Oleh: Igusty Madani
Ada kehilangan yang tidak pernah benar-benar selesai. Waktu mungkin mengajarkan manusia untuk menerima, tetapi ia tidak selalu mampu menghapus rindu.
Saya tahu persis rasa itu. Sejak usia tiga tahun, saya sudah harus mengenal perpisahan dengan Ibu. Saya terlalu kecil untuk memahami arti sebuah kepergian, terlalu kecil untuk mengerti mengapa pelukan hangat itu tiba-tiba melenyap, dan mengapa tempat yang seharusnya menjadi rumah paling nyaman berubah menjadi ruang sunyi. Belum selesai hati kecil saya memahami takdir itu, Bapak pun menyusul pergi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak saat itu, hidup memaksa saya tumbuh lebih cepat. Saya dibesarkan oleh keadaan, oleh rasa sakit, derita, air mata, dan kekecewaan. Ada banyak hal yang disimpan sendirian. Ada malam-malam penuh duka ketika saya ingin mengeluh, tetapi tidak tahu kepada siapa harus bersandar.
Namun, hidup tidak menunggu. Saya belajar berdiri saat dijatuhkan, belajar tersenyum saat hati hancur, dan belajar menerima bahwa tidak semua yang kita cintai bisa bertahan di sisi kita. Dari kehilangan yang teramat dini itu, saya memetik satu pelajaran termahal: kehadiran orang tua adalah anugerah yang tak bernilai.
Ada perasaan yang sulit dilukiskan saat berdiri di hadapan makam kedua orang tua. Di sana, saya bukan siapa-siapa. Tidak ada pekerjaan, jabatan, harta, maupun kebanggaan yang tersisa. Saya hanyalah seorang anak yang berdiri di atas tanah peraduan Bapak dan Ibu.
Terkadang, saya ingin bercerita tentang panjangnya perjalanan hidup, perjuangan, luka, hingga hari-hari ketika saya hampir menyerah. Saya ingin berbisik:
“Pak, Bu, anakmu masih berjuang. Anakmu masih berusaha menjadi manusia yang baik. Maaf, saya belum sempat membalas semua yang pernah kalian berikan.”
Namun pusara tetap bisu. Tidak ada suara Bapak, tidak ada teduh pandang Ibu, tidak ada tangan yang mengusap kepala, dan tidak ada pelukan. Hanya ada tanah, angin, doa, dan air mata.
Di titik itulah saya kian menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak akan pernah bisa dibeli kembali. Setinggi apa pun jabatan kita, sebanyak apa pun harta yang kita kumpulkan, tak ada satu detik pun waktu bersama mereka yang bisa kita putar ulang.
Melihat betapa mahalnya sebuah kehilangan, hati saya selalu tersayat ketika melihat seseorang yang dengan mudahnya melukai orang tua mereka. Sungguh sulit bagi saya memahami bagaimana seorang anak tega membuat Bapaknya meneteskan air mata—seorang Bapak yang telah menghabiskan tenaga dan usianya demi menopang hidup sang anak. Begitu pula ketika melihat seorang anak yang menyakiti Ibunya, padahal sang Ibu telah memberikan seluruh kasih sayangnya tanpa pernah meminta hitungan kembalian.
Tentu, orang tua tidak selalu benar. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Namun, perbedaan tidak harus diakhiri dengan penghinaan, kekecewaan tidak perlu dibalas dengan kebencian, dan amarah tidak pernah boleh menjadi alasan untuk merobek hati orang yang pernah mempertaruhkan nyawa demi kita.
Jangan pernah menunggu pusara menjadi tempat untuk menyadari arti kehadiran mereka, sebab saat itu terjadi, penyesalan hanyalah jeritan yang tak mendapati jawaban.
Karena saya telah kehilangan kesempatan untuk membahagiakan Bapak dan Ibu secara langsung, saya mengikat janji dengan diri sendiri. Saya bersumpah tidak akan pernah mengecewakan mereka, meskipun mereka telah lama tiada.
Saya ingin hidup saya menjadi jawaban atas doa-doa mereka. Saya ingin setiap langkah yang saya tempuh menjadi alasan bagi mereka untuk tersenyum bangga di alam sana. Jika dahulu saya tidak sempat memanjakan mereka dengan kemewahan, maka kini saya ingin mempersembahkan kebaikan sebagai ganti kehadiran.
Saya memang tidak bisa lagi membelikan pakaian, mengajak makan bersama, atau mendengar suara mereka. Namun, saya masih bisa mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan, membantu sesama, dan menjadi jembatan kebaikan bagi orang lain.
Setiap niat tulus, pengabdian, dan kebaikan yang mampu saya lakukan hari ini bukan untuk mencari pujian atau nama besar, melainkan sebuah persembahan cinta dari seorang anak. Saya ingin rasa sakit masa lalu berbuah keberkahan. Setiap kali saya mampu berbuat baik, saya selalu berbisik dalam hati:
“Pak, Bu, ini untuk kalian.”
Kepada siapa pun yang masih memiliki Bapak dan Ibu, izinkan saya menitipkan satu nasihat: jagalah hati mereka.
Jangan sakiti atau rendahkan mereka. Jika ada perbedaan, bicaralah dengan lembut. Jika amarah memuncak, tahanlah ucapan. Jika mereka melakukan kesalahan, ingatlah bahwa mereka juga manusia yang memiliki keterbatasan. Ingatlah, tidak ada satu pun dari kita yang berdiri tegak hari ini tanpa doa, air mata, dan papahan tangan orang tua di masa lalu. Jangan sampai setelah kita mampu terbang tinggi, kita justru melupakan dahan yang dulu menopang kita.
Namun, renungan ini tidak berhenti pada hubungan orang tua dan anak semata. Rasa sakit akibat kehilangan mengajarkan saya satu hal yang lebih luas: jangan pernah merendahkan, menyakiti, atau mengkhianati siapa pun.
Jangan membalas kebaikan orang lain dengan keburukan. Jangan menjawab kepercayaan dengan pengkhianatan, dan jangan merespons ketulusan dengan kebohongan. Jangan merasa hebat hanya karena kita mampu membuat orang lain menangis atau merasa kerdil.
Kita tidak pernah tahu doa siapa yang sedang menyelamatkan hidup kita hari ini. Bisa jadi, orang yang hari ini kita remehkan adalah orang yang selalu mendoakan kita dalam diam. Bisa jadi, seseorang yang kita sakiti adalah sosok yang dulu uluran tangannya pernah menyelamatkan kita di saat tidak ada seorang pun yang peduli.
Hidup ini berputar. Hari ini kita di atas, besok bisa jadi kita di bawah. Jangan pernah jadikan jabatan, ilmu, harta, atau kekuasaan sebagai pembenaran untuk menginjak sesama. Jadilah manusia yang anggun dalam kebaikan dan rendah hati ketika memiliki kekuatan.
Untuk kamu yang masih memiliki orang tua: pulanglah.
Peluk mereka, cium tangan mereka, dengarkan cerita-ceritanya, dan katakan bahwa kamu mencintai mereka selagi sempat. Jangan tunggu rumah menjadi sunyi, jangan tunggu kursi kesayangan mereka kosong, dan jangan biarkan foto kusam menjadi satu-satunya cara untuk menatap senyum mereka. Sebab ketika kamu sudah berdiri di depan tanah kuburnya, yang tersisa hanyalah kepasrahan dan doa.
PAK, BU…
Hari ini kalian memang telah lama tiada, tetapi kalian tidak pernah benar-benar pergi. Kalian hidup dalam ingatan, dalam setiap doa, dan dalam setiap kebaikan yang saya perjuangkan.
Saya tidak tahu berapa lama lagi kesempatan hidup yang Tuhan berikan untuk saya. Namun selama napas ini masih berhembus, saya berjanji tidak akan hidup hanya untuk diri sendiri. Saya ingin tangan ini lebih banyak merangkul daripada memukul, mulut ini lebih banyak mendoakan daripada mencela, dan langkah kaki ini selalu tertuju pada kebajikan.
Sebab inilah cara terbaik bagi saya untuk terus berkata kepada kalian:
“Pak, Bu… saya masih mengingat kalian. Saya masih mencintai kalian. Dan setiap kebaikan yang saya lakukan hari ini, seluruhnya saya persembahkan untuk kalian.”
Pada akhirnya, hal terbesar yang kita tinggalkan di dunia ini bukanlah seberapa tinggi posisi kita berdiri di mata manusia, melainkan seberapa banyak jejak kebaikan yang pernah kita tancapkan. Dan bagi saya, setiap jejak kebaikan itu adalah persembahan abadi untuk Bapak dan Ibu tercinta.







