PROBOLINGGO – Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Diskoparekraf) Kabupaten Probolinggo resmi mengukuhkan 46 pemandu ekowisata muda yang dinyatakan kompeten. Pengukuhan ini dilakukan melalui agenda pemantapan hasil sertifikasi dan pengembangan profesionalisme di aula Diskoparekraf, Desa Pabean, Kecamatan Dringu, Senin (21/9/2026).
Penyerahan sertifikat kompetensi ini dipimpin langsung oleh Kepala Diskoparekraf Kabupaten Probolinggo, Heri Mulyadi, didampingi Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata, Umi Subiyantiningsih. Langkah ini merupakan tindak lanjut konkret dari Sertifikasi Kompetensi Kerja Bidang Kepariwisataan (SKKBK) yang digelar berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata RI dan LSP PARESTA pada Mei 2026 lalu. Dari 50 peserta yang mendaftar, 46 orang dari unsur HPI, Pokdarwis, dan pegiat wisata berhasil menyabet predikat kompeten.
Heri Mulyadi menegaskan bahwa sertifikat yang dikantongi para peserta bukan sekadar dokumen administratif atau pajangan di dinding. Sertifikat tersebut merupakan bukti nyata dari kapasitas dan sikap kerja standar tinggi yang siap diuji di medan wisata yang sesungguhnya.”Saya minta kompetensi yang telah diperoleh dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas di lapangan. Pemandu wisata harus mampu memberikan informasi yang benar, menarik, aman, nyaman, dan mudah dipahami,” ujar Heri tegas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi Heri, tantangan terbesar ada pada pemandu ekowisata. Mereka dituntut tidak hanya piawai berbicara, tetapi juga wajib menguasai aspek lingkungan, kawasan konservasi, aturan adat, hingga urusan keselamatan wisatawan.
Pertemuan ini juga menjadi jembatan krusial bagi para pemandu untuk naik ke level profesional berikutnya. Menghadirkan perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, para peserta dibekali panduan legalitas dan prosedur pengurusan lisensi resmi pramuwisata.”Sertifikat kompetensi bukanlah akhir cerita. Tahapan berikutnya adalah mengantongi lisensi pemandu wisata sebagai bagian dari legalitas profesi,” tambah Heri.
Di tengah dinamisnya tren pariwisata global, Diskoparekraf meminta para pemandu untuk terus mengasah kemampuan komunikasi, penguasaan destinasi, pengetahuan budaya, penguasaan bahasa asing, hingga pemanfaatan teknologi digital.
Di akhir arahannya, Heri mengingatkan bahwa pemandu wisata adalah garda depan sekaligus cerminan daerah bagi para pelancong. Etika, sopan santun, kedisiplinan, hingga penampilan menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.”Jaga nama baik Kabupaten Probolinggo dalam setiap pelaksanaan tugas kepemanduan. Kita ingin membangun pemandu wisata yang tidak hanya kompeten, tetapi juga profesional dan memiliki legalitas kepemanduan yang kuat,” pungkasnya.
Penulis : Probolinggo







