SUMENEP – Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah yang seharusnya menjadi momentum kebahagiaan dan kebersamaan justru menghadirkan ironi yang mencolok di Jawa Timur. Di tengah gemerlap suasana Lebaran, Khofifah Indar Parawansa bersama Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak menggelar open house penuh kehangatan di Gedung Negara Grahadi.
Para pejabat dan tamu undangan silih berganti hadir, menjadikan momen tersebut sebagai ajang silaturahmi dan simbol kedekatan antara pemerintah dan masyarakat. Namun di saat yang sama, ratusan kilometer dari pusat pemerintahan, warga Masalembu justru menghadapi kenyataan pahit.
Akses utama mereka—pelabuhan yang menjadi urat nadi kehidupan—dalam kondisi rusak parah dan membahayakan. Jalan berlubang, struktur yang rapuh, hingga minimnya perbaikan membuat aktivitas masyarakat terganggu, bahkan mengancam keselamatan, terutama di tengah arus balik mudik Lebaran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini bukan sekadar jalan rusak, ini soal nyawa,” ungkap Hasan, warga setempat, dengan nada penuh kekecewaan.
Pelabuhan Masalembu selama ini menjadi jalur vital yang menghubungkan pulau dengan daerah lain. Dari distribusi logistik hingga mobilitas warga, semuanya bergantung pada akses tersebut. Namun ironisnya, kondisi memprihatinkan ini disebut telah berlangsung bertahun-tahun tanpa penanganan serius.
Di tengah kemeriahan perayaan di ibu kota provinsi, warga kepulauan merasa seolah dilupakan. Mereka tidak menolak tradisi dan seremoni, tetapi menuntut kehadiran nyata pemerintah dalam bentuk pembangunan dan keselamatan.
“Kami juga ingin merasakan Lebaran dengan tenang. Tapi bagaimana bisa, kalau setiap hari harus melewati jalan pelabuhan yang mengancam keselamatan?” tambah warga lainnya.
Hingga kini, belum ada respons konkret dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur terkait keluhan tersebut. Sementara itu, masyarakat Masalembu hanya bisa berharap, agar suara mereka tidak tenggelam di balik gemerlap perayaan, dan keselamatan mereka segera menjadi prioritas, bukan sekadar wacana.
Penulis : Redaksi







