Pukau Ribuan Pasang Mata, Malam Perpisahan SDN Panaongan III Sumenep Menjelma Menjadi Pelajaran Hidup yang Tak Terlupakan di Momentum Muharram

Rabu, 17 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMENEP – Malam Pisah Kenang Siswa Kelas VI SDN Panaongan III Tahun Pelajaran 2025–2026 yang digelar di halaman sekolah pada Selasa malam (16/6/2026) berlangsung meriah, penuh inspirasi, sekaligus menguras air mata.

Kegiatan yang menjadi rangkaian lanjutan dari Pengajian Umum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H pada siang harinya itu berhasil menghadirkan perpaduan sempurna antara nilai religius, pendidikan karakter, pelestarian budaya, dan penghormatan kepada orang tua.

Sejak sore hari, halaman sekolah telah dipadati wali murid dan masyarakat dari berbagai desa di sekitar Kecamatan Pasongsongan. Antusiasme penonton begitu luar biasa. Setiap rangkaian acara mendapat sambutan hangat dan tepuk tangan meriah dari para hadirin yang memadati lokasi kegiatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam sambutannya, Kepala SDN Panaongan III, Agus Sugianto, S.Pd., memaparkan berbagai program unggulan yang selama ini menjadi identitas sekolah, di antaranya SASIDA, APEL KELAS, BERTASBIH, JUMPAYASIN, PEMBASUH, SEGISAMA, SAPASATE, serta berbagai praktik baik lainnya yang berorientasi pada pembentukan karakter siswa.

Menurutnya, pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga membangun generasi yang berakhlak, disiplin, peduli terhadap sesama, serta memiliki kecintaan terhadap budaya dan lingkungan.

“Kami berharap seluruh siswa yang lulus tahun ini dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, meraih cita-cita yang diimpikan, dan tetap menjaga nama baik SDN Panaongan III di mana pun mereka berada,” pesannya.

Malam itu semakin semarak dengan berbagai penampilan seni siswa. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah Seni Topeng Madura, warisan budaya leluhur yang ditampilkan dengan penuh penghayatan oleh para siswa. Gerakan yang luwes, kostum tradisional yang memukau, dan alunan musik pengiring khas Madura sukses membuat penonton terpukau.

Tepuk tangan riuh rendah berkali-kali menggema dari seluruh penjuru halaman sekolah. Penampilan tersebut menjadi simbol bahwa SDN Panaongan III tidak hanya menanamkan prestasi akademik, tetapi juga berkomitmen menjaga dan melestarikan budaya daerah sebagai identitas bangsa.

Sementara itu, perwakilan siswa kelas VI, Sulistiana, tampil memukau saat menyampaikan sambutan menggunakan bahasa Madura halus. Dengan suara bergetar menahan haru, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh guru yang telah mendidik dan membimbing dirinya bersama teman-temannya selama enam tahun.

Ia juga memohon maaf atas segala kesalahan yang pernah dilakukan serta berpesan kepada adik-adik kelas agar terus rajin belajar, aktif mengikuti berbagai lomba akademik maupun nonakademik, serta senantiasa menjaga nama baik sekolah.

Namun, puncak emosi malam itu hadir melalui sebuah tayangan video yang diputar melalui Interactive Flat Panel (IFP). Video tersebut menampilkan keseharian para orang tua siswa kelas VI yang berjuang mencari nafkah demi masa depan anak-anak mereka.

Dalam tayangan tersebut tampak berbagai profesi yang dijalani para wali murid. Ada yang bekerja sebagai buruh bangunan, merantau ke luar Pulau Madura sebagai penjaga toko dan warung Madura, menjadi buruh tani di sawah, pengepul plastik bekas, hingga berbagai pekerjaan lainnya yang dijalani dengan penuh ketekunan dan pengorbanan.

Tayangan sederhana itu justru menjadi bagian yang paling menyentuh. Wajah-wajah penuh peluh, tangan-tangan yang kasar karena kerja keras, serta perjuangan tanpa keluh kesah yang selama ini dilakukan para orang tua membuat suasana yang semula meriah perlahan berubah menjadi hening.

Banyak siswa tampak menundukkan kepala. Sebagian lainnya mulai mengusap air mata ketika melihat langsung perjuangan ayah dan ibu mereka di layar besar. Tangisan pun pecah di antara para siswa kelas VI ketika menyadari bahwa setiap langkah yang mereka tempuh selama ini dibangun di atas pengorbanan orang tua yang luar biasa.

Suasana haru semakin mencapai puncaknya ketika Sulaiman, siswa berprestasi SDN Panaongan III yang berhasil meraih Juara III Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Jawa Timur, naik ke atas panggung bersama rekan-rekannya untuk melantunkan lagu “Muara Kasih Bunda.”

Kidung penuh makna itu mengalun lembut di bawah langit malam Muharram. Suara merdu Sulaiman seakan menyampaikan pesan tentang cinta seorang ibu yang tak pernah mengenal batas serta pengorbanan orang tua yang tak dapat diukur dengan apa pun.

Saat lagu terus berkumandang, satu per satu siswa kelas VI turun dari panggung dan menghampiri kedua orang tua mereka. Dengan mata sembab dan suara bergetar, mereka memeluk ayah dan ibunya erat-erat, meminta maaf atas segala kesalahan, mengucapkan terima kasih atas setiap pengorbanan, serta memohon doa dan ridha untuk melanjutkan perjalanan menuju masa depan.

Tak ada lagi sekat antara panggung dan penonton. Tangisan pecah hampir di setiap sudut halaman sekolah. Para orang tua menangis sambil memeluk anak-anak mereka. Guru-guru, tamu undangan, bahkan masyarakat yang hadir pun tak mampu menyembunyikan rasa haru.

Malam itu menjadi pengingat bahwa di balik setiap keberhasilan seorang anak, terdapat doa yang tak pernah putus, peluh yang tak pernah dihitung, dan cinta yang tak pernah meminta balasan dari seorang ayah dan ibu.

Malam Pisah Kenang SDN Panaongan III akhirnya bukan sekadar seremoni pelepasan siswa. Ia menjelma menjadi panggung pendidikan karakter yang sesungguhnya; menghadirkan penghormatan kepada orang tua, kebanggaan terhadap budaya Madura, kecintaan kepada sekolah, serta semangat untuk terus melangkah menuju masa depan yang lebih baik.

Di bawah langit Muharram yang penuh berkah, para lulusan SDN Panaongan III meninggalkan almamaternya dengan membawa bekal ilmu, karakter, dan kenangan yang akan terus hidup dalam ingatan mereka. Sebuah malam yang mengajarkan bahwa setinggi apa pun cita-cita diraih, jangan pernah melupakan tangan-tangan yang pertama kali mengangkat dan mendoakan kita: ayah dan ibu.

Penulis : Red

Berita Terkait

Tak Lagi Dipandang Sebelah Mata, SDN Panaongan III Sumenep Buktikan Sekolah Desa Mampu Menggema hingga Tingkat Nasional
Jarak Ratusan Meter Tetap Tersingkir, Jalur Domisili PPDB SMA Negeri Dinilai Hanya Formalitas
Festival Paseser Pasongsongan Paseser Patongtongan 2026 Siap Guncang Pesisir Sumenep
Rakor Menuju Festival Budaya Raksasa, Festival Paseser Pasongsongan Paseser Patongtongan 2026 Siap Tampilkan 757 Penari Tongtong Pelajar
Lepas Generasi Emas, SDN Lembung Timur Sumenep dan PAUD Delima Gelar Pentas Seni Perpisahan Penuh Haru
Dari Sampah Jadi Berkah, Siswa Kelas 5 SDN Soddara I Sumenep Hasilkan Manfaat dari Limbah Plastik
Tak Sekadar Kelulusan, SDN Barkot 3 Pamekasan Rayakan Perjuangan Enam Tahun Siswa Bersama Wali Murid
Prof Sri Astutik Dikukuhkan Jadi Guru Besar Hukum Bisnis Unitomo Surabaya

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 10:38 WIB

Pukau Ribuan Pasang Mata, Malam Perpisahan SDN Panaongan III Sumenep Menjelma Menjadi Pelajaran Hidup yang Tak Terlupakan di Momentum Muharram

Senin, 15 Juni 2026 - 17:23 WIB

Tak Lagi Dipandang Sebelah Mata, SDN Panaongan III Sumenep Buktikan Sekolah Desa Mampu Menggema hingga Tingkat Nasional

Senin, 15 Juni 2026 - 14:21 WIB

Jarak Ratusan Meter Tetap Tersingkir, Jalur Domisili PPDB SMA Negeri Dinilai Hanya Formalitas

Senin, 15 Juni 2026 - 11:33 WIB

Festival Paseser Pasongsongan Paseser Patongtongan 2026 Siap Guncang Pesisir Sumenep

Senin, 15 Juni 2026 - 11:19 WIB

Rakor Menuju Festival Budaya Raksasa, Festival Paseser Pasongsongan Paseser Patongtongan 2026 Siap Tampilkan 757 Penari Tongtong Pelajar

Berita Terbaru