SUMENEP, Sabtu (27/6/2026) – Hari berganti, tetapi langkah kemanusiaan tak pernah berhenti. Memasuki hari ke-27 Program Berbagi Setiap Hari, Detikzone.id kembali turun langsung ke jalan-jalan Kota Sumenep untuk melanjutkan dakwah kemanusiaan. Kali ini, kepedulian diarahkan kepada para pekerja rentan yang selama ini menjadi pejuang kehidupan, namun sering luput dari perhatian.
Abang becak, pemulung, pedagang keliling, hingga para jompo yang masih harus bekerja di usia senja menjadi sasaran aksi berbagi hari ini. Tim Detikzone.id menyusuri pangkalan becak, sudut-sudut pasar, ruas jalan protokol, hingga gang-gang kecil untuk menyapa mereka satu per satu.
Di bawah terik matahari, para abang becak tetap sabar menunggu penumpang yang belum tentu datang. Para pemulung memanggul karung lusuh berisi barang bekas demi mendapatkan rupiah untuk keluarganya. Pedagang keliling terus berjalan menawarkan dagangan dari kampung ke kampung, sementara para jompo masih berusaha mencari nafkah meski tenaga mereka tak lagi sekuat dulu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka adalah wajah-wajah ketabahan yang setiap hari mengajarkan arti perjuangan. Penghasilan yang tidak menentu tak pernah mematahkan semangat mereka untuk mencari rezeki dengan cara yang halal. Dari hasil yang terkadang hanya cukup untuk membeli kebutuhan pokok, mereka tetap bertahan dengan penuh kesabaran.
Sebagai bentuk kepedulian, Detikzone.id kembali membagikan beras serta santunan uang tunai kepada para pekerja rentan tersebut. Bantuan itu diharapkan mampu meringankan beban ekonomi sekaligus menjadi pengingat bahwa masih banyak hati yang peduli terhadap perjuangan masyarakat kecil.
Suasana haru pun menyelimuti setiap lokasi pembagian. Sejumlah penerima tampak menitikkan air mata saat menerima bantuan. Ada yang berkali-kali mengucapkan syukur, ada yang memanjatkan doa untuk seluruh tim Detikzone.id, bahkan ada yang hanya mampu tersenyum sambil menggenggam erat bingkisan beras yang diterimanya.
Bagi mereka, perhatian dan sapaan hangat sering kali lebih berharga daripada besarnya nilai bantuan. Sebab di balik kerasnya kehidupan, mereka hanya ingin dihargai sebagai manusia yang terus berjuang dengan cara yang jujur dan bermartabat.
Pimpinan Redaksi Detikzone.id, Igusty Madani, mengatakan bahwa Program Berbagi Setiap Hari merupakan bagian dari dakwah kemanusiaan yang lahir dari keyakinan bahwa media tidak boleh hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Abang becak, pemulung, pedagang keliling, hingga para jompo adalah pejuang kehidupan. Mereka mungkin tidak memiliki jabatan, tidak dikenal banyak orang, tetapi mereka bekerja keras dengan cara yang halal. Mereka layak dihormati, dihargai, dan mendapatkan perhatian,” ujarnya.
Menurutnya, selama 27 hari berturut-turut, Program Berbagi Setiap Hari telah menjangkau berbagai kelompok masyarakat. Mulai dari anak yatim, kaum dhuafa, lansia sebatang kara, masyarakat pelosok desa, pekerja harian, hingga kini para pekerja rentan yang setiap hari berjuang di jalanan.
Selain program berbagi harian, Detikzone.id juga terus menjalankan berbagai program kemanusiaan lainnya, seperti santunan anak yatim dan dhuafa, bantuan kesehatan, layanan ambulans gratis, rumah singgah gratis bagi keluarga pasien, bantuan pendidikan, pembagian sembako, bantuan bagi korban bencana, pembangunan dan renovasi Musala Umat, hingga berbagai aksi sosial insidental lainnya. Seluruh program tersebut menjadi bagian dari dakwah kemanusiaan yang terus digelorakan agar mampu menghadirkan manfaat nyata sekaligus menumbuhkan semangat gotong royong di tengah masyarakat.
Menurut Igusty, jurnalisme sejati tidak boleh berhenti pada aktivitas memberitakan. Media harus hadir di tengah masyarakat, mendengar keluh kesah mereka, sekaligus menjadi bagian dari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat kecil.
“Kadang yang dibutuhkan seseorang bukan hanya bantuan materi. Mereka juga ingin dihargai, ingin didengar, dan ingin mengetahui bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia. Karena itu kami hadir bukan sekadar memberi, tetapi juga menyapa dan mendengarkan mereka,” katanya.
Ia menambahkan, perjalanan panjang dakwah kemanusiaan tersebut tidak mungkin dapat berjalan tanpa dukungan keluarga, sahabat, relasi kerja, serta orang-orang baik yang selama ini selalu memberikan kepercayaan dan doa.
“Saya persembahkan ikhtiar ini untuk keluarga saya tercinta, serta orang-orang baik dan seluruh relasi kerja yang selama ini mengelilingi saya. Mereka seakan tidak pernah berhenti memberikan doa, dukungan, semangat, dan kepercayaan dalam setiap langkah perjuangan ini. Tanpa mereka, mungkin Program Berbagi Setiap Hari tidak akan mampu berjalan hingga hari ke-27 dan terus berlanjut seperti hari ini,” ungkapnya.
Ia berharap gerakan sederhana yang terus dilakukan Detikzone.id mampu menginspirasi lebih banyak masyarakat untuk ikut menebarkan kepedulian kepada sesama.
“Berbagilah walau dalam keadaan paceklik sekalipun. Sebab keajaiban tidak datang kepada mereka yang hanya menunggu. Keajaiban lahir dari tangan-tangan yang mau memberi, dari hati yang mau peduli, dan dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas. Karena sesungguhnya sekecil apa pun kebaikan akan selalu menemukan jalannya untuk menjadi manfaat bagi orang lain,” tuturnya.
Selama 27 hari tanpa jeda, Detikzone.id telah membuktikan bahwa jurnalisme bukan hanya tentang menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan aksi nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. Dari anak yatim yang kehilangan kasih sayang orang tua, kaum dhuafa, lansia sebatang kara, masyarakat pelosok, hingga para pekerja rentan seperti abang becak, pemulung, pedagang keliling, dan jompo, seluruhnya menjadi bagian dari perjalanan panjang dakwah kemanusiaan yang terus dijalankan dengan penuh keikhlasan.
Di tengah riuhnya kendaraan yang berlalu-lalang di jalan-jalan Kota Sumenep, masih banyak pejuang kehidupan yang berjuang dalam diam. Mereka mungkin tak pernah menjadi berita utama, tetapi mereka adalah orang-orang yang mengajarkan arti kesabaran, kejujuran, dan kerja keras.
Dan pada hari ke-27 ini, Detikzone.id kembali memilih hadir di sisi mereka. Sebab dakwah kemanusiaan bukan sekadar tentang memberi bantuan, melainkan memastikan bahwa tak ada perjuangan hidup yang merasa sendirian. Karena ketika media hadir bersama rakyat, jurnalisme menemukan makna tertingginya: menjadi cahaya yang menerangi mereka yang selama ini nyaris tak terlihat.
Penulis : Red








