SUMENEP, Detikzone.id — Minggu, 6 September 2026 — Baru sembilan bulan dipercaya memimpin Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumenep, Anwar Syahroni Yusuf mulai menunjukkan sejumlah gebrakan dalam penataan dan pengelolaan lingkungan.
Salah satu perubahan yang cukup mencolok terlihat di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Torbang, Kecamatan Batuan.
TPA yang selama ini identik dengan tumpukan sampah, bau menyengat, lalat dan kesan kumuh, perlahan mulai berubah wajah. Pengelolaan sampah diperketat, kawasan dihijaukan, penerangan diperkuat, sekaligus disiapkan ruang terbuka yang dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pantauan di lokasi, sejumlah bagian kawasan TPA tampak lebih tertata. Pepohonan, rumput dan tanaman bunga mulai menghiasi area yang sebelumnya identik dengan aktivitas pembuangan sampah.
Ruang terbuka yang tersedia pun mulai dimanfaatkan masyarakat. Tidak hanya anak-anak yang bermain layang-layang, tetapi kawasan tersebut juga mulai digunakan untuk aktivitas olahraga dan kegiatan masyarakat lainnya.
Pemandangan itu menjadi salah satu gambaran perubahan konsep pengelolaan TPA Torbang. Namun, pemanfaatan ruang tersebut bukan tujuan utama, melainkan bagian dari penataan kawasan yang dilakukan secara bertahap.
Kepala DLH Sumenep, Anwar Syahroni Yusuf, mengatakan langkah pertama yang dilakukan adalah memastikan sampah tidak lagi dibiarkan terbuka.
“Pertama, kita sudah tidak membuka ruang sampah terbuka. Secara periodik itu ditutup dengan tanah. Secara berkala kita melakukan penyemprotan anti lalat dan anti bau,” ujar Anwar.
Sebelum dilakukan penutupan, sampah terlebih dahulu ditata dan dipilah. Setelah itu dilakukan penutupan secara berkala agar sampah tidak berserakan dan kondisi kawasan lebih terkendali.
Pengelolaan tersebut kemudian dilengkapi dengan penghijauan dan penataan lingkungan.
“Yang kedua, kita lakukan langkah-langkah penghijauan, penanaman pohon, rumput dan bunga, kemudian memperkuat penerangan,” jelasnya.
Menurut Anwar, langkah tersebut menjadi bagian dari konsep yang lebih besar. TPA tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai tempat pengelolaan sampah, tetapi kawasan yang memungkinkan untuk ditata diarahkan agar memiliki nilai lingkungan dan manfaat sosial.
Karena itu, ruang terbuka di kawasan tersebut dapat dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat sekitar.
“Kalau memang masyarakat mau lapangan voli, maka akan kita bangun lapangan voli. Tergantung animo masyarakat sekitar,” kata Eks Kepala DPMD ini .
Bagi Anwar, kehadiran masyarakat yang mulai menggunakan kawasan tersebut merupakan dampak positif dari penataan yang dilakukan. Namun, ia tidak ingin TPA hanya dipandang sebagai tempat bermain atau sekadar ruang terbuka.
Lebih jauh, ia ingin membangun sistem pengelolaan sampah yang sekaligus mampu menciptakan kawasan yang bersih, hijau, tertata dan memiliki nilai edukasi serta sosial.
Sementara, saat dikonfirmasi mengenai langkah strategis DLH ke depan, Anwar mengatakan konsep tersebut akan terus dikembangkan secara bertahap.
Menurutnya, pengelolaan TPA harus dilakukan dengan perencanaan yang jelas. Tidak hanya bagaimana sampah ditampung dan ditutup, tetapi juga bagaimana kawasan yang sudah tertata dapat memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa mengganggu fungsi utama TPA.
“Konsepnya kita tata. Jadi bukan hanya sampahnya yang kita kelola, tetapi lingkungannya juga kita perhatikan. Ada penghijauan, penerangan dan ruang yang bisa dimanfaatkan,” ungkapnya.
Ia bahkan menyimpan cita-cita agar pengelolaan sampah di Sumenep suatu saat dapat memiliki konsep yang jauh lebih maju.
“Cita-cita saya, suatu waktu pengelolaan sampah ini bukan hanya menjadi tempat sampah, tapi menjadi tempat bertamasya,” tuturnya.
Bagi Anwar, gagasan tersebut bukan berarti menjadikan TPA sebagai tempat wisata dalam waktu singkat. Namun, bagaimana kawasan pengelolaan sampah dapat ditata sehingga tidak lagi identik dengan lingkungan kumuh dan justru memiliki nilai positif bagi masyarakat.
Sejak dipercaya menjabat sebagai Kepala DLH Sumenep pada Januari 2026, Anwar terus mendorong inovasi dalam pengelolaan lingkungan.
Ia menilai, menjaga kebersihan bukan sekadar menjalankan tugas pemerintahan, melainkan bentuk pengabdian kepada daerah dan tanggung jawab moral terhadap lingkungan.
“Membersihkan sampah ini adalah jihad lingkungan. Sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, kita menjaga kebersihan dan lingkungan,” tegasnya.
Ia berharap perubahan di TPA Torbang dapat terus dilanjutkan dan tidak berhenti pada penataan fisik semata.
Dukungan masyarakat, menurutnya, menjadi bagian penting agar kawasan yang telah dibangun dan ditata dapat dipelihara secara berkelanjutan.
“Harapan kami, masyarakat ikut menjaga. Pemerintah menata, masyarakat ikut memelihara. Dengan begitu, apa yang sudah kita lakukan bisa terus memberikan manfaat,” pungkasnya.
Langkah pembenahan tersebut mendapat apresiasi dari tokoh masyarakat Sumenep, Haji Samsul.
Ia menilai, langkah yang dilakukan Anwar menunjukkan adanya semangat baru dalam mengelola persoalan lingkungan, khususnya penanganan sampah yang selama ini menjadi tantangan di berbagai daerah.
“Ini sebuah langkah yang patut diapresiasi. TPA biasanya identik dengan sampah, bau dan lingkungan yang kurang nyaman. Tetapi ketika ditata dengan baik, dihijaukan dan diberikan ruang yang bisa dimanfaatkan masyarakat, tentu ini menjadi sesuatu yang positif,” ujar Haji Samsul.
Menurutnya, perubahan di TPA Torbang menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah tidak harus berhenti pada persoalan membuang dan menumpuk sampah.
Ia melihat DLH Sumenep mulai membangun pendekatan yang lebih inovatif dengan menggabungkan pengelolaan sampah, penghijauan dan pemanfaatan ruang.
“Menurut saya, wajah DLH Sumenep sekarang mulai terlihat berbeda. Ada inovasi, ada keberanian untuk melakukan perubahan dan ada upaya menghadirkan manfaat yang bisa dirasakan masyarakat,” katanya.
Haji Samsul juga mengapresiasi konsep penghijauan dan penataan kawasan TPA Torbang. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan membutuhkan kreativitas sekaligus konsistensi.
“Kalau kawasan TPA bisa dibuat lebih hijau, lebih tertata dan masyarakat bisa merasa nyaman, tentu ini sebuah kemajuan. Apalagi kalau ke depan bisa dikembangkan menjadi ruang publik yang tetap memperhatikan fungsi utama TPA,” tuturnya.
Ia berharap inovasi yang dilakukan DLH tidak berhenti pada TPA Torbang, tetapi terus dikembangkan secara berkelanjutan di kawasan lainnya.
Menurutnya, menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah memiliki kewajiban menyiapkan sistem dan fasilitas, sementara masyarakat harus memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan.
“Yang paling penting, inovasi ini harus dijaga keberlanjutannya. Jangan hanya bagus ketika baru ditata. Masyarakat juga harus ikut merawat dan menjaga kebersihan,” pungkasnya.







