Lombok Tengah, 19 Mei 2025 — Migrant Care NTB menggelar kegiatan Sosialisasi Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang melibatkan Komunitas DESBUMI (Desa Peduli Buruh Migran) dari 11 desa dan kelurahan di Lombok Tengah. Acara ini berlangsung di Swiss-Belhotel, Lombok Tengah, dan dihadiri oleh 44 peserta perempuan dari berbagai desa seperti Darek, Nyerot, Gemel, Gerunung, Pringgarata, Barabali, Lajut, Bonder, Setanggor, Sintung, dan Aik Darek.
Kegiatan ini dibuka oleh Koordinator Migrant Care NTB, Endang Susilowati, S.H., yang menekankan bahwa pekerja migran, khususnya perempuan, merupakan kelompok yang rentan terhadap paparan ekstremisme. “Pekerja Migran Perempuan yang mengalami pernikahan terguncang, tidak memiliki teman bercerita, dan bergabung dalam grup media sosial tertentu, sangat berisiko dimanfaatkan sebagai simpatisan atau bahkan calon pelaku kekerasan ekstrem,” ungkap Endang.
Menurut data Kementerian Luar Negeri RI, sebanyak 430 WNI dideportasi dari Turki karena diduga akan bergabung dengan kelompok radikal di Suriah. Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencatat pada tahun 2023 terdapat 92 pekerja migran Indonesia yang terpapar ekstremisme berbasis kekerasan. NTB sendiri masuk dalam wilayah perhatian khusus oleh BNPT dan FKPT NTB sebagai daerah yang berisiko.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Fasilitasi kegiatan ini dipandu oleh Hapsari Julaiha, S.H., M.H., dari Migrant Care NTB dan Nini Sofiani, S.Pd., Ketua DESBUMI Gerunung. Dalam sesi diskusi, para peserta mulai menyadari potensi bahaya dari ajakan berteman yang mengandung muatan ideologi kekerasan, termasuk iming-iming “jihad” atau janji masuk surga melalui tindakan ekstrem.
“Perempuan memiliki peran sentral dalam keluarga, dan jika terpapar ideologi kekerasan, maka akan sangat mudah menanamkannya kepada anak-anak. Ini adalah hal yang sangat berbahaya dan harus diwaspadai,” ujar Hapsari Julaiha dalam paparannya.
Para peserta juga diberi pemahaman untuk lebih waspada dalam menerima ajakan berteman, memilih calon pasangan, hingga menerima narasi-narasi keagamaan yang menyimpang. Ditekankan pula pentingnya berkonsultasi dengan lembaga resmi seperti BNPT dan FKPT jika menemukan indikasi mencurigakan.
Menutup kegiatan, Endang Susilowati menegaskan pentingnya peran aktif komunitas DESBUMI dalam menyebarkan pengetahuan tentang bahaya ekstremisme kepada lingkungan sekitar. “Kalian adalah ujung tombak di desa masing-masing. Edukasi harus diteruskan kepada keluarga, tetangga, dan calon pekerja migran lainnya agar tidak mudah terpapar,” tegasnya.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat akan bahaya ekstremisme berbasis kekerasan semakin meningkat, terutama di kalangan komunitas yang memiliki hubungan erat dengan pekerja migran Indonesia.
Penulis : Asn







