KEDIRI – Puluhan ribu jamaah dari berbagai daerah di Indonesia memadati Kedhaton Gus Miek, Padepokan Loring Pasar Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, pada Sabtu (30/5/2026). Kehadiran massa ini dalam rangka menghadiri Majelis Semaan Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin Moloekatan, sekaligus memperingati Haul Eksklusif KH Chamim Djazuli (Gus Miek) ke-34 dan Ibu Nyai Hj. Lilik Suyati ke-7.
Acara sakral ini dihadiri oleh para tamu kehormatan, termasuk dzurriyat (keturunan) dari ulama kharismatik KH. Ahmad Djazuli Usman, serta para tokoh agama dan masyarakat.
Dalam tausiyahnya di hadapan puluhan ribu hadirin, KH. Tijani Robert Saifunnawas, yang akrab disapa Mbah Gus Robert, menegaskan pentingnya keberadaan majelis tersebut. Ia menyebut majelis Semaan Al-Qur’an sebagai salah satu bentuk “pertamanan surga” di dunia, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mbah Gus Robert menguraikan kembali esensi dan tujuan mendalam dari gerakan praktikum amaliah Semaan Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin yang diinisiasi oleh sang ayah, Gus Miek.
“Apa tujuan Gus Miek mendirikan kegiatan praktikum seperti ini? Tujuannya adalah untuk membentuk pribadi yang mau koreksi sampai menjadi orang yang tahu diri, belajar mengenal dirinya sendiri sampai kita bisa mengenal Allah,” ujar Mbah Gus Robert.
Ia juga mengingatkan para jamaah untuk senantiasa meyakini mukjizat Al-Qur’an, terutama perihal syafaat (pertolongan) di hari kiamat kelak. Menurutnya, Al-Qur’an akan berwujud menjadi sosok makhluk yang sangat indah untuk menolong orang-orang yang mencintai dan memuliakannya semasa di dunia.
“Baik yang lancar membaca Al-Qur’an maupun yang belum bisa membaca namun memiliki kecintaan besar terhadapnya, esok di hari kiamat sama-sama akan mendapat pertolongan dan syafaat,” tambahnya.
Selain Al-Qur’an, amalan lain seperti puasa wajib maupun sunnah (Senin-Kamis, puasa Daud, dan puasa Dahran) juga disebut akan menjadi penolong manusia.
Untuk memperkuat pesan mengenai kekuatan spiritual Al-Qur’an sebagai penenang jiwa, Mbah Gus Robert membagikan sebuah kisah sejarah mengenai Presiden pertama RI, Ir. Soekarno (Bung Karno), saat diasingkan oleh Belanda ke Sumatera Utara sekitar tahun 1948–1949.
Dikisahkan, Bung Karno sempat merasa cemas sebagai manusia biasa setelah menerima informasi dari juru masaknya bahwa ada rencana pembunuhan terhadap dirinya keesokan hari. Dalam situasi genting tersebut, Bung Karno mengambil air wudhu dan meraih Al-Qur’an kecil yang selalu dibawanya.
Sembari memejamkan mata, Bung Karno membuka dan menunjuk salah satu ayat, yang ternyata jatuh pada Surat Al-An’am ayat 117. Setelah membaca ayat tersebut, hati Bung Karno seketika menjadi tenang. Beliau kemudian memeluk erat Al-Qur’an tersebut seraya bergumam mengagumi kebesaran firman Allah yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW, serta merasa dirinya sangat kecil di hadapan Sang Penyusun Takdir.
Selain kisah Bung Karno, Mbah Gus Robert juga menceritakan kisah penuh hikmah dari zaman sahabat Rasulullah, Abdullah bin Mas’ud, yang tercatat dalam lembaran riwayat hadis.
Saat sedang dalam perjalanan di wilayah Kufah, Irak, Abdullah bin Mas’ud mendengar suara nyanyian sayup-sayup dari kejauhan. Ketika mendatangi sumber suara—yang diibaratkan seperti tempat hiburan malam atau diskotik pada zaman sekarang—ia mendapati seorang pemusik bernama Zadzan sedang bernyanyi dengan suara yang sangat merdu sembari memainkan alat musik banjo.
Mendengar keindahan suara tersebut, Abdullah bin Mas’ud bergumam lirih dalam hati, berpikir betapa indahnya jika suara sebadai itu dipergunakan untuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Rupanya, bisikan lirih sang sahabat terdengar oleh Zadzan. Nyanyian seketika berhenti, banjo diletakkan, dan Zadzan turun dari panggung untuk mencari tahu siapa yang berbicara.
Setelah mengetahui bahwa sosok tersebut adalah sahabat karib Rasulullah SAW, Allah SWT langsung mengalirkan rasa takut dan penyesalan ke dalam hati Zadzan. Pemusik itu seketika membuang alat musiknya, lalu berlari memeluk Abdullah bin Mas’ud sambil menangis tersedu-sedu.
Sambil ikut menangis, Abdullah bin Mas’ud kemudian berkata, “Bagaimana aku tidak senang kepada orang yang disenangi oleh Allah?” Sejak momentum tersebut, Zadzan bertobat total dan mengangkat diri menjadi murid setia sahabat Abdullah bin Mas’ud.
Menjelang akhir tausiyahnya, Mbah Gus Robert memberikan refleksi mendalam mengenai hakikat kehidupan. Ia menyentil kecenderungan manusia modern yang teramat sering merencanakan masa depan jangka panjang untuk urusan duniawi, namun abai terhadap masa depan akhirat yang kekal.
Secara manusiawi, ia menilai wajar jika manusia berpikir keras untuk masa depan dunianya, tetapi ia mengingatkan agar porsi pemikiran untuk akhirat tidak boleh dilupakan. Dalam konteks ini, ia mengutip kata-kata bijak Bung Karno mengenai pentingnya belajar dari sejarah.
“Saya teringat pada kata-kata bijak Bung Karno: ‘Janganlah melihat masa depan dengan mata buta, masa lampau berguna sekali menjadi kaca benggala daripada masa yang akan datang.’ Nah, kalau panjenengan semua, tetap harus mendahulukan memikirkan dan merencanakan masa depan untuk akhirat,” pesan Mbah Gus Robert.
Menutup tausiyahnya yang sarat akan makna spiritual, Mbah Gus Robert mengajak seluruh jamaah untuk menanamkan keyakinan seyakin-yakinnya bahwa akhirat adalah tujuan akhir yang sesungguhnya, karena di sanalah manusia akan menjalani kehidupan yang abadi tanpa batas waktu.
Acara haul eksklusif yang berlangsung khidmat ini berjalan dengan tertib hingga usai, mencerminkan kuatnya tali silaturahmi dan spiritualitas yang terus terjaga di kalangan jamaah Dzikrul Ghofilin dan Semaan Al-Qur’an Moloekatan.
Penulis : Purwasis








