SUMENEP, 22 Agustus 2026 — Bel pulang berbunyi. Siswa-siswa SDN Panaongan III mulai meninggalkan sekolah. Namun, bagi mereka, hari itu belum benar-benar berakhir.
Dengan blangkon yang menjadi ciri khasnya, Kepala SDN Panaongan III, Agus Sugianto, S.Pd., menyongsong siswa yang keluar dari lingkungan sekolah. Ia membersamai mereka sembari menitipkan pesan-pesan sederhana sebelum anak-anak melanjutkan perjalanan menuju rumah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Hati-hati di jalan. Jangan lupa belajar. Jangan lupa tidur siang dan istirahat. Kalau sudah sampai rumah, jangan lupa Salim kepada ayah dan ibu,” demikian pesan yang kerap disampaikan Agus.
Kebiasaan tersebut dikemas dalam program BERHALANG (Bersamai Hantar Pulang).
Sekilas, program ini sederhana. Tidak membutuhkan panggung, pengeras suara, ataupun teknologi canggih. Hanya beberapa menit kebersamaan antara kepala sekolah dan siswa. Namun di balik kesederhanaan itu terdapat pesan pendidikan yang kuat: bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas.
Menyongsong, Bukan Sekadar Melepas
BERHALANG berangkat dari gagasan bahwa hubungan sekolah dengan siswa tidak seharusnya terputus ketika bel terakhir berbunyi. Ketika siswa hendak pulang, Agus memilih menyongsong mereka. Ada sapaan, perhatian, dan nasihat singkat yang diharapkan menjadi bekal ketika anak kembali ke lingkungan keluarga.
“Kami ingin anak-anak merasakan bahwa sekolah tidak hanya hadir ketika mereka belajar di dalam kelas. Ketika mereka pulang pun, kami tetap peduli. Kami ingin mengantar mereka bukan hanya secara fisik, tetapi juga dengan membawa pesan-pesan kebaikan,” ujar Agus. Bagi Agus, pendidikan karakter justru dapat tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Karakter tidak cukup dibicarakan. Karakter harus dilihat, dicontoh, dan dibiasakan.
Pendidikan Karakter sebagai Budaya Sekolah
Bagi SDN Panaongan III, pendidikan karakter bukan sekadar slogan atau program yang muncul pada momentum tertentu. Nilai kedisiplinan, kepedulian, tanggung jawab, kesopanan, kebersamaan, penghormatan kepada guru, serta penghormatan kepada orang tua diupayakan hadir dalam keseharian siswa. BERHALANG menjadi salah satu cara sederhana untuk memperkuat budaya tersebut.
“Karakter itu tidak cukup diajarkan. Karakter harus dibiasakan. Anak-anak harus melihat, mendengar, dan merasakan contoh nyata dari orang-orang dewasa di sekitarnya,”kata Agus. Karena itu, menurutnya, orang dewasa di sekolah harus menjadi teladan terlebih dahulu. Jika ingin anak peduli, orang dewasa harus menunjukkan kepedulian. Jika ingin anak menghormati orang lain, orang dewasa harus memberikan contoh penghormatan.
Kepala Sekolah Hadir di Tengah Siswa
Di tengah kesibukan kepala sekolah dengan urusan administrasi, manajerial, rapat, dan berbagai tanggung jawab kelembagaan, Agus memilih menyediakan waktu untuk berinteraksi langsung dengan siswa. Dengan blangkon yang menjadi identitas penampilannya, ia menyongsong anak-anak yang hendak pulang. Tidak ada pidato panjang. Tidak ada suasana formal. Hanya percakapan singkat yang dekat dengan kehidupan anak.
“Saya ingin anak-anak melihat bahwa kepala sekolah bukan hanya orang yang ada di kantor. Kepala sekolah juga bagian dari kehidupan mereka di sekolah. Kalau kita ingin pendidikan karakter tumbuh, orang dewasa di sekolah harus terlebih dahulu memberikan contoh,” tuturnya. Karena bagi Agus, kepemimpinan sekolah bukan hanya tentang membuat program, tetapi juga tentang hadir, memberi teladan, dan membangun hubungan dengan siswa.
Relevan di Tengah Generasi Digital
BERHALANG juga menemukan relevansinya di tengah kehidupan anak-anak yang semakin dekat dengan teknologi. Anak-anak hari ini tumbuh dalam dua ruang sekaligus: dunia nyata dan dunia digital. Mereka berinteraksi dengan gawai, permainan daring, video, media sosial, serta berbagai informasi yang datang hampir tanpa batas. Karena itu, pendidikan karakter tidak cukup hanya membentuk perilaku anak di lingkungan sekolah. Anak juga perlu dibekali etika ketika memasuki ruang digital.
“Anak-anak sekarang hidup di zaman digital. Mereka bisa mendapatkan banyak informasi dari gawai. Karena itu, sekolah harus tetap memberikan bekal tentang bagaimana bersikap, bagaimana menghormati orang lain, bagaimana menggunakan teknologi dengan bijak, dan bagaimana tetap dekat dengan keluarga,” jelas Agus. Pesan sederhana saat pulang pun dapat menjadi pengingat agar anak tidak berlebihan menggunakan gawai, tidak mudah percaya informasi yang belum jelas, tidak menyakiti teman di ruang digital, dan tetap menyediakan waktu untuk belajar serta berinteraksi dengan keluarga.
Teknologi boleh semakin canggih, tetapi karakter tidak boleh tertinggal.
Dari Sekolah, Nilai Itu Dibawa Pulang
Salah satu pesan yang terus ditekankan dalam BERHALANG adalah agar siswa tidak lupa Salim kepada ayah dan ibu ketika tiba di rumah. Sekilas, pesan itu sederhana. Namun bagi pendidikan karakter, ia merupakan cara untuk menghubungkan sekolah dengan keluarga. Sekolah mengingatkan bahwa setelah pembelajaran selesai, anak kembali kepada lingkungan pendidikan yang pertama: keluarga.
“Kami tidak ingin hanya menghantar anak pulang. Kami ingin mengantar mereka dengan nilai-nilai kebaikan. Semoga pesan sederhana yang mereka dengar setiap hari menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi karakter,” ungkap Agus. Dengan demikian, BERHALANG bukan sekadar aktivitas menghantar siswa. Ada nilai yang ingin dibawa dari sekolah menuju rumah: keselamatan, kedisiplinan, tanggung jawab, penghormatan kepada orang tua, dan kepedulian.
Beberapa Menit yang Bisa Menjadi Kenangan
Kekuatan BERHALANG justru terletak pada kesederhanaannya. Tidak membutuhkan anggaran besar atau teknologi canggih. Yang dibutuhkan adalah kehadiran, konsistensi, dan ketulusan. Seorang kepala sekolah menyongsong siswa keluar sekolah, memberikan sapaan, menyampaikan nasihat, kemudian membersamai mereka sebelum perjalanan pulang.Bisa jadi, suatu hari nanti anak-anak itu tidak mengingat seluruh materi yang pernah dipelajari di sekolah. Namun mereka mungkin mengingat sebuah suasana: seorang kepala sekolah dengan blangkon khasnya yang setiap sore menyongsong mereka dan berkata, : “Hati-hati di jalan, Nak.” Di situlah BERHALANG menemukan maknanya. Belajar boleh selesai ketika bel berbunyi. Tetapi pendidikan tidak pernah berhenti ketika seorang anak melangkahkan kaki keluar dari sekolah. Sebab bagi SDN Panaongan III, pendidikan karakter bukan hanya tentang apa yang dikatakan kepada anak, tetapi tentang apa yang dibiasakan, diteladankan, dan dirasakan anak dalam kesehariannya.







