PROBOLINGGO – Ketika ribuan manusia bergerak dalam satu ketukan irama yang sama, sebuah kota tidak sekadar sedang berolahraga. Mereka sedang merayakan kebersamaan, merawat tradisi, sekaligus mengukir sejarah baru.Pemandangan memukau itulah yang tersaji dalam gelaran Batik in Motion 2026.
Sebanyak 2.705 penari line dance berkain batik sukses mengguncang Kota Probolinggo. Aksi kolosal ini resmi tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai rekor penari line dance terbanyak di dunia, sekaligus menjadi kado terindah bagi Hari Jadi Kota Probolinggo.
Suasana penuh energi terpancar jelas saat Wali Kota Probolinggo, dr. H. Aminuddin, Sp.OG.(K)., M.Kes., bersama Wakil Wali Kota, Hj. Ina Dwi Lestari (Ina Buchori), membaur di tengah kepungan massa. Keduanya ikut larut dalam gerakan massal yang memadukan unsur kesehatan, budaya, dan kebanggaan daerah tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin, menyampaikan apresiasi mendalam atas peran semua pihak yang menyukseskan agenda besar ini. Menurutnya, menyatukan ribuan orang dalam satu gerakan bukanlah perkara mudah.
“Mengumpulkannya saja bukan main. Tapi Alhamdulillah, dengan kerja sama semua pihak yang kompak bahu-membahu dan semangat memecahkan rekor MURI, acara ini berjalan sukses,” ujar dr. Aminuddin,Jum at (4/9/2026).
Lebih lanjut, Wali Kota menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan event berkala skala nasional agar bisa masuk dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN). Langkah ini sekaligus menjadi strategi strategis untuk mempromosikan Kota Probolinggo, mulai dari produk UMKM hingga kuliner khasnya seperti ketan kratok, soto koya, dan nasi pendalungan.
Pencapaian rekor dunia ini tidak diraih dalam semalam. Pada awalnya, panitia hanya menargetkan 2.500 peserta. Namun, magnet acara ini begitu kuat hingga memicu ledakan antusiasme warga. Tercatat sekitar 2.800 orang memadati area untuk bergerak serempak menyalurkan energi positif.
Setelah melalui proses verifikasi ketat dari tim MURI untuk menyaring peserta yang benar-benar memenuhi ketentuan, angka resmi terkunci di jumlah 2.705 penari. Proses kurasi yang ketat ini menegaskan bahwa rekor tersebut bukan sekadar visual kerumunan, melainkan sebuah simfoni gerak yang presisi dan disiplin.
Di bawah arahan Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Probolinggo, Muhammad Abas, S.Sos., M.Si., Batik in Motion 2026 membuktikan bahwa warisan leluhur seperti batik tidak harus kaku dan pasif. Unsur kain tradisional dipadukan secara apik dengan tarian modern berbasis komunitas.Dari sudut pandang kesehatan, gerakan line dance massal ini menjadi stimulus luar biasa bagi tubuh.
Aktivitas menari yang teratur terbukti melatih koordinasi, keseimbangan, konsentrasi, hingga daya ingat masyarakat. Olahraga berbasis komunitas ini berhasil mengemas kampanye gaya hidup sehat dalam balutan rekreasi yang menyenangkan.
Lebih dari sekadar angka di atas piagam penghargaan, kehadiran 2.705 penari ini membawa pesan universal yang mendalam: rekor dunia lahir dari rahim kebersamaan.
Lewat hentakan kaki ribuan penari ini, Kota Probolinggo mengirimkan pesan kuat ke penjuru negeri bahwa mereka adalah kota yang bergerak maju menuju masyarakat yang sehat, kompak, dan bangga akan identitas bangsanya.
Penulis : Moch Solihin







