Oleh : BQ.Devita Rizka Putri E.F. (Mahasiswa FEBI UIN Mataram)
Opini- Di sekitar kita, perubahan ekonomi terasa semakin nyata. Jika dulu masyarakat lebih mengandalkan pasar tradisional, kini banyak orang beralih ke belanja online. Pedagang kecil yang dulunya hanya mengandalkan lapak di pinggir jalan, sekarang mulai belajar menjual dagangan lewat aplikasi. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi masyarakat tidak bisa lepas dari arus digitalisasi.
Namun, kenyataan di lapangan tidak sepenuhnya manis. Masih banyak pelaku usaha kecil yang kesulitan mengikuti perkembangan teknologi. Ada yang belum paham cara memasarkan produk secara digital, ada juga yang terkendala modal untuk mengikuti tren usaha modern. Akibatnya, jurang antara usaha besar dan usaha kecil semakin terlihat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di sisi lain, semangat masyarakat untuk bertahan tetap tinggi. Kita bisa lihat, banyak warung atau UMKM yang berinovasi mulai dari menerima pembayaran digital, promosi lewat media sosial, hingga menjual produk lokal dengan kemasan yang lebih menarik. Inilah wajah nyata ekonomi rakyat kita: sederhana, penuh tantangan, tapi tetap berjuang agar bisa terus bertahan.
Oleh karena itu, perlu ada dukungan nyata, baik dari pemerintah maupun masyarakat luas. UMKM tidak hanya butuh pelatihan, tetapi juga akses modal yang mudah serta perlindungan dari persaingan usaha yang tidak sehat. Jika ekonomi rakyat kuat, maka ketahanan ekonomi bangsa juga akan lebih terjaga.
Ekonomi bukan sekadar angka-angka di laporan, melainkan napas kehidupan sehari-hari. Apa yang kita beli, jual, dan hasilkan hari ini, menjadi cerminan arah ekonomi di masa depan.
Literasi digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan gawai, tetapi juga mencakup etika, keamanan, hingga strategi pemanfaatan teknologi untuk membuka peluang usaha baru. Dengan begitu, anak-anak muda tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pencipta nilai dalam ekosistem digital. Di tengah perubahan yang begitu cepat, kolaborasi menjadi kata kunci. Pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat perlu bergandengan tangan untuk membangun ekosistem ekonomi yang inklusif.
Program inkubasi bisnis, pendampingan UMKM, hingga penyediaan infrastruktur digital di pelosok daerah akan sangat menentukan. Jangan sampai transformasi digital hanya dinikmati oleh sebagian kelompok, sementara yang lain semakin tertinggal.
Pada akhirnya, ekonomi digital harus menjadi alat untuk memperkuat solidaritas sosial, bukan justru memperlebar jurang kesenjangan. Ketika teknologi digunakan untuk memajukan usaha kecil, meningkatkan taraf hidup masyarakat, serta menjaga kearifan lokal, maka digitalisasi benar-benar menghadirkan manfaat nyata. Ekonomi rakyat akan tumbuh bukan hanya karena inovasi, tetapi juga karena adanya rasa kebersamaan dalam membangun masa depan bangsa.
Penulis : ASN








