SUMENEP, 24 September 2026 — Bahasa ibu bukan sekadar rangkaian kata yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di dalamnya tersimpan cara sebuah masyarakat menyapa, menghormati, bercerita, bercanda, menyampaikan nasihat, sekaligus mengenali jati dirinya.
Semangat itulah yang terasa dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Ajang Talenta Daerah Jenjang SD Tingkat Kabupaten Sumenep Tahun 2026 yang digelar di SDN Karang Duak I, Kamis (24/9/2026).
Kegiatan tersebut diikuti peserta didik perwakilan dari setiap kecamatan se-Kabupaten Sumenep. Mereka datang membawa kemampuan terbaik sekaligus semangat yang sama, yakni menjaga agar bahasa Madura tetap hidup di tengah perubahan zaman.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
FTBI tahun ini mempertandingkan tujuh kategori, yakni Pidato Bahasa Madura, Baca Puisi Bahasa Madura, Mendongeng Bahasa Madura, Menembang, Lawakan Tunggal Bahasa Madura, Carakan Madura, serta Menulis Cerita Pendek Bahasa Madura.
Pelaksanaan lomba menggunakan dua model. Lima kategori dilaksanakan secara daring (online), sementara Lomba Menulis Cerita Pendek Bahasa Madura dan Lomba Carakan Madura dilaksanakan secara luring.
Bahasa Madura Harus Tetap Hidup di Sekolah
Membuka kegiatan FTBI, H. Abd. Azis, M.Pd., Pengawas Bina SD yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, menyampaikan apresiasi kepada seluruh guru dan peserta didik yang telah menunjukkan antusiasme mengikuti festival tersebut.
Ia menegaskan, pelestarian bahasa Madura tidak cukup dilakukan melalui perlombaan. Bahasa daerah harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari di lingkungan pendidikan.
“Terima kasih kepada semua guru dan semua siswa yang sangat antusias mengikuti lomba FTBI ini,” ujar H. Abd. Azis.
Ia juga berharap para guru terus membiasakan penggunaan bahasa Madura dalam proses pendidikan, khususnya pada hari Selasa, sebagaimana diatur dalam Peraturan Bupati Sumenep Nomor 55 Tahun 2025.
“Saya berharap kepada semua guru agar dalam mendidik siswa bisa menggunakan bahasa Madura, terutama pada hari Selasa, sesuai dengan Perbup Bupati Sumenep Nomor 55 Tahun 2025,” ungkapnya.
Menurutnya, menjaga bahasa daerah bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga tertentu. Guru dan seluruh pemerhati bahasa Madura memiliki peran penting dalam menumbuhkan rasa bangga di kalangan generasi muda.
“Mari kita bersama-sama mengarahkan dan menuntun semua murid agar bangga menggunakan bahasa Madura,” pesannya.
Pesan tersebut menjadi penting karena sekolah bukan hanya tempat anak memperoleh pengetahuan akademik. Sekolah juga menjadi ruang untuk mengenalkan nilai, budaya, kesantunan, dan identitas yang melekat dalam kehidupan masyarakat.
FTBI Bukan Sekadar Ajang Perlombaan
Sementara itu, Penanggung Jawab FTBI Tingkat Kabupaten Sumenep, Ahmad Rasul Hariz, S.Sos., M.MPd., Kasie Analisis Kebijakan Subkor Peserta Didik dan Pembangunan Karakter SD Dinas Pendidikan Sumenep, menempatkan FTBI sebagai bagian dari upaya jangka panjang menjaga keberlangsungan bahasa dan sastra daerah.
Menurutnya, festival tersebut diharapkan tidak berhenti pada persoalan siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, FTBI diharapkan memberikan pengalaman kepada peserta didik untuk mencintai dan menggunakan bahasa Madura dengan percaya diri.
“Melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tahun 2026, diharapkan tumbuh generasi muda Sumenep yang mencintai, bangga, terampil, dan aktif menggunakan bahasa Madura serta mampu menjaga keberlangsungan bahasa, sastra, dan budaya daerah sebagai bagian penting dari jati diri bangsa,” tutur Ahmad Rasul Hariz.
Ia juga berharap FTBI menjadi ruang yang mempertemukan kecintaan terhadap bahasa dengan kreativitas anak-anak.
“Pelaksanaan Festival Tunas Bahasa Ibu Jenjang SD Tingkat Kabupaten Sumenep Tahun 2026 diharapkan menjadi wadah untuk menumbuhkan kecintaan, kebanggaan, dan keterampilan peserta didik dalam menggunakan bahasa serta sastra daerah, khususnya bahasa Madura,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa pelestarian bahasa daerah merupakan bagian dari upaya menjaga kekayaan budaya bangsa.
“Kegiatan ini juga diharapkan mendukung pelestarian bahasa daerah sebagai bagian dari identitas, kekayaan budaya, dan warisan bangsa,” imbuhnya.
Menjaga Bahasa, Menjaga Identitas
Hari itu, anak-anak Sumenep tampil di hadapan juri. Ada yang berpidato, membaca puisi, mendongeng, menembang, melawak, menulis cerita, hingga menorehkan aksara Carakan Madura.
Namun, di balik sebuah perlombaan, ada proses yang jauh lebih penting.
Mereka sedang belajar mengenal, mencintai, menggunakan, sekaligus merasa bangga terhadap bahasa leluhurnya.
Sebab bahasa yang terus digunakan akan tetap hidup. Bahasa yang terus diajarkan akan tetap diwariskan. Dan bahasa yang dibanggakan akan memiliki tempat di hati generasi penerus.
Karena itu, FTBI Sumenep 2026 bukan hanya tentang panggung perlombaan.
Di balik suara anak-anak yang membaca puisi, menyampaikan pidato, mendongeng, menembang, dan menulis dalam bahasa Madura, tersimpan sebuah ikhtiar untuk menjaga warisan budaya agar tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.
Ketika zaman terus berubah, bahasa Madura diharapkan tidak hanya dikenang sebagai bahasa leluhur, tetapi tetap menjadi bahasa yang hidup di sekolah, di tengah keluarga, di lingkungan masyarakat, dan terutama di lidah generasi muda Sumenep.
Sebab menjaga bahasa, pada akhirnya, adalah bagian dari menjaga identitas.







