SUMENEP, Selasa, 23/6/2026 – Semangat kepedulian sosial kembali ditunjukkan oleh Detikzone.id melalui Program Berbagi Setiap Hari yang kini memasuki hari ke-23. Pada kesempatan ini, gerakan kemanusiaan tersebut menyasar kaum dhuafa di pelosok Kabupaten Sumenep, termasuk seorang warga pengidap kanker payudara yang tengah berjuang menjalani proses pemulihan pasca operasi dan harus melanjutkan pengobatan lanjutan berupa kemoterapi.
Salah satu penerima manfaat dalam kegiatan ini adalah Maskina, warga Desa Jadung, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep. Kondisinya menjadi perhatian khusus tim setelah diketahui bahwa ia tidak hanya harus menghadapi penyakit berat, tetapi juga keterbatasan biaya serta akses untuk menjalani pengobatan rutin ke fasilitas kesehatan.
Melihat kondisi tersebut, Detikzone.id tidak hanya hadir menyalurkan bantuan, tetapi juga menyatakan komitmen untuk mengawal proses pengobatan Maskina, termasuk membantu kebutuhan transportasi antar jemput selama masa kemoterapi berlangsung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi keluarga, bantuan ini menjadi secercah harapan di tengah kondisi yang serba terbatas. Di saat beban ekonomi dan kesehatan datang bersamaan, perhatian seperti ini menjadi kekuatan moral yang sangat berarti untuk terus bertahan.
Program Berbagi Setiap Hari yang digagas Detikzone.id sendiri telah menjadi gerakan konsisten yang menyapa masyarakat kecil di berbagai pelosok Sumenep. Tidak hanya fokus pada satu jenis penerima manfaat, program ini bergerak menyentuh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari dhuafa, lansia, pekerja rentan, hingga warga yang sedang menghadapi musibah maupun penyakit berat.
CEO Detikzone.id, Igusty Madani, menegaskan bahwa program ini tidak sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk nyata kepedulian yang berkelanjutan terhadap masyarakat yang membutuhkan.
“Banyak saudara kita yang sedang berjuang dalam diam, termasuk mereka yang sedang sakit dan harus menjalani pengobatan jangka panjang. Karena itu, kami tidak hanya berhenti pada bantuan sesaat, tetapi juga berusaha hadir dalam proses pendampingan, termasuk membantu kebutuhan transportasi dan kebutuhan dasar lainnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, Program Berbagi Setiap Hari lahir dari kesadaran bahwa masih banyak masyarakat yang berada dalam kondisi sulit dan membutuhkan perhatian nyata, bukan sekadar empati dari kejauhan.
“Ini adalah ikhtiar kecil kami untuk menjadi jembatan kebaikan. Semoga apa yang dilakukan ini bisa meringankan beban mereka yang sedang berjuang melawan sakit dan keterbatasan,” tegasnya.
“Saya persembahkan program ini untuk keluarga saya tercinta serta orang-orang baik yang selama ini tidak pernah berhenti memberikan dukungan, doa, dan semangat dalam setiap langkah perjuangan ini. Tanpa mereka, gerakan ini tidak akan mampu berjalan sejauh ini,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh program sosial yang dijalankan tidak lahir dari keinginan untuk mencari popularitas, melainkan dari keyakinan bahwa media harus hadir sebagai bagian dari solusi di tengah masyarakat.
Menurutnya, jurnalisme tidak cukup hanya memberitakan persoalan sosial, tetapi juga harus ikut mengambil peran dalam membantu meringankan beban masyarakat yang membutuhkan.
Ia berujar, Media tidak boleh hanya menjadi penonton.
“Kami ingin menjadi bagian dari kebaikan itu sendiri. Sekecil apa pun bantuan yang diberikan, semoga bisa menghadirkan manfaat dan menjadi penyambung harapan bagi mereka yang sedang kesulitan,” tambahnya.
Selain menyasar pasien dhuafa pengidap kanker payudara, Detikzone.id juga secara konsisten menjalankan berbagai program sosial lainnya, seperti santunan dhuafa, bantuan kesehatan, ambulans gratis, rumah singgah gratis, bantuan pendidikan, pembagian sembako, khitanan massal, hingga aksi kemanusiaan insidental di berbagai daerah.
Program ini juga menjadi bagian dari gerakan sosial yang lebih luas, yang tidak hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga menguatkan nilai gotong royong, kepedulian, dan solidaritas di tengah masyarakat.
Hari ke-23 Program Berbagi Setiap Hari ini kembali menjadi pengingat bahwa di balik kehidupan yang tampak biasa, masih banyak perjuangan sunyi yang membutuhkan sentuhan kepedulian. Di tengah rasa sakit, keterbatasan ekonomi, dan jarak ke layanan kesehatan, hadirnya uluran tangan menjadi cahaya kecil yang mampu menghidupkan harapan untuk terus bertahan.
Penulis : Red








