Jeda Kunjungan Dokter 33 Jam Berujung Maut, Dewan Pengawas RSUD Waluyo Jati Probolinggo Evaluasi Pelayanan

Kamis, 1 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ket Foto: RSUD Waluyo Jati Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, menjadi sorotan atas dugaan kelalaian pelayanan medis terhadap pasien hingga meninggal dunia.

Ket Foto: RSUD Waluyo Jati Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, menjadi sorotan atas dugaan kelalaian pelayanan medis terhadap pasien hingga meninggal dunia.

PROBOLINGGO- Sebuah tragedi kemanusiaan kembali mencoreng potret pelayanan kesehatan di Kabupaten Probolinggo. RSUD Waluyo Jati Kraksaan kini berada di bawah sorotan tajam setelah munculnya dugaan kelalaian fatal. pembiaran seorang pasien kritis tanpa kunjungan dokter spesialis selama 33 jam hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Gerak cepat kini dipertaruhkan. Dewan Pengawas RSUD Waluyo Jati mulai membongkar dan mengevaluasi total manajemen pelayanan medis rumah sakit pelat merah tersebut.
Ketua Dewan Pengawas RSUD Waluyo Jati yang juga menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo, Ugas Irwanto, menegaskan bahwa investigasi internal sedang berjalan demi mengembalikan marwah pelayanan publik.

“Saat ini lagi proses evaluasi menyeluruh pemantauan untuk peningkatan pelayanan prima,” ujar Ugas dengan nada tegas saat dikonfirmasi, Selasa (30/9/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Langkah evaluasi ini tidak lahir di ruang hampa. Ini adalah respons atas jeritan keadilan dari keluarga almarhum Pauzi, seorang korban kecelakaan lalu lintas. Alih-alih mendapatkan perawatan intensif di masa-masa kritisnya, Pauzi diduga “ditelantarkan” dari sentuhan medis ahli yang sangat dibutuhkannya.
Kuasa hukum keluarga korban, Achmad Mukhoffi, secara resmi telah melayangkan laporan berat ke Inspektorat Kabupaten Probolinggo. Pihaknya menuntut adanya audit investigatif yang menyeluruh, transparan, dan tanpa tebang pilih.

“Kami mempersoalkan tidak adanya kunjungan langsung (visite) oleh dokter spesialis penanggung jawab pasien selama kurang lebih 33 jam. Padahal, saat itu kondisi pasien dilaporkan sedang kritis,” ungkap Mukhoffi dengan nada getir.

Bagi Mukhoffi, lembar demi lembar dokumen medis harus dibuka secara terang benderang. Audit yang ia desak bukan sekadar formalitas di atas kertas, melainkan harus mencakup penelusuran mendalam terhadap.

Dokumen Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi (CPPT),
Log kunjungan faktual dari empat Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP),Serta administrasi klaim jasa pelayanan medis yang selama ini berjalan.

“Pencocokan antara dokumen medis dan kondisi faktual di lapangan adalah harga mati. Kami harus tahu apakah SOP benar-benar dijalankan atau sekadar menjadi pajangan saat nyawa manusia dipertaruhkan,” tambahnya.

Gayung bersambut, jeritan keluarga korban mulai direspons oleh lini pengawasan daerah. Inspektur Inspektorat Kabupaten Probolinggo, Imron Rosyadi, menyatakan kesiapan instansinya untuk membedah laporan tersebut secara objektif.
“Kami siap mempelajari laporan tersebut sesuai mekanisme pengawasan yang berlaku,” tegas Imron.

Kini, bola panas berada di tangan Dewan Pengawas dan Inspektorat. Proses penelaahan ini diharapkan tidak sekadar menjadi peredam amarah publik, melainkan mampu menjadi titik balik untuk mengklarifikasi tabir gelap yang menyelubungi kematian Pauzi.

Masyarakat Probolinggo kini menanti. Hasil pemeriksaan ini akan menjadi ujian komitmen bagi pemerintah daerah: apakah mereka mampu menyuguhkan keadilan bagi warganya, sekaligus merombak total tata kelola kesehatan di RSUD Waluyo Jati agar tragedi serupa tak kembali merenggut nyawa.

Penulis : Moch Solihin

Berita Terkait

Siswa Kelas II SD di Pemalang Meninggal, Keluarga Ungkap Dugaan Perundungan
Dugaan Penipuan CPNS Rp335 Juta di Kota Kediri: Oknum ASN Berdalih Utang Piutang meski Ada Kwitansi Bermaterai
Kabar Bahagia Warga Sumenep! RSUDMA Bawa Teknologi CT Scan 64 Slice, Tak Ada Lagi Pasien Terlambat Terdiagnosis ​
Kasus Tipu CPNS Rp116,5 Juta di Kota Kediri: Terlapor NDK Klaim Hanya 90 Jutaan
Dituding Jadi Calo CPNS Rp116 Juta, Oknum ASN Kediri Mengaku Cuma Perantara: “Uangnya ke Nina, Saya Cuma Dapat 1 Juta”
Suntikan Energi Baru Pelayanan Kesehatan, Dinkes Probolinggo Sambut 24 Dokter Internsip
T Mengaku Dipermalukan Berulang Kali, Admin Arisan Kini Terancam Dilaporkan
Polres Situbondo Amankan ASN Guru Terduga Kekerasan Seksual

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 15:02 WIB

Siswa Kelas II SD di Pemalang Meninggal, Keluarga Ungkap Dugaan Perundungan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 12:41 WIB

Dugaan Penipuan CPNS Rp335 Juta di Kota Kediri: Oknum ASN Berdalih Utang Piutang meski Ada Kwitansi Bermaterai

Kamis, 1 Oktober 2026 - 12:24 WIB

Jeda Kunjungan Dokter 33 Jam Berujung Maut, Dewan Pengawas RSUD Waluyo Jati Probolinggo Evaluasi Pelayanan

Rabu, 30 September 2026 - 14:59 WIB

Kabar Bahagia Warga Sumenep! RSUDMA Bawa Teknologi CT Scan 64 Slice, Tak Ada Lagi Pasien Terlambat Terdiagnosis ​

Selasa, 29 September 2026 - 22:31 WIB

Kasus Tipu CPNS Rp116,5 Juta di Kota Kediri: Terlapor NDK Klaim Hanya 90 Jutaan

Berita Terbaru

NASIONAL

Surat AI Pada Presiden dan Menhan

Kamis, 1 Okt 2026 - 15:27 WIB