SUMENEP — Pendidikan dasar tidak hanya soal hafalan rumus dan teori di buku, tapi juga persiapan anak menghadapi dunia nyata. Di sinilah program PROGUT (Program Guru Tamu) yang digagas SDN Panaongan III menjadi inovasi penting.
PROGUT lahir dari kegelisahan guru dan tenaga pendidik: anak-anak perlu melihat dunia secara langsung, bukan sekadar membayangkannya dari buku.
Melalui program ini, sekolah menghadirkan guru tamu dari berbagai latar belakang, mulai dari unsur FORPIMKA, tenaga kesehatan Puskesmas, kepala desa, petani, nelayan, seniman, hingga perwakilan dinas di Kabupaten Sumenep.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka datang membawa pengalaman, cerita nyata, dan realitas kehidupan, bukan nilai rapor.
Seorang siswa yang mengikuti sesi bersama seorang petani belajar bahwa nasi di piring bukan hanya makanan, tetapi hasil dari kerja keras dan perjuangan panjang di sawah.
Tenaga kesehatan mengajarkan pentingnya pola hidup sehat, bukan sekadar teori, dan nelayan menanamkan keberanian menghadapi tantangan alam.
Menurut Agus Sugianto, guru SDN Panaongan III, program ini menekankan bahwa pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tapi pembentukan karakter dan kesiapan hidup.
“Anak-anak harus mengenal manusia di balik profesi, belajar empati, ketekunan, dan ketahanan hidup,” ujarnya.
PROGUT mendorong anak-anak memahami makna belajar secara menyeluruh: ilmu, pengalaman, dan karakter harus berjalan beriringan. Dengan hadirnya guru tamu dari berbagai profesi, anak-anak belajar bahwa pendidikan bukan sekadar menuntut jawaban benar di kertas, tetapi memahami kehidupan nyata dan berperan aktif dalam masyarakat.
Program ini sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap kearifan lokal, budaya, dan tradisi Madura yang kaya makna. Melalui PROGUT, SDN Panaongan III berharap generasi muda tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga siap menghadapi tantangan dunia nyata dengan karakter kuat, empati, dan kepedulian sosial.








