PAMEKASAN – Tak ada yang kebetulan dalam setiap peristiwa. Ketika banyak pihak mengira langkah gerakan sosial Bani Insan Peduli akan berhenti setelah yayasan resmi dibubarkan pada 15 Juli 2026, justru dua hari kemudian sebuah pertemuan penuh makna terjadi di Pendopo Utama Bani Group, Pamekasan, Jumat (17/7/2026).
Di awal bulan Safar—bulan yang dalam perjalanan sejarah Islam kerap menjadi penanda lahirnya berbagai ikhtiar dan strategi besar—Owner Bani Group, Ali Zainal Abidin, menerima kunjungan seorang ulama kharismatik, Sayyid Habib Syaihon bin Mustofa Al Bahar, yang akrab disapa Wan Sehan.
Pertemuan itu berlangsung sederhana. Namun bagi para relawan BANI, maknanya jauh melampaui sebuah silaturahmi biasa. Di tengah suasana pasca-pembubaran yayasan, kehadiran Wan Sehan dipandang sebagai momentum untuk meneguhkan kembali arah perjuangan kemanusiaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak lama setelah menerima nasihat dan isyarah dari Wan Sehan, Ali Zainal Abidin langsung mengumpulkan para relawan dari Pamekasan dan Sumenep. Wajah-wajah yang sebelumnya dipenuhi tanda tanya perlahan berubah menjadi penuh keyakinan.
Di hadapan mereka, Ali menyampaikan pesan yang menggetarkan.
“Nama hanyalah sebuah sebutan. Bunga mawar, meskipun dinamai bunga bangkai, tetap akan mengeluarkan aroma harumnya. Begitu pula perjuangan. Nilainya tidak ditentukan oleh nama yayasan, tetapi oleh manfaat yang terus dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Ucapan itu sontak membangkitkan semangat para relawan. Ali menegaskan bahwa pembubaran yayasan bukanlah akhir dari pengabdian, melainkan awal untuk melanjutkan perjuangan dalam bentuk yang baru.
Isyarat Garuda: Perintah Menggali Ruh dalam Dada
Salah satu momen yang paling menyentuh dalam pertemuan tersebut adalah ketika Wan Sehan memberikan sebuah isyarah berupa gambar Garuda.
Bagi sebagian orang, Garuda hanyalah lambang negara. Namun bagi Ali Zainal Abidin, simbol itu mengandung pesan spiritual yang sangat mendalam.
“Habibana memberi isyarah agar kami menggali ruh dalam dada. Garuda bukan sekadar simbol negara, tetapi lambang keberanian, optimisme, keteguhan, dan komitmen untuk terus berdiri di atas kebenaran serta keadilan,” ujarnya.
Menurut Ali, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan terbesar seorang pejuang bukan terletak pada atribut organisasi, melainkan pada ketulusan hati, keikhlasan, dan ruh pengabdian yang hidup di dalam dirinya.
BANI Boleh Berganti Wadah, Tetapi Tidak Boleh Kehilangan Ruh
Sejak berdiri pada 2023, Bani Insan Peduli telah melahirkan berbagai aksi sosial, mulai dari santunan anak yatim, bantuan kemanusiaan, bedah rumah, khitan massal, hingga berbagai program pemberdayaan masyarakat.
Karena itu, Ali menilai perjuangan yang telah dibangun selama bertahun-tahun tidak boleh berhenti hanya karena sebuah keputusan administratif.
Baginya, yang harus dijaga bukan sekadar nama organisasi, tetapi ruh kepedulian yang telah tumbuh di hati para relawan.
Ia pun mengajak seluruh penggerak BANI untuk menjadikan pesan Wan Sehan sebagai amanah yang harus terus dijaga.
“Kalau ruh pengabdian masih hidup, maka perjuangan tidak akan pernah mati. Yang berakhir hanyalah nama, bukan cita-cita untuk membantu sesama,” ujarnya.
Pantang Mundur Demi Kemanusiaan
Menutup pertemuan tersebut, Ali Zainal Abidin menyampaikan komitmen yang disambut tepuk tangan para relawan.
“Saya tegaskan kepada seluruh relawan. Setelah sinyal kebaikan ini hadir, saya pribadi pantang mundur. Apa pun yang terjadi, gerakan BANI harus terus berjalan demi kebermanfaatan umat. Kita boleh kehilangan wadah, tetapi jangan pernah kehilangan ruh perjuangan,” pungkasnya.
Pertemuan di awal bulan Safar itu pun menjadi babak baru bagi gerakan kemanusiaan yang selama ini dibangun bersama. Di tengah berbagai dinamika, semangat para relawan kembali menyala. Bagi mereka, perjuangan tidak pernah diukur dari nama sebuah yayasan, melainkan dari seberapa banyak air mata yang mampu diusap dan seberapa besar manfaat yang terus diberikan kepada masyarakat.







