Kediri, Detikzone.id – Dalam khutbah Jum’at yang digelar di Masjid Al-Ikhlash Muhammadiyah jl. Pemuda No.18, Dandangan, Kota Kediri (12/9) khatib mengangkat tema “Gerhana Sosial”, merespons peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi: aksi anarkis generasi muda yang berujung pada pembakaran gedung pemerintah daerah dan kantor kepolisian.
Khatib menegaskan, kejadian tersebut adalah bentuk nyata dari “gerhana sosial” yang menutup akal sehat dan meredupkan cahaya iman. Generasi muda yang seharusnya menjadi penerus perjuangan bangsa, justru terseret dalam tindakan destruktif yang mencederai makna kemerdekaan.
“Ini adalah pelajaran amat berharga. Apakah kita rela kemerdekaan yang diperjuangkan dengan takbir, darah, dan air mata, kini diwarisi dengan tindakan membakar, merusak, dan menodai persaudaraan?” tanya khatib di hadapan jamaah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Khatib juga menyoroti bahwa peringatan Hari Kemerdekaan RI seharusnya dihiasi dengan dzikir, tahlil, dan tauhid, bukan pesta berbiaya besar apalagi diakhiri dengan kerusuhan. Ia menilai, fenomena ini muncul karena kurangnya pemahaman generasi muda terhadap nilai perjuangan, ditambah sikap diam sebagian orang berilmu ketika menyaksikan kemungkaran.
“Diamnya ulama, cendekiawan, atau siapa pun yang berilmu saat melihat kemungkaran, sama halnya dengan setan bisu. Pertanyaannya, maukah kita disebut sebagai setan bisu? Insya Allah jawabannya tidak,” tegas khatib.
Khatib mengingatkan jamaah untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang benar, mendidik generasi muda dengan ilmu dan akhlak, serta menanamkan rasa syukur atas nikmat kemerdekaan.
Khutbah ditutup dengan seruan kembali kepada pedoman Al-Qur’an: “Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq” (Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan).
Penulis : Bimo








