PROBOLINGGO- Senyum bahagia warga Desa Sekarkare,Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, mendadak lumat menjadi kekecewaan mendalam. Undangan untuk menerima Bantuan Pangan (Banpang) gratis berupa 30 kilogram beras yang semula diharapkan bisa meringankan beban dapur, justru berujung pilu saat karung-karung tersebut dibuka dan dimasak.
Sekilas, bulir-bulir beras tersebut tampak putih dan bersih di permukaan. Namun, aroma apek langsung tercium saat kemasan dibuka. Kekecewaan warga semakin memuncak ketika beras tersebut selesai ditanak. Alih-alih menjadi nasi yang pulen, teksturnya justru keras, kasar, dan sulit dikunyah.
MS (40), salah seorang warga setempat, tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya saat ditemui wartawan. Dengan nada getir, ia menyebut bantuan pangan dari pemerintah terasa kurang layak untuk dikonsumsi manusia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Nasi ini sama sekali tidak ada lembutnya. Pas ditelan, rasanya seperti mau menyangkut di tenggorokan. Kalau tidak dibantu minum air putih yang banyak, susah sekali masuknya,” keluh MS sembari menunjukkan nasi hasil bantuan tersebut,Rabu (23/9/2026).
Menanggapi keluhan warga, Kepala Perum Bulog Cabang Probolinggo, Kuswandi, memberikan penjelasan. Ia menegaskan bahwa kualitas beras yang disalurkan sebenarnya telah disesuaikan dengan standar Cadangan Beras Pemerintah (CBP), yaitu kualitas medium.Menurut Kuswandi, stok beras yang didistribusikan saat ini merupakan hasil pengadaan tahun 2025 dan 2026. Ia tidak menampik adanya perubahan karakteristik beras akibat faktor penyimpanan di gudang.
“Dalam pengelolaan cadangan pangan, masa simpan antara 9 hingga 12 bulan secara alami akan menyebabkan penyesuaian kadar air pada beras. Kadar air yang lebih rendah ini merupakan proses alami yang memang dapat membuat tekstur nasi menjadi sedikit lebih keras atau kurang pulen dibandingkan beras baru, serta sedikit memengaruhi aroma aslinya,” jelas Kuswandi.
Kendati demikian, Kuswandi menekankan bahwa pihak Bulog tetap berkomitmen menjaga mutu komoditas tersebut. Ia mengklaim seluruh stok beras dari hasil serapan gabah petani dalam negeri selalu melewati tahap pengolahan ulang (re-processing) sebelum digulirkan ke masyarakat.
“Beras kami olah kembali melalui proses pengkabutan (polishing) dan pemisahan butir kuning atau rusak menggunakan mesin color sorter. Proses ini bertujuan mengurangi debu, memastikan visual beras bersih, dan layak untuk konsumsi demi memenuhi preferensi masyarakat,” tambahnya.
Adapun untuk wilayah terdampak, Bulog mencatat telah mendistribusikan beras Bantuan Pangan ini ke Desa Sekarkare pada 12 September 2026 lalu. Total volume yang dikucurkan mencapai 8.070 kilogram, yang menyasar kepada 269 Penerima Bantuan Pangan (PBP).
Kini, di tengah argumen teknis standar kelayakan dari meja birokrasi, warga Dringu hanya bisa pasrah. Mereka terpaksa memutar otak agar bantuan beras yang telanjur keras dan beraroma apek itu tetap bisa mengganjal perut keluarga mereka yang lapar.
Penulis : Moch Solihin







