SUMENEP – Perubahan wajah pendidikan di sekolah tidak selalu harus dimulai dengan pembangunan gedung baru, pengadaan fasilitas mewah, atau sederet kebijakan besar. Terkadang, perubahan justru bermula dari hal-hal sederhana: membiasakan anak bersalaman dengan orang tua, membersihkan taman sekolah, membaca Al-Qur’an, hingga belajar berbagi dengan sesama.
Semangat itulah yang kini mulai tumbuh di SDN Padangdangan I, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.
Sejak Agus Sugianto, S.Pd. dilantik sebagai kepala sekolah pada 11 Oktober 2026 dan melaksanakan serah terima jabatan dari kepala sekolah sebelumnya, H. Matrasit, M.Pd., sekolah yang mengusung ikon “Sekolahku, Surgaku” tersebut mulai menggerakkan serangkaian pembiasaan pendidikan karakter secara lebih terstruktur.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebanyak 12 program unggulan diperkenalkan sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan kepribadian, akhlak, kedisiplinan, kepedulian sosial, dan kebiasaan hidup sehat.

Menariknya, program-program tersebut dirancang dengan nama yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan sebagian mengangkat kekayaan bahasa lokal Madura. Sebuah pendekatan yang sekaligus mempertemukan pendidikan karakter dengan pelestarian identitas budaya masyarakat setempat.
Mengubah Kebiasaan Kecil Menjadi Pendidikan Karakter
Gerakan perubahan dimulai sejak siswa tiba di sekolah melalui program SALMAN (Salim di Halaman). Kepala sekolah menyambut kedatangan siswa sekaligus membiasakan mereka bersalaman dengan guru.
Namun, ada pesan pendidikan yang lebih dalam dari sekadar berjabat tangan. Jika siswa datang diantar orang tuanya tetapi lupa bersalaman, kepala sekolah mengingatkan agar anak tersebut kembali untuk bersalaman dengan ayah atau ibunya.
Praktik sederhana ini menjadi sarana menanamkan penghormatan kepada orang tua sebagai sosok yang paling dekat dengan kehidupan anak. Sekolah ingin memastikan bahwa pendidikan adab tidak berhenti pada nasihat, tetapi hadir dalam tindakan nyata.
Setelah itu, siswa mengikuti GESER (Gerakan Semangat Edukasi dan Respon Yel-yel). Kegiatan ini dikemas dalam apel kelas yang dipimpin wali kelas. Guru memberikan pesan edukatif, motivasi, dan penguatan karakter sebelum siswa memasuki pembelajaran. Kegiatan ditutup dengan yel-yel khas masing-masing kelas untuk membangun semangat dan solidaritas.
Budaya peduli lingkungan juga mendapat perhatian melalui BERIMAN (Bersih dan Indahkan Halaman). Setiap siswa dibiasakan menjaga kebersihan taman kelas, membuang sampah pada tempatnya, dan menyiram tanaman. Melalui kegiatan tersebut, tanggung jawab terhadap lingkungan diperkenalkan bukan sebagai teori dalam buku pelajaran, melainkan sebagai kebiasaan sehari-hari.
Religiusitas Tidak Hanya Diajarkan, tetapi Dibiasakan
Pada aspek penguatan karakter religius, SDN Padangdangan I mengembangkan TAPAKU (Tadarus Pagi Bersamaku).
Dalam kegiatan ini, siswa membaca Surah Yasin bersama-sama, seorang siswa dengan pengeras suara memimpin pembacaan Surah Yasin dari ruang kantor sekolah, sementara siswa yang lain membaca di ruangan kelas masing-masing. Pembacaan Surah Yasin dilaksanakan empat hari, sementara dua hari lainnya diisi dengan kegiatan tadarus secara bergantian.
Keterlibatan siswa sebagai pemimpin kegiatan menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Mereka tidak hanya berlatih membaca Al-Qur’an, tetapi juga membangun keberanian dan rasa tanggung jawab.
Kegiatan kemudian dilanjutkan melalui SALSAMA (Saatnya Lantunkan Salawat Bersama). Siswa secara bergiliran melantunkan salawat di ruangan kantor sekolah, sedangkan teman-temannya mengikuti kegiatan tersebut dari kelas masing-masing.
Penguatan nilai religius juga diwujudkan melalui SABUT (Salim Bagus Tengka). Menggunakan ungkapan bahasa Madura, program ini mengandung pesan bahwa bersalim pada guru di kelas merupakan bagian dari perilaku dan adab yang baik. Setiap siswa dibiasakan bersalaman dengan guru ketika memasuki kelas sebelum duduk dan memulai pembelajaran.
Sementara itu, DHUHA (Dhuhur Berjamaah Akhlak Kuat) menjadi pembiasaan ibadah pada penghujung kegiatan belajar. Siswa melaksanakan salat Dhuhur berjamaah sebelum pulang sekolah.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan agama di sekolah berusaha dihadirkan dalam praktik keseharian. Nilai religius tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi juga dibangun melalui pembiasaan yang diharapkan terbawa ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
Sekolah Juga Harus Menjadi Ruang yang Menggembirakan
Pendidikan karakter tidak melulu identik dengan kedisiplinan dan aturan. Anak-anak juga membutuhkan ruang untuk bergerak, bermain, berekspresi, dan membangun hubungan sosial secara sehat.
Atas dasar itu, sekolah menghadirkan SEGAR (Senam Edukatif, Gembira, Aktif dan Riang), yakni kegiatan senam bersama seluruh siswa di halaman sekolah.
Setelah senam, kegiatan dilanjutkan dengan PASATE (Permainan Asyik Bersama Teman). Siswa mengikuti berbagai permainan yang dirancang memiliki muatan edukatif.
Melalui permainan, anak-anak belajar bekerja sama, menaati aturan, menghargai teman, mengendalikan emosi, serta menerima kemenangan dan kekalahan secara sportif.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa sekolah tidak hanya memandang keberhasilan pendidikan dari kemampuan akademik. Kebugaran jasmani, kebahagiaan, kecakapan sosial, dan kemampuan mengelola emosi juga menjadi bagian penting dalam perkembangan peserta didik.
PADANG TANGGUH dan JUMAT BERKAH: Melatih Kemandirian serta Kepedulian Sosial
Untuk membangun karakter mandiri, tangguh, dan bertanggung jawab, sekolah mengembangkan PADANG TANGGUH (Pramuka Padangdangan Tangguh dan Utuh).
Program kokurikuler Pramuka Penggalang ini dilaksanakan setiap Jumat pagi dengan melibatkan seluruh siswa kelas IV, V, dan VI. Kegiatan kepramukaan menjadi ruang untuk mengembangkan kepemimpinan, kedisiplinan, kerja sama, kemandirian, dan kecintaan terhadap lingkungan.
Tidak hanya membangun karakter individual, SDN Padangdangan I juga memberikan perhatian terhadap pendidikan kepedulian sosial melalui JUMAT BERKAH (Jumat Berbagi Koin Harapan dan Kasih).
Setiap Jumat, siswa diajak menyisihkan sebagian uang saku secara sukarela untuk dikumpulkan di masing-masing kelas. Dana tersebut nantinya dimanfaatkan untuk membantu anak yatim, fakir miskin, teman yang sedang sakit, hingga masyarakat yang terdampak bencana alam.
Program ini memiliki pesan sederhana, tetapi mendalam: kepedulian tidak harus menunggu seseorang menjadi kaya. Bahkan dari uang saku yang jumlahnya kecil, seorang anak dapat belajar menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.
NGALLE: Ketika Kepala Sekolah Menjadi Orang Tua Kedua di Gerbang Kepulangan
Salah satu program yang memiliki sentuhan emosional dan kedekatan personal adalah NGALLE (Ngancae Olle Mole). Program ini merupakan gerakan mendampingi siswa ketika hendak pulang sekolah yang dilakukan langsung oleh Agus Sugianto, S.Pd. selaku kepala SDN Padangdangan I.
Dalam pelaksanaannya, siswa yang akan meninggalkan lingkungan sekolah disambut dan disongsong oleh kepala sekolah. Mereka kemudian bersalaman, berpamitan, dan menerima pesan-pesan bijak sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke rumah masing-masing.
Momen bersalaman tersebut menjadi ruang komunikasi yang sederhana, tetapi penuh makna. Di sela-sela pamit pulang, kepala sekolah menyampaikan berbagai nasihat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak.
” Hati-hati di jalan, ya. Kalau naik sepeda listrik jangan ngebut. Lewatlah di sebelah kiri. Jangan lupa salim kepada ayah dan ibu ketika sampai di rumah. Jangan terlalu lama bermain HP. Jangan lupa belajar dan membantu orang tua,” demikian beberapa pesan yang kerap disampaikan kepada siswa.
Nasihat-nasihat sederhana tersebut mungkin terdengar biasa, tetapi sesungguhnya mengandung nilai pendidikan yang sangat penting. Anak-anak diajak memahami keselamatan berlalu lintas, menghormati orang tua, menggunakan teknologi secara bijak, serta tidak melupakan kewajiban belajar.
Lebih dari sekadar mengawasi kepulangan siswa, NGALLE menjadi bentuk perhatian dan kasih sayang seorang kepala sekolah kepada anak didiknya. Kepala sekolah tidak hanya hadir ketika siswa datang dan mengikuti pembelajaran, tetapi juga mengantarkan mereka secara moral melalui pesan-pesan kebaikan ketika meninggalkan sekolah.
Ada pesan tersirat yang ingin dibangun melalui program ini: bahwa tanggung jawab pendidikan tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi. Justru ketika anak-anak kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat, nilai-nilai yang telah ditanamkan di sekolah diharapkan mulai dipraktikkan.
Melalui NGALLE, gerbang sekolah bukan sekadar tempat keluar-masuk peserta didik, melainkan ruang terakhir untuk menitipkan pesan kebaikan sebelum mereka kembali ke pelukan keluarga.
Agus Sugianto: Jangan Biarkan Program Hanya Ramai dalam Kegiatan, tetapi Kosong dalam Makna
Kepala SDN Padangdangan I, Agus Sugianto, S.Pd., menegaskan bahwa dua belas program pembiasaan tersebut tidak dirancang sekadar untuk memperbanyak agenda sekolah. Lebih dari itu, seluruh kegiatan diarahkan untuk membangun karakter peserta didik melalui pengalaman nyata yang mereka jalani setiap hari.
“Saya tidak ingin dua belas program ini hanya menjadi nama-nama kegiatan yang ramai dilaksanakan, tetapi miskin makna. Saya ingin setiap kegiatan menjadi proses pendidikan yang benar-benar membekas dalam diri anak-anak. Ketika mereka bersalaman, kita sedang mengajarkan adab. Ketika mereka membersihkan taman, kita sedang menanamkan tanggung jawab. Ketika mereka bertadarus dan bersalawat, kita sedang menguatkan religiusitas. Ketika mereka berbagi, kita sedang menumbuhkan empati. Ketika mereka bermain serta bekerja sama, kita sedang mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Bahkan ketika mereka berpamitan pulang, kita ingin memastikan ada pesan kebaikan yang mereka bawa sampai ke rumah,” ungkap Agus.
Ia menambahkan, keberhasilan pendidikan tidak semestinya hanya diukur dari capaian akademik peserta didik, tetapi juga dari perubahan sikap dan perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari.
“Bagi saya, keberhasilan sekolah bukan hanya ketika anak-anak memperoleh nilai akademik yang baik, tetapi ketika mereka tumbuh menjadi pribadi yang santun, beriman, mandiri, peduli, dan bermanfaat bagi sesama. Itulah makna sesungguhnya dari ‘Sekolahku, Surgaku’,” tambahnya.
Menurutnya, membangun karakter membutuhkan konsistensi dan keteladanan seluruh warga sekolah. Karena itu, dua belas program tersebut diharapkan menjadi gerakan bersama yang melibatkan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, orang tua, serta masyarakat.
“Sekolahku, Surgaku” Bukan Sekadar Slogan
Dua belas program tersebut menjadi bagian dari ikhtiar SDN Padangdangan I dalam membangun budaya sekolah yang lebih humanis, religius, sehat, bersih, dan menyenangkan.
Pergantian kepemimpinan menjadi momentum untuk memperkuat praktik-praktik pendidikan yang berdampak langsung terhadap kehidupan peserta didik. Namun, sekolah menyadari bahwa membangun budaya positif tidak dapat dilakukan secara instan.
Ukuran keberhasilan program bukan sekadar terlaksananya kegiatan setiap hari atau setiap pekan. Ukuran yang sesungguhnya adalah perubahan perilaku peserta didik: semakin santun kepada orang tua dan guru, semakin peduli terhadap lingkungan, semakin disiplin beribadah, semakin mampu bekerja sama, dan semakin memiliki empati terhadap sesama.
Ikon “Sekolahku, Surgaku” pun memperoleh makna yang lebih luas. Sekolah diharapkan menjadi tempat yang aman dan menyenangkan, tempat anak-anak merasa dihargai, memperoleh keteladanan, serta tumbuh tanpa kehilangan kegembiraan masa kanak-kanaknya.
Pada akhirnya, pendidikan yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak materi yang berhasil disampaikan guru, tetapi juga tentang nilai-nilai kehidupan yang berhasil ditanamkan kepada peserta didik.
Dari gerbang kedatangan hingga gerbang kepulangan, dari ruang kelas hingga taman sekolah, dari tempat ibadah hingga lingkungan keluarga, SDN Padangdangan I sedang berusaha membangun satu pesan penting:
Mendidik bukan sekadar membuat anak menjadi pintar, melainkan menuntun mereka menjadi manusia yang beradab dan bermanfaat.
Sebab, sekolah yang benar-benar menjadi rumah kedua adalah sekolah yang bukan hanya dirindukan karena suasananya, tetapi juga dikenang karena nilai-nilai kebaikan yang ditanamkannya.







