Kenapa Sekarang Banyak Orang Ingin Jadi Wirausaha?
Pernah nggak kepikiran kenapa sekarang makin banyak orang tertarik buka usaha sendiri? Mulai dari jualan kecil-kecilan sampai bikin startup yang idenya unik-unik. Fenomena ini
bukan sekadar ikut tren, tapi karena dunia kerja sekarang memang berubah cepat dan orang butuh lebih banyak ruang buat mandiri.
Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, UMKM menyumbang lebih dari 60% PDB Indonesia dan 97% lapangan kerja nasional. Artinya, usaha kecil sampai menengah itu benarbenar jadi tulang punggung ekonomi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Karena itulah, pengembangan kewirausahaan penting banget kalau kita mau generasi sekarang nggak cuma jadi pencari kerja, tapi pencipta kerja.
Masalah yang Bikin Orang Susah Mulai Usaha
Walaupun minatnya tinggi, banyak orang yang akhirnya nggak berani mulai. Survei Jakpat 2023 nunjukkin bahwa lebih dari 40% anak muda punya keinginan buat buka usaha, tapi
kebanyakan bingung mulainya gimana, takut gagal, atau merasa kurang modal.
Belum lagi dunia digital yang berubah super cepat. Pelaku usaha yang sudah lama berkecimpung pun bisa keteteran kalau nggak belajar hal-hal baru. Jadi bisa dibilang, masalah
bukan cuma “nggak punya ide”, tapi juga kurang pengetahuan, lingkungan yang belum mendukung, dan akses teknologi yang terbatas.
Kenapa Pengembangan Kewirausahaan Jadi Penting Banget?
Kalau kata pakar manajemen Peter F. Drucker, “The best way to predict the future is to create
it.” Dan itu benar-benar menggambarkan inti kewirausahaan.
1. Faktor pribadi sangat berpengaruh
Motivasi, kreativitas, dan keberanian ambil risiko adalah bahan bakar utama.
Tapi semua itu bisa dilatih melalui pelatihan yang tepat. Bukti nyatanya, peserta pelatihan bisnis biasanya
mengalami peningkatan kepercayaan diri dan kemampuan mengambil keputusan.
2. Teknologi bikin peluang makin terbuka
Menurut laporan Google-Temasek 2023, ekonomi digital Indonesia sudah menembus lebih dari USD 80 miliar. Marketplace, media sosial, dan layanan digital membuka peluang baru
yang dulu nggak ada.
Contohnya program “UMKM Go Digital” yang berhasil bantu ribuan pelaku usaha masuk ke platform online, sehingga pasarnya jauh lebih luas.
3. Peran kampus, komunitas, dan inkubator
Inkubator bisnis di kampus-kampus besar seperti ITB, UI, UGM, sampai Startup Studio Indonesia terbukti melahirkan banyak usaha baru. Laporan Kemendikbud menunjukkan
bahwa lebih dari 300 usaha rintisan mahasiswa terbentuk dalam lima tahun terakhir.
Komunitas seperti TDA dan HIPMI juga bikin banyak workshop, mentoring, dan jaringan bisnis yang sangat berguna buat pemula.
4. Contoh nyata di lapangan
Banyak pelaku usaha kuliner yang tadinya cuma jualan secara offline, tapi setelah belajar digital marketing, omzetnya naik drastis lewat aplikasi ojek online.
Ada juga mahasiswa yang awalnya hanya bikin proyek tugas kuliah, lalu setelah dibina inkubator, idenya berkembang jadi startup sungguhan yang dapat pendanaan awal.
Apa yang Bisa Kita Lakukan Supaya Usaha Baru Lebih Mudah Berkembang?
Biar pengembangan kewirausahaan makin nendang, beberapa hal ini perlu diperkuat:
1. Pendidikan kewirausahaan yang lebih praktis, bukan cuma teori.
2. Akses teknologi yang merata, biar semua pelaku usaha bisa jualan online.
3. Mentoring dan inkubasi yang menjangkau daerah, bukan cuma kota besar.
4. Akses modal yang jelas dan mudah, supaya pemula nggak takut mulai.
Intinya, kewirausahaan bukan sekadar belajar jualan, tapi membangun pola pikir mandiri dan
inovatif.
Inti yang Bisa Kita Ambil dari Semua Ini
Kalau Indonesia mau punya generasi yang kreatif dan tahan banting, pengembangan kewirausahaan harus terus digalakkan.
Dengan kombinasi pendidikan, teknologi, akses
modal, dan lingkungan yang mendukung, bakal lahir lebih banyak wirausahawan yang bukan
cuma sukses secara pribadi, tapi juga bantu ekonomi negara.
Di zaman sekarang, jadi wirausahawan bukan lagi pilihan cadangan, tapi salah satu cara terbaik buat menciptakan masa depan yang kita mau.
Disusun oleh: Apiat Abiansyah
NIM: 251572010015
Program Studi: Sistem Informasi
STMIK TAZKIA BOGOR
Penulis : Redaksi







