KEDIRI — Kasus dugaan pelecehan seksual kembali mencoreng dunia pendidikan di Kota Kediri.
Seorang siswi sebut saja melati, berusia 15 tahun yang duduk di bangku kelas 10 di salah satu boarding school di Kota Kediri, diduga menjadi korban pelecehan seksual oleh oknum guest teacher dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) berinisial A.
Peristiwa pilu ini terjadi di dalam bus rombongan sekolah dalam perjalanan pulang usai kegiatan outing class dari Solo menuju Kota Kediri pada Kamis, 15 Oktober 2026 lalu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan hasil penelusuran dan wawancara investigatif mendalam terhadap korban, tindakan tidak senonoh tersebut dilakukan terduga pelaku di sepanjang perjalanan.
Korban menuturkan bahwa terduga pelaku berulang kali melancarkan aksinya dengan menyandarkan tubuh, meraba area lutut, paha, perut bawah hingga meremas payudara korban dari arah belakang.
“Saya duduk orangnya nyender gini sambil ngelus paha saya gini… sampai ke paha atas… terus ngeremet (remas -red) payudara saya dari belakang dan itu lama, Pak, kayak berkali-kali,” ujar korban dengan nada bergetar saat menceritakan detik-detik mengerikan tersebut.
Diceritakannya, situasi di dalam bus yang minim pengawasan dimanfaatkan oleh terduga pelaku.
Lebih lanjut kata dia, saat kejadian, sebagian besar penumpang dan teman-teman korban dalam kondisi tertidur lelap.
Korban mengaku sempat berusaha memberikan isyarat dengan menendang botol minum (tumbler) milik temannya ke lantai bus dan mencoba mencari pertolongan. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena kondisi sekitar yang gelap dan tidak ada rekan yang terbangun.
“Mau teriak itu nggak bisa, mulut saya kayak enggak bisa napas, cuma pengen nangis, speechless, freeze,” ungkap korban menggambarkan rasa trauma dan ketakutan luar biasa yang dialaminya saat itu.
Masih kata korban, aksi bejat tersebut diduga tidak hanya menimpa satu orang saja. Berdasarkan pengakuan korban usai tiba di tempat tujuan (boarding school), ia memberanikan diri untuk bercerita kepada rekan terdekatnya, seorang teman berinisial B.
Mengejutkannya, teman tersebut mengungkapkan bahwa ia juga pernah mengalami tindakan serupa dari oknum guru yang sama pada beberapa waktu sebelumnya.
Untuk diketahui, modus operandi pelaku tergolong licik; terduga pelaku enggan pindah tempat duduk dan sesekali memantau situasi layaknya petugas patroli untuk memastikan para siswa lain benar-benar tidur, sebelum akhirnya kembali mendekati korban.
Kendati demikian, saat didesak atau dikonfrontasi terkait perbuatannya, terduga pelaku menunjukkan gelagat berkelit. Oknum guru inisial A tersebut sempat melontarkan pengakuan yang dibalut dengan dalih pembelaan diri, dengan menyatakan bahwa dirinya salah dan meminta maaf kepada keluarga korban, namun berdalih bahwa sentuhan pada bagian sensitif seperti payudara korban terjadi secara tidak sengaja akibat situasi di kendaraan atau posisi duduk.
“Waktu itu saya menenangkan dia (korban -red) dan gini pak, akhirnya kesentuh itu payudaranya. Ya kesentuh, menyentuh atau tersentuh. Udah gitu aja,” ungkapnya.
Di tengah kemelut trauma yang mendalam, Mr. R (39) ayah korban tidak tinggal diam. Awalnya, orang tua korban menghubungi organisasi sosial spiritual Yakuza Maneges untuk meminta pendampingan terkait permasalahan yang dialami putrinya tersebut pada Senin 26/10/2026 siang.
Kepada pihak organisasi asuhan Den Gus Thuba Topo Broto Maneges, orang tua korban menyampaikan bahwa mereka telah resmi melaporkan dugaan pelecehan seksual ini ke pihak kepolisian, menjalani prosedur visum, serta menyerahkan barang bukti berupa pakaian yang dikenakan korban saat kejadian.
Meski proses hukum telah berjalan, pihak keluarga merasa sangat membutuhkan pendampingan dari Yakuza Maneges agar terduga pelaku dapat segera diproses secara tuntas oleh aparat penegak hukum.
“Agar hukum tegak dan kami mendapatkan keadilan atas musibah ini,” ujar Mr. R penuh harap.
Menanggapi aduan masyarakat tersebut, Ketua Yakuza Maneges Pusat Kediri, Jack, bersama belasan anggotanya bergerak cepat kurang dari 24 jam dengan langsung mengawal dan menyerahkan terduga pelaku ke pihak kepolisian.
“Pihak berwenang serta institusi terkait di Kota Kediri untuk segera mengusut tuntas dugaan kekerasan seksual ini secara transparan demi melindungi masa depan korban dan mencegah jatuhnya korban lain,” tegas Jack saat meninggalkan Polres Kediri Kota dini hari.
Kasus ini kini menjadi sorotan serius terkait keamanan anak didik, khususnya dalam kegiatan mobilitas sekolah seperti outing class.
Penulis : Red







