Menyongsong Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35: Poros Besar Menguat, Kejutan Tetap Terbuka

Kamis, 30 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung Agustus 2026, dinamika internal organisasi kian menghangat. Kontestasi kepemimpinan tidak lagi berjalan secara sporadis, melainkan mulai terbaca dalam pola berpasangan antara calon Ketua Umum dan calon Rais Aam.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa pertarungan di tubuh NU kini bergerak dalam format “paslon”, meskipun secara formal Rais Aam dipilih melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Dalam praktiknya, komposisi AHWA dinilai tidak sepenuhnya lepas dari pengaruh relasi dan kepentingan politik organisasi.

Sejumlah poros kekuatan mulai terlihat. Petahana Ketua Umum Yahya Cholil Staquf disebut tengah membangun komunikasi untuk menentukan pasangan Rais Aam yang mampu memperkuat basis dukungan. Sementara itu, Rais Aam petahana Miftachul Akhyar bersama Sekjen Saifullah Yusuf juga aktif mencari figur Ketua Umum yang akan diusung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sisi lain, nama Nazaruddin Umar muncul sebagai figur yang didukung kekuatan pemerintah, meski hingga kini masih dalam tahap penjajakan pasangan Rais Aam.

Poros lain datang dari jaringan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan IKA PMII. Meski masih terjadi persaingan internal di antara sejumlah kandidat Ketua Umum, kelompok ini relatif solid dalam mengerucutkan dukungan kepada Said Aqil Siradj sebagai calon Rais Aam.

Selain itu, muncul kekuatan dari Jawa Timur yang mendorong sejumlah nama seperti KH Abdul Hakim Mahfuz dan Marzuki Mustamar. Bahkan, konfigurasi terakhir disebut telah lebih jelas dengan mengarah pada dukungan Rais Aam kepada Said Aqil Siradj.

Peta Suara dan Skenario Koalisi
Jika dilihat dari kekuatan suara, peta kontestasi semakin menarik. Jaringan PKB–IKA PMII diperkirakan menguasai sekitar 250 suara. Sementara jaringan yang beririsan dengan Kementerian Agama memiliki sekitar 130 suara.

Adapun basis petahana Ketua Umum dan Rais Aam masing-masing diperkirakan berada di kisaran 100 suara. Di luar itu, terdapat sekitar 70–80 suara yang masih mengambang dan berpotensi menjadi penentu.

Pengamat menilai, peluang terbesar berada pada kemungkinan terbentuknya koalisi antara PKB–PMII dan jaringan Kementerian Agama. Jika kedua kekuatan ini bersatu, total dukungan dapat mencapai sekitar 400 suara—jumlah yang sangat dominan dalam menentukan hasil Muktamar.

Namun demikian, skenario tersebut tidak mudah terwujud. Di satu sisi, Nazaruddin Umar memiliki kepentingan untuk maju sebagai Ketua Umum. Di sisi lain, PKB–PMII juga berambisi mengusung kadernya sendiri.

“Di sinilah titik krusialnya. Apakah akan terjadi kompromi politik besar, atau justru benturan kepentingan?” ujar seorang sumber internal NU.

Nama Muhaimin Iskandar dan Nusron Wahid disebut memiliki peran penting dalam menentukan arah koalisi tersebut.

Meski koalisi besar berpotensi mendominasi, kekuatan petahana dinilai tidak bisa diremehkan. Yahya Cholil Staquf disebut berpeluang membangun poros tandingan dengan menggandeng tokoh kuat untuk posisi Rais Aam, seperti KH Asep Saifuddin Chalim atau Ma’ruf Amin.

Selain itu, sejumlah skenario alternatif juga berpotensi muncul, termasuk pasangan dari Jawa Timur maupun kombinasi tokoh-tokoh senior NU lainnya.

Dengan peta yang masih cair, Muktamar ke-35 dipastikan tidak akan berjalan dalam satu skenario tunggal.

Isu Kemandirian NU Mengemuka
Di tengah kontestasi yang kian menguat, isu kemandirian organisasi kembali menjadi sorotan. Sejumlah kalangan mengingatkan agar NU tetap menjaga jarak dari intervensi kekuasaan.

“NU harus tetap berdiri sebagai kekuatan moral, bukan alat politik praktis,” demikian pandangan yang berkembang di kalangan warga nahdliyin.

Muktamar ke-35 dinilai bukan sekadar ajang memilih pemimpin, melainkan momentum menentukan arah masa depan organisasi—apakah tetap independen atau justru terseret dalam kepentingan politik jangka pendek.

Dengan berbagai kemungkinan koalisi dan konfigurasi yang terus bergerak, satu hal yang pasti: arah Nahdlatul Ulama ke depan akan sangat ditentukan oleh hasil Muktamar mendatang.

Salam amar ma’ruf nahi munkar
HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy
Warga NU, Kiai Kampung

Berita Terkait

Pimpin Sertijab Kasat Lantas dan Kapolsek Taman, Kapolres Pemalang Apresiasi Dedikasi Pejabat Lama
Lapas Cipinang Diganjar Penghargaan UIN, Bukti Pembinaan Humanis dan Kolaboratif
Pelantikan Pengurus Ranting PGRI Gugus I Sangkapura, Perkuat Solidaritas dan Kebersamaan
PKDI Sumenep Hadiri Pengukuhan DPD Jatim di Surabaya, Tegaskan Soliditas Satu Komando Bersama Sampai Akhir
Lapas Kendal Jalin Sinergi dengan Kepala Desa Wonosari Perkuat Program Desa Binaan
Korwil V Bawean Gelar Lomba Mewarnai Damar Kurung dalam Rangka Hardiknas 2026
Di Tengah Gempuran Mafia Cukai oleh KPK, Rokok Bodong Malang Masih Aman Sentosa, Aktivis Desak Periksa KRS yang Diduga Jadi Otak Rokok Bodong Jaringan Gelap
Nasi Grombyang Kuliner Khas Pemalang Tak Lekang Ditelan Jaman

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 09:15 WIB

Menyongsong Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35: Poros Besar Menguat, Kejutan Tetap Terbuka

Rabu, 29 April 2026 - 14:52 WIB

Pimpin Sertijab Kasat Lantas dan Kapolsek Taman, Kapolres Pemalang Apresiasi Dedikasi Pejabat Lama

Rabu, 29 April 2026 - 14:50 WIB

Lapas Cipinang Diganjar Penghargaan UIN, Bukti Pembinaan Humanis dan Kolaboratif

Rabu, 29 April 2026 - 14:42 WIB

Pelantikan Pengurus Ranting PGRI Gugus I Sangkapura, Perkuat Solidaritas dan Kebersamaan

Rabu, 29 April 2026 - 14:05 WIB

PKDI Sumenep Hadiri Pengukuhan DPD Jatim di Surabaya, Tegaskan Soliditas Satu Komando Bersama Sampai Akhir

Berita Terbaru