PROBOLINGGO — Pondok pesantren bukan sekadar pusat menimba ilmu agama, melainkan miniatur kehidupan tempat ribuan santri tumbuh dan berkembang. Menyadari kompleksitas kebutuhan di lingkungan ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo mengambil langkah progresif dengan membentuk Tim Pembina Pondok Pesantren pada Kamis (24/9/2026).
Langkah ini menjadi tonggak baru dalam mengintegrasikan program kesehatan yang adaptif dan menyeluruh bagi dunia pesantren.Pertemuan strategis yang dipimpin langsung oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Probolinggo, Sri Wahyu Utami, ini bukan sekadar seremoni di atas kertas. Pembentukan tim ini dirancang sebagai wadah peleburan ego sektoral demi satu tujuan bersama melahirkan generasi santri yang sehat, tangguh, dan optimal dalam tumbuh kembangnya.
Sri Wahyu Utami menegaskan bahwa kesehatan pesantren tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan medis semata. Diperlukan kerja keroyokan yang melibatkan berbagai elemen strategis daerah.”Pembinaan pondok pesantren membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Dengan keterlibatan berbagai Perangkat Daerah, unsur keagamaan, dan perguruan tinggi, pembinaan diharapkan dapat dilakukan secara lebih terpadu sesuai dengan kebutuhan pondok pesantren dan para santri,” ujar Sri Wahyu dengan optimis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Gerakan ini berhasil memikat komitmen luas. Dari lini keagamaan dan perencanaan, hadir Kantor Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta Baperlitbangda Kabupaten Probolinggo.
Tak tanggung-tanggung, belasan Perangkat Daerah turut melebur ke dalam tim. Mulai dari urusan ketahanan pangan, komunikasi, perdagangan, lingkungan hidup, hingga sektor sosial dan pendidikan. Kehadiran mereka memastikan bahwa intervensi kesehatan nantinya akan menyentuh aspek hulu hingga hilir,seperti sanitasi lingkungan pesantren, kecukupan gizi pangan santri, hingga literasi digital terkait kesehatan.
Kekuatan tim ini kian paripurna dengan bergabungnya tiga pilar akademis lokal, yakni Universitas Nurul Jadid, Universitas Islam Zainul Hasan, dan Universitas Hafshawaty Zainul Hasan. Keterlibatan perguruan tinggi berbasis pesantren ini diharapkan membawa perspektif ilmiah sekaligus pendekatan emosional yang tepat sasaran bagi dinamika santri.
Bagi Dinkes Probolinggo, pembentukan tim ini barulah babak awal dari komitmen jangka panjang. Pendekatan kolaboratif ini diyakini akan menjadi fondasi kokoh untuk melahirkan program pembinaan yang terarah, adaptif, dan berkelanjutan.
“Dengan sinergi pemerintah daerah, unsur keagamaan, dan perguruan tinggi, pembinaan pondok pesantren di Kabupaten Probolinggo diharapkan semakin mampu mendukung terciptanya lingkungan yang sehat, aman, dan kondusif bagi tumbuh kembang para santri,” pungkas Sri Wahyu, menutup harapan besar bagi masa depan kesehatan pesantren di Probolinggo.
Penulis : Moch Solihin







