Sumenep, 23 September 2026 — Ruang pertemuan SDN Soddara I, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Rabu (23/9/2026), menjadi ruang bertemunya para guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) dalam agenda rutin bulanan Kelompok Kerja Guru (KKG) PJOK Kecamatan Pasongsongan.
Pertemuan tersebut tidak sekadar menjadi forum koordinasi rutin, tetapi juga menjadi ruang untuk mengevaluasi perjalanan kegiatan olahraga sebelumnya sekaligus mematangkan persiapan menghadapi agenda olahraga tingkat kabupaten.
Kegiatan dihadiri Pengawas Bina SD Kecamatan Pasongsongan H. Abu Supyan, M.Pd., Ketua Paguyuban Guru Olahraga Kecamatan Pasongsongan (PARUGA) Mohamad Dafirudin, S.Pd., serta Koordinator Bidang Nonakademik KKKS Kecamatan Pasongsongan Miftahul Ulum, M.Pd.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejumlah guru PJOK dari sekolah dasar di Kecamatan Pasongsongan turut mengikuti pertemuan tersebut dengan membawa semangat yang sama: menjadikan olahraga bukan sekadar aktivitas pertandingan, tetapi bagian dari proses menemukan, membina, dan mengembangkan potensi anak.
Persiapan Turnamen Sepak Bola Mini
Salah satu pembahasan utama dalam pertemuan tersebut adalah persiapan menghadapi turnamen sepak bola mini yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep sebagai salah satu bagian dari upaya menjaring bibit-bibit muda bertalenta di bidang sepak bola.
Ketua PARUGA Kecamatan Pasongsongan, Mohamad Dafirudin, S.Pd., menekankan bahwa kesempatan tersebut harus dipersiapkan secara serius sejak awal.
Menurutnya, keberhasilan sebuah tim tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pemain ketika berada di lapangan. Persiapan juga membutuhkan perencanaan yang matang, mulai dari jadwal latihan, pemilihan dan kesiapan pelatih, pembinaan pemain, hingga teknis keberangkatan menuju lokasi pertandingan.
“Persiapan harus dilakukan secara matang. Bukan hanya pemainnya, tetapi juga jadwal latihan, pelatih, sampai teknis keberangkatan harus dipikirkan dengan baik,” ujarnya.
Bagi para guru PJOK, turnamen tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ajang mengejar prestasi, tetapi juga menjadi momentum untuk memberikan pengalaman bertanding kepada siswa sekaligus membuka ruang bagi munculnya talenta-talenta baru dari sekolah dasar.
Evaluasi 17 Agustus dan Pembenahan Administrasi
Sementara itu, Miftahul Ulum, M.Pd., selaku Koordinator Bidang Nonakademik KKKS Kecamatan Pasongsongan, mengajak para guru olahraga melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan berbagai kegiatan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Evaluasi dilakukan bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan untuk melihat bagian-bagian yang masih perlu diperbaiki agar kegiatan serupa ke depan dapat berjalan lebih tertata dan maksimal.
“Setiap kegiatan pasti ada kekurangan. Yang penting bagaimana kekurangan itu menjadi bahan evaluasi dan pembenahan untuk kegiatan berikutnya,” menjadi semangat yang mengemuka dalam pembahasan.
Selain evaluasi kegiatan 17 Agustus, perhatian juga diarahkan pada persiapan administrasi turnamen sepak bola mini, khususnya mekanisme pendaftaran yang dilakukan secara daring.
Para guru PJOK didorong untuk memahami tata cara pendaftaran secara online dengan baik sehingga persoalan administratif tidak menjadi kendala dalam keikutsertaan tim.
PARUGA Harus Solid dan Terbuka terhadap Kritik
Pesan yang tidak kalah penting disampaikan H. Abu Supyan, M.Pd., selaku Pengawas Bina SD Kecamatan Pasongsongan.
Ia menegaskan pentingnya menjaga soliditas organisasi dan komunitas guru olahraga. Menurutnya, PARUGA harus mampu menjadi wadah yang saling menguatkan, bukan hanya ketika menghadapi sebuah even olahraga, tetapi dalam keseluruhan proses pembinaan olahraga di sekolah.
“PARUGA harus solid. Harus siap dikritik, bukan hanya siap dikritik ketika ada even yang berkaitan dengan olahraga, tetapi siap menerima kritik dari segala hal,” pesannya.
Menurut Abu Supyan, kritik seharusnya dipandang sebagai bagian dari proses perbaikan. Dengan keterbukaan terhadap masukan, setiap kegiatan dapat dievaluasi dan disempurnakan secara bersama-sama.
Ia juga mendorong agar setiap agenda olahraga di tingkat kabupaten dapat diikuti dengan persiapan yang baik. Pembinaan, kata dia, juga tidak seharusnya dilakukan hanya menjelang pertandingan.
Jika pembinaan dilakukan secara berkala, potensi siswa dapat dipantau dan dikembangkan secara lebih optimal.
Dari Lapangan Sekolah untuk Masa Depan Anak
Pertemuan KKG PJOK di SDN Soddara I tersebut memperlihatkan bahwa olahraga di sekolah dasar memiliki ruang yang jauh lebih luas daripada sekadar pertandingan dan perolehan juara.
Di balik sebuah tim sepak bola sekolah, ada guru yang melatih, ada anak-anak yang belajar disiplin, ada proses membangun kerja sama, dan ada kesempatan bagi seorang anak untuk menemukan potensi yang mungkin selama ini belum terlihat.
Karena itu, persiapan menuju turnamen sepak bola mini diharapkan menjadi bagian dari proses pembinaan yang berkelanjutan.
Dari lapangan-lapangan sederhana di sekolah dasar, bibit-bibit muda itu tumbuh. Mereka tidak hanya belajar menendang bola, tetapi juga belajar bekerja sama, menerima kekalahan, menghargai lawan, disiplin berlatih, dan berani bermimpi.
Melalui soliditas guru PJOK, dukungan KKKS, pengawas, serta pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan, olahraga di sekolah dasar diharapkan semakin mampu menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak Pasongsongan—baik dalam prestasi maupun dalam karakter.
KKG PJOK Pasongsongan: bergerak bersama, membina bersama, dan membuka jalan bagi lahirnya talenta olahraga dari sekolah dasar.







