SUMENEP — Di tengah pesatnya pertumbuhan kafe modern, Kopi Peceng tetap bertahan sebagai warung kopi tradisional yang telah beroperasi belasan tahun sejak 2012. Berlokasi di sebuah warung pojok sederhana tepat di depan Hotel Myze Sumenep, Kopi Peceng membuktikan bahwa kesederhanaan, konsistensi, dan nilai kebersamaan mampu menjaga eksistensi usaha kecil dalam jangka panjang.
Kopi Peceng tidak hanya dikenal oleh masyarakat Sumenep, tetapi juga memiliki pelanggan setia dari Pamekasan hingga Sampang. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas rasa dan suasana yang nyaman dapat membangun reputasi dari mulut ke mulut, tanpa harus mengandalkan promosi besar-besaran.
Owner Kopi Peceng, Sumiati (kelahiran 1984), menjelaskan bahwa sejak awal berdiri, Kopi Peceng mengusung konsep keterbukaan untuk semua kalangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami ingin Kopi Peceng menjadi tempat siapa saja bisa singgah, menikmati kopi, dan berbincang tanpa sekat. Kopi ini milik semua,” tutur Sumiati, Jumat, 19/12/1/2025.
Sementara itu, suaminya, Pak Fauzan, yang akrab disapa Pak Peceng, menambahkan bahwa kopi bagi mereka bukan sekadar minuman, melainkan sarana membangun relasi sosial.
“Di warung kopi, orang bisa saling mengenal, bertukar cerita, bahkan mencari solusi bersama. Itu yang kami jaga sejak awal,” ujarnya.
Dari sisi edukatif, Kopi Peceng memberikan pembelajaran penting tentang ketahanan UMKM berbasis kearifan lokal. Dengan menjaga kualitas kopi, pelayanan ramah, serta harga yang terjangkau, usaha kecil mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman. Selain itu, Kopi Peceng juga berperan sebagai ruang publik informal yang mendorong dialog, toleransi, dan kebersamaan di masyarakat.
Keberadaan Kopi Peceng menjadi bukti bahwa warung kopi tradisional bukan sekadar tempat minum, melainkan bagian dari ekosistem sosial dan ekonomi lokal. Sebuah pelajaran berharga bahwa kekuatan usaha kecil terletak pada nilai, konsistensi, dan kedekatan dengan masyarakat.
Penulis : Redaksi








