JEMBER, – Organisasi sosial spiritual Yakuza Maneges (YM) Wilayah Jember menggelar agenda silaturahmi bulanan pada Jumat malam (16/10/2026).
Pertemuan rutin organisasi di bawah asuhan Den Gus Thuba Topo Broto Maneges (cucu dari ulama kharismatik asal Kediri, KH. Hamim Tohari Djazuli – Gus Miek) tersebut menjadi wadah konsolidasi antaranggota, pengurus, serta sarana mempererat hubungan dengan masyarakat Jember dan sekitarnya.
Ketua Yakuza Maneges Wilayah Jember, Eko Mulyadi, menyampaikan bahwa kegiatan ini dihadiri sekitar 50 anggota yang terdiri dari jajaran pengurus eksekutif, koordinator wilayah (korwil), hingga anggota dari berbagai sektor inti dan sindikat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Agenda ini merupakan rutin setiap bulan. Tujuan utamanya menjaga tali silaturahmi, baik di internal jajaran struktural executive dan korwil, maupun dengan masyarakat di Kabupaten Jember,” ujar Eko Mulyadi saat memberikan keterangannya, Sabtu (17/10/2026).
Selain mempererat soliditas internal, pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah usulan program kerja yang diserap langsung dari para anggota serta jaringan sindikat YM Jember.
Sejumlah aspirasi tersebut nantinya akan dimasukkan secara formal ke dalam kalender agenda organisasi.
Dalam waktu dekat, Yakuza Maneges Jember memfokuskan aksi nyata berupa kegiatan donor darah kemanusiaan yang dijadwalkan berlangsung pada pekan mendatang.
“Agenda terdekat kami adalah aksi sosial donor darah. Saat ini kepanitiaan sedang dimatangkan dan detail pelaksanaannya akan segera kami publikasikan kepada publik,” jelas Eko.
Di samping aksi kemanusiaan, Yakuza Maneges Wilayah Jember juga menegaskan sikap terkait berbagai dinamika dan isu sosial di daerah.
Yakuza Maneges Jember juga berkomitmen mengambil peran aktif dalam tindakan preventif (pencegahan) terhadap Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) serta pemenuhan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).
Eko menegaskan, perlindungan terhadap kelompok rentan harus diwujudkan di mana saja, mulai dari lingkungan domestik, ruang publik, hingga institusi pendidikan formal dan agama.
“Kami memantapkan sikap untuk berdiri di garda terdepan dalam upaya pencegahan TPKS dan perlindungan anak serta perempuan. Lingkungan rumah tangga, fasilitas publik, hingga tempat pendidikan harus menjadi ruang yang aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan,” pungkasnya.
Penulis : Bimo







