SUMENEP – Riuh tepuk tangan, lantunan puisi perjuangan, alunan lagu kebangsaan, hingga pidato lantang berbahasa Madura menggema di Aula Kecamatan Pasongsongan. Selama empat hari berturut-turut, 18–22 Agustus 2025, Pasongsongan berubah menjadi panggung semarak perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia.
Bidang Seni Panitia HUT RI Kecamatan Pasongsongan menggelar tiga cabang lomba yakni Baca Puisi, Menyanyi Solo Lagu Perjuangan, dan Pidato Bahasa Madura.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lonjakan jumlah peserta yang luar biasa membuat kegiatan tahun ini diperpanjang hingga empat hari.
“Peserta membeludak, bahkan dari jenjang SMA/MA yang baru pertama kali kami ikutsertakan,” ungkap Koordinator Bidang Seni, Agus Sugianto, S.Pd., dengan blangkon khasnya yang selalu setia menghiasi kepala.

Suasana lomba begitu hidup. Aula kecamatan dipadati peserta dari berbagai pelosok, guru pendamping, dan warga yang antusias memberi dukungan. Setiap penampilan disambut sorak sorai, membangkitkan rasa bangga sekaligus haru.
Yang paling menyita perhatian adalah Lomba Pidato Bahasa Madura. Di tengah arus globalisasi, penggunaan bahasa daerah semakin memudar. Namun di panggung ini, Bahasa Madura kembali berkibar.
“Bahasa Madura itu kaya dan penuh filosofi. Tapi banyak generasi muda mulai melupakannya. Melalui lomba ini, kami ingin mereka kembali mencintai bahasanya sendiri,” tuturnya.
Peserta dari wilayah selatan gunung, yang sehari-hari bergulat dengan keterbatasan akses, justru tampil percaya diri dan mampu bersaing dengan peserta dari utara.

“Anak-anak membuktikan, keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Mereka berani tampil dengan penuh kebanggaan,” ujar seorang guru pendamping.
Tak sekadar lomba, kegiatan ini menjadi wadah persatuan. Dari selatan hingga utara gunung, Pasongsongan menyatu dalam semangat kebangsaan yang berpadu dengan cinta budaya lokal.
Puncaknya akan digelar Grand Final pada Jumat, 22 Agustus 2025. Semua mata menanti siapa yang akan berdiri di podium juara, membawa harum nama sekolah sekaligus menjaga nyala api nasionalisme.
Lebih dari sekadar kompetisi, lomba seni di Pasongsongan adalah sebuah pesan: bahwa kemerdekaan bukan hanya perayaan tahunan, melainkan momentum untuk merawat identitas, menyalakan semangat, dan meneguhkan cinta tanah air.
Penulis : Redaksi







