Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2023, jumlah penderita Penyakit Ginjal Kronik (PGK) di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 600.000–700.000 jiwa. Prevalensi nasional berada pada angka 0,38% dari total penduduk, dengan hipertensi dan diabetes melitus sebagai penyebab utama.
Fenomena urin berbusa sering menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. Namun, tidak semua urin berbusa menandakan adanya penyakit ginjal. Dalam banyak kasus, kondisi ini dapat terjadi secara normal akibat faktor-faktor fisik yang umum ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Kapan Urin Berbusa Masih Dianggap Normal?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara normal, urin dapat berbusa ketika tertahan cukup lama di dalam kandung kemih sehingga aliran urin menjadi lebih deras saat dikeluarkan. Tekanan aliran yang tinggi ini dapat menghasilkan gelembung atau busa di permukaan urin.
Selain itu, beberapa faktor lain juga dapat menyebabkan urin berbusa tanpa adanya gangguan kesehatan, seperti:
Sisa sabun atau cairan pembersih toilet yang masih terdapat di dalam kloset.
Dehidrasi ringan.
Sisa sperma yang masih bercampur dengan urin setelah ejakulasi.
Aktivitas olahraga yang terlalu intens.
Demam.
Paparan suhu tubuh yang sangat rendah.
Efek samping obat-obatan tertentu.
Dehidrasi
Dehidrasi merupakan salah satu penyebab paling umum urin berbusa. Kondisi ini terjadi ketika tubuh kekurangan cairan sehingga urin menjadi lebih pekat.
Selain urin berbusa, gejala dehidrasi dapat berupa:
Sering merasa haus.
Tubuh terasa lemas.
Warna urin lebih gelap.
Bau urin lebih menyengat.
Efek Samping Obat-obatan
Beberapa jenis obat dapat menyebabkan urin berbusa sebagai efek samping sementara. Salah satunya adalah Phenazopyridine, obat yang sering digunakan untuk meredakan nyeri saluran kemih. Namun, efek ini umumnya tidak berlangsung lama dan akan hilang setelah penggunaan obat dihentikan.
Urin Berbusa pada Penyakit Ginjal
Meskipun sering kali tidak berbahaya, urin berbusa yang terjadi terus-menerus perlu diwaspadai karena dapat menjadi tanda adanya gangguan ginjal, terutama kondisi yang disebut proteinuria.
1. Proteinuria
Proteinuria adalah kondisi ketika terdapat kadar protein yang berlebihan di dalam urin.
Pada orang sehat, ginjal hanya membiarkan protein masuk ke urin dalam jumlah sangat kecil, yaitu kurang dari 150 mg per hari. Sebagian besar protein yang disaring oleh ginjal akan diserap kembali ke dalam tubuh.
Apabila kadar protein dalam urin meningkat melebihi batas normal, kondisi tersebut dapat menandakan adanya gangguan pada:
Filtrasi glomerulus.
Reabsorpsi tubulus.
Produksi protein berlebih dalam tubuh.
Protein yang keluar bersama urin dapat menimbulkan busa yang lebih banyak dan bertahan lebih lama dibandingkan urin berbusa akibat faktor fisik biasa.
2. Faktor-Faktor Penyebab Proteinuria
Dua penyebab utama proteinuria adalah:
Diabetes melitus.
Hipertensi (tekanan darah tinggi).
Selain itu, proteinuria juga dapat dipicu oleh beberapa kondisi lain, antara lain:
Amiloidosis.
Penyakit jantung.
Gagal jantung.
Infeksi ginjal.
Malaria.
Artritis reumatoid.
Memahami faktor-faktor risiko tersebut penting agar seseorang dapat melakukan pemeriksaan dan penanganan secara dini.
Gejala Proteinuria
Selain urin berbusa yang menetap, penderita proteinuria dapat mengalami gejala-gejala berikut:
Pembengkakan (edema) pada tangan, kaki, wajah, atau perut.
Frekuensi buang air kecil meningkat.
Sesak napas.
Mudah lelah.
Kehilangan nafsu makan.
Mual dan muntah.
Nyeri perut.
Kram otot pada malam hari.
Apabila gejala-gejala tersebut muncul bersamaan dengan urin berbusa yang berlangsung lama, pemeriksaan medis sangat dianjurkan.
3. Diagnosis dan Pencegahan Proteinuria
Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis proteinuria, dokter biasanya akan melakukan:
Pemeriksaan Urin (Urinalisis)
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kadar protein yang terdapat dalam urin.
Pemeriksaan Tambahan
Jika ditemukan protein berlebih atau dicurigai adanya gangguan ginjal, dokter dapat menyarankan pemeriksaan lanjutan berupa:
Tes darah.
Ultrasonografi (USG).
CT Scan.
Pemeriksaan fungsi ginjal lainnya sesuai kebutuhan.
Pencegahan
Pencegahan utama proteinuria adalah menjaga kesehatan ginjal dan mengendalikan faktor-faktor risiko yang dapat merusak ginjal.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Menjaga tekanan darah tetap normal.
Mengendalikan kadar gula darah.
Minum air putih yang cukup.
Menghindari penggunaan obat-obatan yang dapat merusak ginjal tanpa pengawasan dokter.
Tidak merokok.
Membatasi konsumsi minuman beralkohol.
Menjaga berat badan ideal.
Berolahraga secara teratur.
Menerapkan pola makan sehat dan seimbang.
Kesimpulan
Urin berbusa tidak selalu menandakan adanya penyakit ginjal. Dalam banyak kasus, kondisi ini dapat terjadi akibat faktor fisik seperti dehidrasi, aliran urin yang deras, olahraga berat, atau efek samping obat-obatan tertentu.
Namun, apabila urin berbusa terjadi secara terus-menerus, disertai pembengkakan tubuh, mudah lelah, atau gejala lain yang mengarah pada gangguan ginjal, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat menjadi tanda proteinuria, yaitu keluarnya protein berlebih melalui urin akibat gangguan fungsi ginjal.
Deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan serta penerapan pola hidup sehat merupakan langkah penting untuk mencegah kerusakan ginjal yang lebih berat di kemudian hari.
Referensi
KDIGO. KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease. Kidney Int. 2024;105(Suppl):S1–S150.
Jameson JL, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Longo DL, Loscalzo J. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 22nd ed. New York: McGraw-Hill Education; 2025.
Hall JE. Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. 15th ed. Philadelphia: Elsevier; 2025.
Alodokter. Air Kencing Berbusa, Kenali Penyebab dan Langkah Penanganannya. 2024.
Siloam Hospitals. Proteinuria: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan. 2024.
HonestDocs Editorial Team. Penyebab Air Kencing Berbusa dan Pengobatannya. 2019 (diperbarui 2020).
Data Penulis
Nabil Hidayat (030002500098)
Mahasiswa Program Studi Kedokteran, Universitas Trisakti
Email: 030002500098@std.trisakti.ac.id
Rafa Callysta Praneda (030002500102)
Mahasiswa Program Studi Kedokteran, Universitas Trisakti
Email: 030002500102@std.trisakti.ac.id








