SUMENEP – Ada kalanya sebuah sekolah tidak hanya menjadi tempat anak-anak belajar membaca dan berhitung. Ada kalanya pula seorang kepala sekolah tidak sekadar memimpin proses pendidikan, tetapi hadir sebagai penyambung harapan bagi masyarakat di sekitarnya.
Kisah itulah yang kini mengalir dari SDN Panaongan III, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep.
Di balik sosok Agus Sugianto, S.Pd, kepala sekolah yang dikenal luas dengan blangkon Madura yang hampir tak pernah lepas dari kepalanya, tersimpan kepedulian yang melampaui batas ruang kelas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perhatian Agus tertuju kepada Irsya, seorang bocah yang tinggal di sekitar sekolah. Sejak dilahirkan, kedua kaki Irsya mengalami kelainan sehingga ia belum pernah merasakan nikmatnya berjalan seperti anak-anak lain. Untuk berpindah tempat, ia harus mengandalkan kedua tangannya dengan cara mengesot di atas tanah.

Bagi sebagian orang, kondisi itu mungkin hanya menjadi cerita yang lewat begitu saja. Namun bagi Agus Sugianto, setiap anak berhak memiliki kesempatan untuk menatap masa depan dengan lebih baik.
“Saya tidak ingin hanya merasa kasihan. Saya ingin mencari jalan keluar,” tutur Agus.
Keyakinan itu kemudian membawanya membangun kolaborasi.
Ia menghubungi Deny Puja Pranata, TikToker dan kreator konten yang akrab disapa Mana-mana. Tanpa berpikir panjang, Deny turut bergerak. Melalui jejaring kemanusiaan yang dimilikinya, ia menghubungkan Agus Sugianto dengan seorang dermawan asal Sumenep yang kini menetap di Kabupaten Pamekasan, Bang Ali Zainal Abidin.
Kebaikan rupanya memang senang mencari teman.
Bang Ali segera menyatakan kesediaannya membantu seluruh proses pembuatan kaki palsu untuk Irsya.
Momentum yang dinanti akhirnya tiba pada Rabu, 22 Juli 2026.
Utusan Bang Ali datang langsung ke SDN Panaongan III menjemput Irsya bersama ibunya, Devi. Agus Sugianto memilih ikut mendampingi perjalanan tersebut menuju Klinik Assalamah Pamekasan, tempat Irsya menjalani pengukuran kaki oleh tenaga ahli pembuat kaki palsu yang didatangkan dari Surabaya.
Di ruang pemeriksaan, suasana berubah menjadi sangat mengharukan.
Tubuh kecil Irsya dibaringkan di atas dipan. Dengan penuh ketelitian, satu per satu ukuran kakinya dicatat sebagai langkah awal menuju pembuatan kaki palsu.
Tak jauh dari tempat itu, sang ibu hanya mampu memandang dalam diam.
Matanya berkaca-kaca.
Air mata yang selama bertahun-tahun menjadi saksi perjuangannya, hari itu berubah menjadi air mata harapan.
“Saya tidak pernah menyangka anak saya akan mendapatkan perhatian sebesar ini,” ucap Devi lirih.
Dengan suara bergetar, ia mengucapkan terima kasih kepada Bang Ali Zainal Abidin, Dokter Atika beserta tim Klinik Assalamah, Deny Puja Pranata, dan Agus Sugianto yang telah menjadi jalan datangnya pertolongan bagi putra semata wayangnya.
“Semoga Allah membalas semua kebaikan mereka. Saya hanya bisa mendoakan, semoga semua selalu diberi kesehatan dan keberkahan,” katanya.
Bagi Agus Sugianto, perjalanan menuju Pamekasan bukanlah sekadar mengantar seorang anak menjalani pemeriksaan medis.
Baginya, perjalanan itu adalah pengingat bahwa sekolah memiliki tanggung jawab sosial yang jauh lebih luas daripada sekadar mencetak nilai akademik.
“Kami mendidik anak-anak di sekolah, tetapi kami juga hidup bersama masyarakat. Kalau ada warga yang membutuhkan dan kita mampu menjadi penghubung sebuah kebaikan, mengapa tidak kita lakukan? Saya percaya, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya,” ujarnya.
Kepala sekolah yang selama ini dikenal sebagai pelopor berbagai kolaborasi pendidikan di Kecamatan Pasongsongan itu juga menegaskan bahwa sekolah harus hadir sebagai bagian dari solusi masyarakat.
“Sekolah bukan hanya tempat mencetak generasi yang cerdas. Sekolah juga harus mampu menghadirkan harapan, menumbuhkan kepedulian, dan menjadi rumah bagi siapa pun yang membutuhkan pertolongan. Pendidikan akan kehilangan maknanya jika hanya berhenti di dalam ruang kelas,” tambahnya.
Kisah Irsya menjadi bukti bahwa sebuah perubahan besar tidak selalu lahir dari kekuasaan atau harta yang melimpah.
Kadang, perubahan itu dimulai dari seseorang yang memilih untuk peduli.
Dari seorang kepala sekolah yang tidak menutup mata.
Dari seorang kreator konten yang menggunakan pengaruhnya untuk menebar manfaat.
Dari seorang dermawan yang menjadikan rezekinya sebagai jalan kebahagiaan orang lain.
Dan dari doa seorang ibu yang akhirnya menemukan jawaban.
Blangkon yang dikenakan Agus Sugianto mungkin hanya selembar kain di kepala.
Namun di balik blangkon itu tersimpan sebuah pesan yang jauh lebih besar: bahwa identitas seorang pendidik tidak hanya diukur dari seberapa banyak ilmu yang ia ajarkan, tetapi juga dari seberapa banyak harapan yang mampu ia hidupkan.
Di SDN Panaongan III, pelajaran tentang kemanusiaan ternyata tidak ditulis di papan tulis.
Pelajaran itu sedang dipraktikkan dengan tindakan nyata. Dan kelak, ketika Irsya berdiri dan melangkah menggunakan kaki palsunya, langkah kecil itu akan menjadi saksi bahwa kepedulian mampu mengubah takdir seseorang menjadi lebih baik.
Penulis : Red







