Kediri- Masyarakat Kota Kediri belakangan ini merasakan suhu udara yang lebih dingin dibandingkan biasanya, terutama pada malam hingga pagi hari. Fenomena yang dikenal dengan istilah bediding tersebut merupakan kondisi yang wajar terjadi saat musim kemarau.
Joko Arianto, Kepala Pelaksana BPBD Kota Kediri, menjelaskan bahwa wilayah Kediri Raya dan sebagian besar wilayah Jawa Timur saat ini sedang mengalami fenomena bediding, yakni penurunan suhu udara secara drastis yang menyebabkan udara terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari.
“Fenomena ini merupakan hal yang wajar karena wilayah Jawa Timur telah memasuki musim kemarau sejak bulan Mei. Penyebab utamanya adalah aliran angin timuran yang membawa massa udara dingin dan kering dari Australia menuju Indonesia,” jelas Joko.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, karakteristik udara yang dingin dan kering tersebut mengurangi pembentukan awan. Akibatnya, panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari lebih cepat dilepaskan ke atmosfer pada malam hari tanpa terhalang lapisan awan, sehingga suhu udara menjadi lebih rendah.
Pihaknya telah berkoordinasi dengan BMKG Dhoho Kediri yang memprediksi fenomena bediding akan berlangsung sepanjang musim kemarau, yakni sekitar bulan Mei hingga September. Selain menyebabkan suhu udara lebih dingin, fenomena ini juga berdampak pada menurunnya kelembapan udara dan meningkatnya kecepatan angin.
“Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kulit kering, meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), serta memperbesar potensi terjadinya kebakaran lahan maupun kebakaran akibat kelalaian manusia,” ujarnya.
Untuk itu, Joko mengimbau masyarakat agar menjaga kondisi kesehatan selama fenomena bediding berlangsung. Masyarakat disarankan menggunakan pakaian yang lebih hangat saat malam hingga pagi hari, memperbanyak konsumsi air putih untuk menjaga kecukupan cairan tubuh, serta menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
BPBD Kota Kediri juga telah melakukan berbagai langkah antisipasi bersama sejumlah perangkat daerah. Bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), BPBD melakukan koordinasi terkait potensi dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian. DKPP telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi, salah satunya dengan melakukan penyesuaian pola tanam dan pola panen guna mengurangi risiko gagal panen.
Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan PDAM Tirta Dhaha untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kekeringan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah meningkatkan kapasitas beberapa titik sumur bor yang dapat dimanfaatkan apabila terjadi kekurangan pasokan air bersih.
Di sektor kesehatan, BPBD berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang berpotensi muncul selama fenomena bediding berlangsung. Sementara itu, informasi perkembangan cuaca terkini dari BMKG secara rutin diteruskan kepada DKPP dan Dinas Kesehatan sebagai bahan antisipasi dan penanganan.
Joko juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran dengan tidak membuang puntung rokok sembarangan serta tidak melakukan pembakaran sampah di lahan terbuka. “Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuang rokok sembarangan dan tidak membakar sampah karena dapat memicu kebakaran. Seluruh instansi terkait sudah siap menjalankan tugas dan fungsi masing-masing untuk mengantisasi dampak musim kemarau dan fenomena bediding ini,” tegasnya.
Apabila masyarakat menemukan kondisi darurat atau membutuhkan bantuan terkait dampak musim kemarau, masyarakat dapat menghubungi layanan darurat Lapor Mbak Wali 112 yang akan meneruskan laporan kepada instansi terkait untuk penanganan lebih lanjut.
Penulis : Purwasis








