Jalan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Dusun Tabata Sumenep Pilih Swadaya Tanpa Uluran Tangan Desa

Minggu, 21 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga Dusun Tabata, Desa Ketawang Laok, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, bergotong royong memperbaiki jalan desa secara swadaya demi memperlancar akses transportasi, meski minim perhatian dari pemerintah desa setempat.

Warga Dusun Tabata, Desa Ketawang Laok, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, bergotong royong memperbaiki jalan desa secara swadaya demi memperlancar akses transportasi, meski minim perhatian dari pemerintah desa setempat.

SUMENEP — Ketidakpastian perhatian pemerintah desa terhadap infrastruktur dasar mendorong warga Dusun Tabata, Desa Ketawang Laok, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, mengambil langkah mandiri. Jalan desa yang rusak parah dan telah lama dikeluhkan itu akhirnya diperbaiki secara swadaya oleh warga, tanpa dukungan nyata dari Pemerintah Desa (Pemdes) setempat.

Tokoh penggerak perbaikan jalan, Tammin, mengungkapkan bahwa kerusakan jalan di Dusun Tabata sudah berlangsung lama dan nyaris tak tersentuh program pembangunan desa. Kondisi tersebut memaksa warga bergerak sendiri demi menjaga akses transportasi dan kelancaran aktivitas sehari-hari.

Menurut Tammin, sejak awal pengerjaan, tidak terlihat adanya inisiatif serius dari Pemdes Ketawang Laok untuk membantu ataupun mencari solusi alternatif. Bahkan, kepala dusun hanya sempat hadir sekilas pada awal pengerjaan tanpa adanya tindak lanjut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kosong deri kalebun, apelah gun nyongo’ sakejjek pareppaen kalakoan awal,” ujar Tammin, Minggu (21/12/2025), yang menggambarkan kekecewaan warga karena nihilnya peran kepala desa dan minimnya keterlibatan aparat dusun.

Meski demikian, semangat gotong royong warga Dusun Tabata tetap terjaga. Dengan kemampuan seadanya, mereka sepakat mengumpulkan dana secara patungan untuk memperbaiki jalan yang berlubang dan licin, terutama agar tetap bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

“Yang penting jalan bisa dilalui. Soal bantuan, kami tidak menunggu lagi,” kata Tammin.

Kerusakan jalan selama ini sangat berdampak pada kehidupan warga, terutama saat musim hujan. Anak-anak sekolah kesulitan berangkat ke sekolah, sementara para petani mengalami hambatan saat mengangkut hasil panen.

“Jalan yang berlubang dan licin ini benar-benar mengganggu aktivitas warga, mulai dari anak sekolah hingga petani,” tambahnya.

Atas dasar itu, warga akhirnya sepakat melakukan perbaikan seadanya dengan menutup lubang dan meratakan permukaan jalan. Meski hasilnya belum sempurna, setidaknya perubahan kecil tersebut dirasakan langsung manfaatnya.

“Kalau menunggu bantuan, entah sampai kapan. Akhirnya kami sepakat patungan. Yang penting ada perubahan meski tidak sempurna,” ujar Tammin di sela-sela pengerjaan.

Namun demikian, Tammin menegaskan bahwa perbaikan swadaya hanya bersifat sementara. Ia berharap Pemdes Ketawang Laok segera mengambil langkah konkret untuk perbaikan permanen agar warga tidak terus bergantung pada gotong royong mandiri.

“Kami berharap Pemdes bisa segera turun tangan dan melakukan perbaikan permanen, supaya akses warga Dusun Tabata tidak selalu bergantung pada swadaya,” tegasnya.

Hingga kini, perbaikan jalan di Dusun Tabata masih terus dilakukan secara bertahap. Warga berharap ke depan pemerintah desa lebih peka dan responsif terhadap kebutuhan infrastruktur dasar yang secara langsung menyentuh kepentingan dan keselamatan masyarakat.

Menanggapi perbaikan jalan secara swadaya yang dilakukan warga Dusun Tabata, Kepala Desa Ketawang Laok, Khosnol Hotimah memberikan klarifikasi.

Ia menegaskan pentingnya konfirmasi kepada pihak pemerintah desa agar informasi yang disampaikan tetap berimbang dan akurat.

Menurutnya, pemerintah desa selama ini tidak pernah menutup mata terhadap kegiatan kemasyarakatan, khususnya gotong royong. Pihaknya mengaku selalu mendukung setiap inisiatif warga, namun mengingatkan bahwa tidak seluruh kebutuhan pembangunan dapat dibebankan kepada Dana Desa (DD).

“Alangkah baiknya jika informasi dari luar terlebih dahulu dikonfirmasi kepada pihak terkait atau pemerintah desa, agar ada kejelasan dan keabsahan informasi,” ujarnya.

Dirinya juga menyampaikan bahwa pihaknya tidak mengetahui kepentingan pihak luar yang disebut-sebut terlibat dalam isu tersebut. Bahkan, setelah dilakukan penelusuran, warga Dusun Tabata pun tidak mengenal sosok yang dimaksud dan yang bersangkutan tidak terlibat langsung dalam kegiatan gotong royong.

“Saya tidak tahu apa kepentingan saudara Zakinul Alim terhadap desa kami. Setelah kami cari informasi, warga Dusun Tabata juga tidak ada yang mengenalnya dan yang bersangkutan tidak ikut gotong royong,” tegasnya.

Lebih lanjut, dirinya mencontohkan pembangunan kanopi di sekeliling masjid sebagai bentuk nyata gotong royong yang justru diprakarsai oleh pemerintah desa, tanpa menggunakan anggaran pemerintah.

“Kanopi masjid itu dibangun melalui gotong royong, dan pemerintah desa menjadi pencetusnya. Tidak ada anggaran pemerintah yang digunakan,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa keterbatasan anggaran menjadi tantangan tersendiri dalam pembangunan desa. Menurutnya, Dana Desa penggunaannya telah diatur oleh pemerintah pusat dan hanya sebagian kecil yang dapat dialokasikan untuk infrastruktur, sehingga harus benar-benar berdasarkan skala prioritas.

“Dana Desa tidak bisa meng-cover semua kebutuhan. Penggunaannya sudah diatur dari pusat dan untuk infrastruktur porsinya terbatas, sehingga harus benar-benar diprioritaskan,” katanya.

Kades menambahkan, dirinya termasuk kepala desa yang memilih tidak mempublikasikan bantuan pribadi kepada masyarakat. Ia menilai hal tersebut lebih baik diketahui langsung oleh warga tanpa perlu diekspos ke ruang publik.

“Saya termasuk kepala desa yang merasa risih jika bantuan pribadi dipublikasikan. Biarlah warga saja yang tahu. Kalau bertanya langsung kepada warga Dusun Tabata, ceritanya tentu akan berbeda,” pungkasnya.

Penulis : Redaksi

Berita Terkait

Bupati Sumenep Pasang Alarm Integritas, Kepala Inspektorat Baru Diminta Perketat Pengawasan dan Cegah Penyimpangan
Dobrak Layanan Digital, Pemkot Probolinggo Luncurkan Super App B Link dan Gelar PPID Awards 2026
Dari Pulau Gelap Menuju Pulau Terang, Perjuangan Listrik PLN di Masalembu Sumenep Memasuki Fase Penentu
Baru Diaspal, Jalan Mawar Indah Probolinggo Sudah Bergelombang, Warga Pertanyakan Kualitas Pengerjaan
Brigjen Pol Muhammad Irhamni Ajak Aparat Penegak Hukum Perkuat Kolaborasi Berantas Kejahatan Lingkungan
Akselerasi Pengawasan Digital,24 Kecamatan di Probolinggo Targetkan Adopsi SiDesa-SAE Pekan Depan
Kabar Baik Pengguna Jalan, Jembatan Matikan II Paiton Probolinggo Rampung dan Arus Pantura Kembali Normal
Fraksi PAN DPRD Sumenep Dorong Solusi Permanen Krisis Air Bersih, Infrastruktur dan Pendidikan Masuk Skala Prioritas

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:23 WIB

Bupati Sumenep Pasang Alarm Integritas, Kepala Inspektorat Baru Diminta Perketat Pengawasan dan Cegah Penyimpangan

Jumat, 17 Juli 2026 - 19:04 WIB

Dobrak Layanan Digital, Pemkot Probolinggo Luncurkan Super App B Link dan Gelar PPID Awards 2026

Jumat, 17 Juli 2026 - 15:34 WIB

Dari Pulau Gelap Menuju Pulau Terang, Perjuangan Listrik PLN di Masalembu Sumenep Memasuki Fase Penentu

Jumat, 17 Juli 2026 - 13:20 WIB

Baru Diaspal, Jalan Mawar Indah Probolinggo Sudah Bergelombang, Warga Pertanyakan Kualitas Pengerjaan

Jumat, 17 Juli 2026 - 12:05 WIB

Brigjen Pol Muhammad Irhamni Ajak Aparat Penegak Hukum Perkuat Kolaborasi Berantas Kejahatan Lingkungan

Berita Terbaru