SUMENEP – Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Sumenep, KH Qumri Rahman, menyoroti nasib petani tembakau di Indonesia, khususnya di wilayah Madura, yang dinilai belum mendapatkan perhatian layak dari negara.
Menurutnya, Madura merupakan salah satu sentra produksi tembakau terbesar di Jawa Timur, bersama daerah lain seperti Situbondo, Probolinggo, Bondowoso, hingga Bojonegoro. Komoditas tembakau tidak hanya menjadi tulang punggung ekonomi daerah, tetapi juga menopang kehidupan ribuan keluarga petani.
“Kita harus melihat bahwa petani tembakau di Madura ini bukan sekadar pelaku ekonomi, tetapi bagian dari warga Nahdliyin yang turut menggerakkan roda perekonomian nasional,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kiai Qumri mengungkapkan, dalam Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) PW GP Ansor Jawa Timur di Malang, disebutkan bahwa penerimaan negara dari sektor cukai hasil tembakau pada 2024 mencapai Rp216,9 triliun.
Ia merinci, terdapat tiga sektor utama penyumbang pendapatan negara, yakni cukai tembakau sebesar Rp216,9 triliun, sumber daya alam migas dan nonmigas sebesar Rp207 triliun, serta dividen BUMN sebesar Rp85,8 triliun.
“Ini menunjukkan betapa besarnya kontribusi sektor tembakau terhadap negara. Namun ironisnya, kesejahteraan petani tembakau belum sepenuhnya terjamin,” tegasnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Pondok Pesantren Tholaburridho tersebut menambahkan bahwa Jawa Timur menjadi penyumbang terbesar dalam sektor cukai tembakau nasional, seiring kuatnya industri rokok dan tingginya produksi tembakau, khususnya dari wilayah Madura.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan Republik Indonesia, dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) terus disalurkan ke daerah untuk mendukung kesejahteraan masyarakat, termasuk petani. Namun, implementasinya dinilai masih perlu diperkuat agar benar-benar dirasakan di tingkat bawah.
Alumni Pesantren Sidogiri itu juga menyebut mayoritas konsumen rokok di Indonesia berasal dari kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU), sehingga keberpihakan terhadap petani tembakau juga menjadi bagian dari kepedulian terhadap kesejahteraan warga Nahdliyin.
“Merokok telah menjadi bagian dari kultur warga NU. Maka sudah selayaknya kita memastikan perputaran ekonomi dari sektor ini berpihak pada petani,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak, mulai dari stabilitas harga, perlindungan hasil panen, hingga akses distribusi yang adil bagi petani tembakau, khususnya di Madura.
“Mari kita kawal bersama, mulai dari stabilitas harga pupuk, hasil panen, hingga keadilan bagi petani tembakau,” pungkasnya.
Penulis : Redaksi







