kawasan. Sementara itu, pembangunan gedung sekolah masih berada pada tahap struktur atas.
“Sejumlah pekerjaan yang sudah rampung meliputi pembangunan gedung asrama putra-putri SMP dan SMA, kantin, lapangan bola, dan akses kawasan. Sedangkan untuk gedung sekolah masih tahap struktur atas,” terangnya.
Untuk mengejar target penyelesaian, kontraktor mengerahkan 1.015 pekerja dan menerapkan sistem kerja lembur hingga larut malam.
“Saat ini kita kerja lembur sampai jam 12 malam, bahkan pengecoran juga dikerjakan sampai jam 02.00 dini hari. Prinsipnya kita tetap usahakan semua pekerjaan harus selesai tepat waktu,” pungkas Dimas.
Meski upaya percepatan terus dilakukan, capaian progres yang masih berada di angka 73 persen dengan sisa waktu sekitar 19 hari menjadi tantangan besar bagi kontraktor untuk membuktikan bahwa proyek bernilai ratusan miliar rupiah tersebut dapat selesai sesuai jadwal.
Penulis : Agus Junaidi








