Terpinggirkan Ojek Online, Tukang Ojek dan Becak di Stasiun Minta Perhatian Pemkot Kediri

Jumat, 16 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kediri, Detikzone.id — Perkembangan teknologi transportasi di Indonesia terus melaju pesat, termasuk di Kota Kediri. Kehadiran layanan transportasi berbasis aplikasi atau ojek online telah memberikan kemudahan bagi masyarakat, namun di sisi lain, tidak semua pihak mendapat manfaat yang sama.

Para tukang ojek konvensional dan tukang becak yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari menarik penumpang kini mulai merasakan dampaknya secara langsung.

Hadi (54), warga Kelurahan Pakunden, Kota Kediri, adalah satu dari belasan tukang ojek konvensional yang setiap hari mangkal di kawasan Stasiun Kereta Api Kediri.

Ia mengaku kondisi saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu sebelum ojek online menjamur.

“Sekarang penumpang makin susah. Kadang dari pagi sampai malam, saya tidak dapat penumpang sama sekali. Padahal saya harus bawa pulang uang untuk makan istri dan anak-anak,” ujarnya saat diwawancarai jurnalis Detikzone, Jumat (16/5/2025).

Hadi mengungkapkan bahwa dirinya tidak sendiri. Tercatat ada sekitar 16 tukang ojek lain yang biasa mangkal di sekitar stasiun dan mengalami hal serupa. Menurutnya, para tukang ojek konvensional kini seperti kehilangan tempat di kota sendiri.

“Kami tidak menolak kemajuan, tapi kami juga butuh hidup. Kami hanya minta agar pemerintah kota Kediri mbak Vinanda bisa memberi solusi atau bantuan agar kami bisa tetap mencari dan mendapatkan uang,” imbuhnya.

Keluhan serupa juga disampaikan Mbah Sukar (74), seorang tukang becak kayuh yang telah lebih dari 40 tahun berkeliling membawa penumpang di jalanan Kediri.

Dengan tubuh yang mulai melemah dan penglihatan yang tidak lagi sejelas dulu, Sukar tetap berjuang menarik becak setiap hari. Namun dalam beberapa tahun terakhir, pendapatannya menurun drastis.

“Kadang seharian narik cuma dapat Rp15.000, itu pun kalau ada yang naik. Kalau sepi ya pulang dengan tangan kosong, mengantar penumpang rata-rata ke alun-alun kota Kediri,” keluhnya.

Di usia yang sudah lanjut, Mbah Sukar berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan berbasis digital, tetapi juga memperhatikan kelompok-kelompok masyarakat kecil yang mulai terpinggirkan.

“Kami tidak minta dimanjakan, tapi kalau bisa diberikan pelatihan kerja atau bantuan usaha kecil yang sesuai dengan kondisi kami. Setidaknya ada penghasilan lain untuk menyambung hidup,” ujarnya lirih.

Fenomena ini mencerminkan tantangan nyata yang dihadapi sektor transportasi tradisional di era digital. Meskipun ojek online memberi banyak keuntungan bagi masyarakat luas, pemerintah daerah diharapkan mampu menjaga keseimbangan agar para pelaku ekonomi tradisional tetap bisa bertahan dan tidak semakin tertinggal.

Menanggapi kondisi ini, Moh. Hanif selaku Ketua Komunitas Budaya Pecut Samandiman Kota Kediri menyampaikan pandangannya. Ia menilai seharusnya para tukang ojek dan becak yang sudah memiliki wadah resmi atau paguyuban tersebut semakin terorganisir, sehingga bisa diperjuangkan secara bersama-sama.

“Pemerintah seharusnya bisa memfasilitasi paguyuban ojek dan becak konvensional, sekaligus menyediakan tempat khusus yang layak dan terlihat oleh penumpang. Misalnya, dibuatkan pos atau shelter kecil di area strategis seperti stasiun kereta api ini. Ditambah tulisan atau papan informasi agar masyarakat tahu mereka masih beroperasi,” jelas Hanif.

Menurutnya, keberadaan mereka masih dibutuhkan, terutama oleh warga yang tidak terbiasa menggunakan aplikasi digital, lansia, atau wisatawan lokal. Ia menambahkan bahwa keunikan transportasi tradisional seperti becak bisa sekaligus menjadi daya tarik budaya jika dikelola dengan baik.

Hanif juga menekankan bahwa sinergi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku transportasi tradisional harus segera dilakukan agar tidak semakin banyak warga terdampak yang kehilangan penghasilan.

Para tukang ojek dan becak di stasiun kereta api berharap Pemerintah Kota Kediri segera turun tangan memberikan solusi konkret, baik dalam bentuk bantuan sosial, subsidi, pelatihan keterampilan baru, maupun penyediaan ruang usaha alternatif. Mereka percaya bahwa dengan dukungan yang tepat, mereka masih bisa berkontribusi dan hidup layak di tengah perubahan zaman yang cepat.

Penulis : Bimo

Berita Terkait

BOZZ Caex Frozen Fish, Solusi Ikan Segar Beku Berkualitas untuk Warga Sumenep
Di Persimpangan Lampu Merah, Kopi Peceng Jadi Ikon Kopi Tradisional Sumenep
Yuk, Booking Sekarang! All You Can Eat Shimpony Iftar Ramadhan 2026 di de Baghraf Hotel dan Resto Sumenep
Symphony Iftar Ramadhan, de Baghraf Hotel Sumenep Tawarkan Pengalaman Berbuka Penuh Makna
Cukai Rokok: Antara Target dan Beban Rakya
SKK Migas dan Medco Energi Madura Asesmen UMKM Giligenting Sumenep, Dorong Ekonomi Kerakyatan 2026
Peluang Emas bagi Pengusaha Rokok Madura, Pemerintah Dikabarkan Segera Terapkan Cukai Khusus
Rasa Jadi Senjata: Kedai Bintang Sumenep, Sederhana tapi Beromzet Rp3–6 Juta per Hari

Berita Terkait

Rabu, 11 Februari 2026 - 15:03 WIB

BOZZ Caex Frozen Fish, Solusi Ikan Segar Beku Berkualitas untuk Warga Sumenep

Senin, 9 Februari 2026 - 07:59 WIB

Di Persimpangan Lampu Merah, Kopi Peceng Jadi Ikon Kopi Tradisional Sumenep

Jumat, 6 Februari 2026 - 23:00 WIB

Yuk, Booking Sekarang! All You Can Eat Shimpony Iftar Ramadhan 2026 di de Baghraf Hotel dan Resto Sumenep

Rabu, 4 Februari 2026 - 21:57 WIB

Symphony Iftar Ramadhan, de Baghraf Hotel Sumenep Tawarkan Pengalaman Berbuka Penuh Makna

Sabtu, 31 Januari 2026 - 20:19 WIB

Cukai Rokok: Antara Target dan Beban Rakya

Berita Terbaru

SOSBUD

IPPNU Sumenep Panen Penghargaan

Rabu, 11 Feb 2026 - 12:15 WIB

NASIONAL

Hebooh!!! Ninja Berenang Terabas Banjir di Pemalang

Rabu, 11 Feb 2026 - 11:20 WIB