SUMENEP, Semangat pelestarian budaya kembali bergema di pesisir utara Kabupaten Sumenep. Di bawah sorotan lampu panggung dan di hadapan ribuan pasang mata, puluhan siswa-siswi SDN Pasongsongan I tampil memukau dalam Festival Paseser Pasongsongan Paseser Patongtongan 2026 yang digelar di kawasan Pelabuhan Pasongsongan, Minggu (21/6/2026) malam.
Meski masih duduk di bangku sekolah dasar, para pelajar dari kelas 1 hingga kelas 6 itu mampu menunjukkan kemampuan luar biasa saat membawakan dua sajian seni tradisional, yakni musik gamelan dan Tari Tongtong, secara bergantian. Penampilan mereka sukses mencuri perhatian masyarakat yang memadati lokasi festival.
Alunan gamelan yang dimainkan dengan penuh kekompakan membuka pertunjukan malam itu. Denting alat musik tradisional khas Madura mengalun merdu, menghadirkan nuansa budaya yang begitu kental di kawasan pesisir Pasongsongan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Suasana kemudian berubah semakin semarak saat kelompok Tari Tongtong memasuki panggung. Dengan gerakan yang energik, kompak, dan penuh percaya diri, para siswa berhasil membakar semangat penonton. Tepuk tangan dan sorak sorai terus mengiringi setiap gerakan mereka hingga penampilan berakhir.
Pergantian antara sajian gamelan dan Tari Tongtong menjadi daya tarik tersendiri. Penonton dibuat terpukau oleh kemampuan para pelajar yang mampu menghidupkan panggung festival melalui penampilan seni tradisional yang sarat makna.
Kepala SDN Pasongsongan I, Mariyatul Qiptiyah, mengaku bangga atas penampilan anak didiknya yang telah berlatih selama beberapa pekan sebelum tampil pada festival budaya tersebut.
“Kami sangat bersyukur dan bangga. Anak-anak menunjukkan semangat yang luar biasa sejak latihan hingga pelaksanaan. Mereka berasal dari kelas 1 sampai kelas 6, tetapi mampu tampil kompak dan percaya diri,” ujarnya.
Menurutnya, keikutsertaan para siswa bukan sekadar mengisi rangkaian acara, melainkan bagian dari pendidikan karakter yang berbasis pada pelestarian budaya daerah.
“Anak-anak perlu mengenal budayanya sendiri sejak dini. Melalui kegiatan seperti ini, mereka belajar disiplin, kerja sama, tanggung jawab, sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan budaya leluhur,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporpar) Kabupaten Sumenep, Faruk Hanafi, mengaku bangga melihat antusiasme generasi muda yang tampil membawakan seni budaya daerah pada Festival Paseser Pasongsongan Paseser Patongtongan 2026.
Menurutnya, penampilan puluhan siswa SDN Pasongsongan I menjadi bukti nyata bahwa upaya regenerasi pelaku seni tradisional di Kabupaten Sumenep berjalan dengan baik. Anak-anak tidak hanya mampu tampil percaya diri di atas panggung, tetapi juga memperlihatkan kecintaan terhadap budaya yang diwariskan para leluhur.
“Kami sangat mengapresiasi penampilan adik-adik dari SDN Pasongsongan I. Di usia yang masih sangat muda, mereka sudah berani tampil membawakan gamelan dan Tari Tongtong dengan sangat baik. Ini menunjukkan bahwa budaya kita masih memiliki penerus yang akan menjaga dan melestarikannya di masa depan,” ujar Faruk.
Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui Disbudporpar akan terus memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan bakat dan kecintaannya terhadap seni budaya lokal melalui berbagai festival dan kegiatan kebudayaan.
“Festival seperti ini bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga sarana pendidikan budaya. Anak-anak belajar mengenal identitas daerahnya, menghargai warisan leluhur, membangun rasa percaya diri, disiplin, kerja sama, sekaligus menumbuhkan karakter yang kuat melalui proses latihan dan pertunjukan,” katanya.
Faruk berharap sekolah-sekolah di Kabupaten Sumenep terus aktif mengembangkan kegiatan seni tradisional sebagai bagian dari pendidikan karakter.
“Kami ingin semakin banyak sekolah yang memiliki kelompok seni tradisional. Jika sejak kecil anak-anak sudah mencintai budayanya sendiri, maka mereka akan tumbuh menjadi generasi yang bangga terhadap jati diri daerahnya. Inilah investasi budaya yang paling berharga bagi masa depan Sumenep,” tuturnya.
Ia menambahkan, Festival Paseser menjadi salah satu bukti komitmen Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal agar tetap hidup, berkembang, dan mampu menjadi daya tarik wisata budaya.
“Budaya tidak boleh hanya menjadi cerita masa lalu. Budaya harus hidup di tengah masyarakat, dimainkan, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Ketika anak-anak tampil seperti malam ini, kami optimistis masa depan kebudayaan Sumenep akan tetap terjaga,” pungkas Faruk.
Penulis : Red







