Tak Ingin Budaya Madura Tinggal Cerita, ALiansi Jurnalis Pamekasan-DKP dan KNPI Gelar Pekan Kebudayaan 25–31 Oktober 2026

Senin, 12 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PAMEKASAN — Kebudayaan Madura tidak boleh sekadar menjadi cerita masa lalu bagi generasi penerus. Semangat itulah yang melatarbelakangi kolaborasi Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP), Dewan Kesenian Pamekasan (DKP), dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) se-Madura dalam menggelar Pekan Kebudayaan Madura di Monumen Arek Lancor, Pamekasan, pada 25–31 Oktober 2026.

Mengusung tema “Dari M. Tabrani untuk Indonesia”, kegiatan tersebut menjadi upaya memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Madura sekaligus menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga identitas daerah di tengah perkembangan zaman.

Nama M. Tabrani diangkat sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh pergerakan nasional yang dikenal memperjuangkan penggunaan istilah Bahasa Indonesia dalam gagasan persatuan bangsa pada masa pergerakan nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selama sepekan, masyarakat akan disuguhi beragam kegiatan, mulai dari pameran budaya Madura, bazar kuliner khas Pamekasan, diskusi dan orasi kebudayaan, hingga pembacaan Sumpah Pemuda. Puncak kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, melalui Sarasehan Kebudayaan yang menghadirkan sejumlah tokoh kebudayaan Madura.

Sarasehan tersebut menjadi ruang bagi para tokoh untuk menyampaikan pandangan dan pengalaman mengenai kondisi kebudayaan Madura, sekaligus mengajak masyarakat mengambil bagian dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya lokal.

Ketua AJP, M. Khairul Umam, menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian penting dari identitas masyarakat yang harus terus dirawat dan diwariskan.

Menurutnya, upaya pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial. Pengenalan dan penanaman nilai budaya perlu dimulai sejak dini agar generasi muda tetap mengenali jati dirinya.

“Kalau kita tidak mengenal dan merawatnya, suatu saat generasi berikutnya mungkin hanya akan mengenal kebudayaan Madura sebagai cerita dari masa lalu,” kata Khairul Umam.

Jurnalis yang akrab disapa Irul itu menilai perkembangan teknologi dan masuknya budaya dari berbagai daerah maupun negara merupakan bagian dari perubahan zaman yang tidak dapat dihindari. Namun, generasi muda tetap perlu memiliki pemahaman terhadap akar budaya dan identitas daerahnya.

“Anak-anak kita boleh mengikuti perkembangan zaman dan mengenal budaya dari mana pun. Tetapi mereka juga harus tahu siapa dirinya, dari mana asalnya, dan apa yang menjadi kekayaan budayanya,” ujarnya.

Libatkan Pelajar, Tanamkan Kecintaan terhadap Budaya

Komitmen mengenalkan kebudayaan sejak dini diwujudkan melalui pelibatan pelajar tingkat SD dan SMP sederajat dalam sejumlah perlombaan dan kegiatan seni.

Berbagai kegiatan yang disiapkan meliputi lomba cipta dan baca puisi bertema perjuangan, membatik Madura, peragaan busana tradisional Madura bertema Marlena dan Sakera, menyanyi lagu daerah Madura, tari saman, serta mewarnai batik Madura.

Keterlibatan pelajar tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ajang unjuk kemampuan, tetapi juga sarana mengenalkan nilai-nilai budaya melalui pengalaman langsung.

Ketua DKP, Arief Wibisono, mengatakan Pekan Kebudayaan Madura berangkat dari gagasan sederhana untuk membangun kepedulian bersama terhadap seni dan budaya lokal.

Ia berharap gagasan tersebut dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas apabila mendapat dukungan dari berbagai kalangan, termasuk insan pers, pengusaha, dan pemimpin daerah.

“Harapan kami bahwa meskipun ini ide kecil, tapi bagaimana suatu saat ini menjadi besar. Apalagi kalau wartawan, pengusaha, dan pemimpin satu pemahaman, mau peduli di dalam persoalan ini. Mudah-mudahan dengan kegiatan ini, kita terketuk,” katanya.

Pria yang akrab disapa Ayiek itu juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan pembangunan daerah, termasuk antara seni, budaya, agama, dan olahraga.

Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam Gerbang Salam atau Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami di Pamekasan diharapkan dapat berjalan beriringan dengan penguatan kesenian dan kebudayaan masyarakat.

“Mudah-mudahan jargon Gerbang Salam di Pamekasan terjadi keseimbangan yang terjaga antara seni, budaya, agama, dan olahraga,” tuturnya.

Ia menegaskan, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, ruang ibadah, hiburan, dan sarana olahraga tetap perlu diperhatikan. Namun, pengembangan berbagai aspek kehidupan tersebut juga harus berpijak pada identitas budaya masyarakat setempat.

“Yang terpenting semuanya mengakar pada entitas budaya kita,” imbuhnya.

Ayiek juga menekankan bahwa kegiatan tersebut diselenggarakan secara independen melalui semangat gotong royong dari kelompok-kelompok yang memiliki kepedulian terhadap kebudayaan. Menurutnya, manfaat kegiatan diharapkan dapat dirasakan masyarakat luas, bukan hanya organisasi penyelenggara.

Kebudayaan sebagai Fondasi Pendidikan Karakter

Lebih jauh, Arief menempatkan kesenian sebagai salah satu sarana penting dalam membangun karakter generasi muda. Karena itu, keterlibatan anak-anak dalam rangkaian kegiatan menjadi bagian dari upaya mengenalkan nilai budaya sejak pendidikan dasar.

Ia berpandangan bahwa pendidikan tidak semestinya hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga perlu membangun karakter dan pemahaman terhadap nilai-nilai budaya.

“Berbagai kegiatan seni dan budaya yang kami gelar ini, karena kesenian ini bagi kami adalah ruhnya. Dalam beberapa kegiatan, kami juga melibatkan anak-anak sebagai peserta. Karena kami ingin menekankan pada pendidikan karakter, terutama bagi pelajar,” jelasnya.

Ia menambahkan, penanaman nilai-nilai budaya sejak dini diharapkan menjadi bagian dari proses pembentukan karakter anak, sehingga kecakapan akademik dapat berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap identitas dan lingkungan sosialnya.

“Jadi, kami ingin mendidik benar dulu, sebelum pintar. Jadi terbangun lewat kebudayaan, dari dasar, dan budaya ini harus berdasar,” pungkasnya.

Melalui Pekan Kebudayaan Madura, AJP, DKP, dan KNPI se-Madura berharap seni dan budaya lokal semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, terutama generasi muda. Sebab, menjaga kebudayaan bukan hanya tentang mengenang masa lalu, melainkan memastikan warisan identitas Madura tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

Berita Terkait

Yuk, Buruan Belanja di Toko Emas Central 88 Pamekasan, Investasi Dunia Akhirat! Membeli = Berbagi, Berpeluang Raih Paket Umrah Gratis
Tak Hanya Santuni Penghafal Al-Qur’an, Santri Anak Yatim dan Santri Disabilitas, Bang Ali Bawa Misi Kepedulian untuk 3.000 Santri Pamekasan, Rencanakan Gedung Ainun Umar dan Masjid
Usai Resepsi di Banyuwangi, Bos Ayunda H. Bambang Budianto dan CEO Dian Gorden Gelar Unduh Mantu di Pamekasan, Ribuan Tamu Hadir
Polemik Soto Mantenan Kediri Memanas: LSM RATU Desak Pemkot Usut Tuntas Perizinan Bangunan
PC DMI, MUI Sangkapura, dan LTMNU Bawean Gelar Turba, Perkuat Pengelolaan Masjid
Mulai Besok Selamat Tiga Hari, Pameran dan Uji Tembak Batu Akik Bupati Sumenep Cup 2026 Diikuti Peserta se-Indonesia, Hadiah Utama Mobil Civic LX
Matangkan Persiapan Bupati Cup 2026, Panitia Pameran dan Uji Tembak Batu Akik Sumenep Gelar Rakoor Pemantapan
Berdalih Asas Praduga Keabsahan, KPU Dituntut Lepas Kacamata Kuda Usai ‘Sentilan’ MK Soal Verifikasi Ijazah Gibran

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:34 WIB

Yuk, Buruan Belanja di Toko Emas Central 88 Pamekasan, Investasi Dunia Akhirat! Membeli = Berbagi, Berpeluang Raih Paket Umrah Gratis

Senin, 12 Oktober 2026 - 07:53 WIB

Tak Ingin Budaya Madura Tinggal Cerita, ALiansi Jurnalis Pamekasan-DKP dan KNPI Gelar Pekan Kebudayaan 25–31 Oktober 2026

Minggu, 11 Oktober 2026 - 13:04 WIB

Tak Hanya Santuni Penghafal Al-Qur’an, Santri Anak Yatim dan Santri Disabilitas, Bang Ali Bawa Misi Kepedulian untuk 3.000 Santri Pamekasan, Rencanakan Gedung Ainun Umar dan Masjid

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:58 WIB

Usai Resepsi di Banyuwangi, Bos Ayunda H. Bambang Budianto dan CEO Dian Gorden Gelar Unduh Mantu di Pamekasan, Ribuan Tamu Hadir

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 12:35 WIB

Polemik Soto Mantenan Kediri Memanas: LSM RATU Desak Pemkot Usut Tuntas Perizinan Bangunan

Berita Terbaru