Oleh: Muhammad Zulfan Firdaus – STMIK TAZKIA, Sistem Informasi, Semester Ganjil 2025/2026
Nasional – Di tengah isu perubahan iklim yang makin terasa, muncul satu tren positif dari kalangan muda: bisnis hijau atau green economy.
Bukan sekadar soal cari untung, tapi tentang bagaimana berwirausaha tanpa merusak lingkungan. Gaya bisnis baru ini makin digemari karena mampu memberi manfaat ganda — menjaga bumi sekaligus menumbuhkan ekonomi.
Generasi muda kini sadar bahwa berbisnis bukan cuma soal cuan. Mereka ingin produktif sekaligus berkontribusi untuk masa depan yang lebih bersih dan lestari. Dari kesadaran itu, lahirlah gelombang wirausaha hijau yang kreatif dan berdampak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Contohnya banyak banget — ada yang memproduksi pakaian dari bahan daur ulang, membuka usaha makanan organik, sampai menjual produk dengan kemasan ramah lingkungan. Prinsipnya sederhana: untung boleh, tapi jangan merusak alam.
Fakta Menarik tentang Bisnis Hijau
Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM (2024), sebanyak 84% anak muda Indonesia kini tertarik menjalankan bisnis berkelanjutan.
Studi dari Katadata Insight Center (KIC) juga menyebutkan, bahwa UMKM hijau berpotensi tumbuh 20% lebih cepat dibanding bisnis konvensional.
Bahkan UNDP Indonesia (2024) memperkirakan akan ada lebih dari 4 juta pekerjaan hijau (green jobs) di Indonesia pada tahun 2025 — setara dengan 2,7% total tenaga kerja nasional.
Namun, di sisi lain, 88% UMKM Indonesia masih belum menerapkan prinsip bisnis hijau secara penuh. Ini berarti peluang untuk terjun ke sektor hijau masih terbuka lebar banget.
Bisnis Hijau, Arah Baru Ekonomi Dunia
Menurut laporan PwC Indonesia “Green Economy Outlook 2025”, tren investasi hijau di Indonesia terus meningkat pesat.
Perusahaan besar kini mulai menerapkan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance), yaitu memastikan setiap keuntungan tetap selaras dengan tanggung jawab sosial dan kelestarian lingkungan.
Artinya, bisnis hijau bukan sekadar tren anak muda, tapi sudah menjadi arah utama ekonomi global. Siapa pun yang bergerak di bidang ini berarti sedang ikut membangun masa depan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.
Kreativitas Anak Muda Jadi Motor Utama
Tantangan memang ada — mulai dari bahan baku yang mahal, edukasi pasar, hingga kesadaran konsumen yang masih rendah.
Tapi anak muda Indonesia dikenal kreatif dan adaptif. Mereka memanfaatkan media sosial untuk mengedukasi publik, mempromosikan produk, hingga menggerakkan komunitas pecinta lingkungan.
Dengan cara itu, mereka bukan hanya berjualan, tapi juga menyebarkan semangat hijau dan gaya hidup berkelanjutan.
Kesimpulan: Mulai dari Langkah Kecil untuk Bumi yang Lebih Besar
Bisnis hijau bukan sekadar tren sementara, tapi gerakan masa depan.
Anak muda hari ini membuktikan bahwa berbisnis dengan hati dan kepedulian pada lingkungan bukan hal mustahil — justru bisa jadi peluang besar yang membanggakan.








