Menanamkan Akhlakul Karimah Sejak Dini, TK Elpist Temanggung Bangun Karakter Anak Lewat Pembiasaan Positif

Sabtu, 27 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

NASIONAL — Akhlakul karimah atau akhlak mulia menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter anak usia dini, yakni pada rentang usia 0–6 tahun. Pada fase emas ini, anak diibaratkan seperti spons yang dengan mudah menyerap nilai, perilaku, dan kebiasaan dari lingkungan terdekatnya, mulai dari keluarga, sekolah, hingga teman bermain.

Kesadaran akan pentingnya pembentukan akhlak sejak dini tersebut diterapkan secara konsisten oleh TK Elpist Temanggung, Jawa Tengah.

Melalui pembiasaan sehari-hari yang dikemas dalam bentuk permainan, lagu, dan aktivitas menyenangkan, anak-anak diajarkan berperilaku baik sehingga nilai-nilai tersebut mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip dasar Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang menekankan pentingnya nilai agama dan budi pekerti sebagai dasar pendidikan karakter.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mengajarkan akhlak mulia kepada anak bukan sekadar menghafal doa atau mematuhi aturan, melainkan membangun kebiasaan harian yang membentuk pribadi ramah, jujur, sabar, dan penuh kasih sayang. Tanpa fondasi tersebut, anak berisiko tumbuh dengan sikap egois atau kasar di tengah lingkungan yang semakin kompetitif.


Hal ini disampaikan oleh Miss Novi, guru pendamping TK Elpist Temanggung, pada Jumat (15/5/2025). Menurutnya, anak-anak yang baru masuk sekolah memang membutuhkan masa adaptasi.

“Namanya juga anak-anak, awal masuk pasti masih memerlukan adaptasi. Untuk menciptakan tindakan yang baik atau akhlakul karimah, tentu perlu contoh dan pengulangan tindakan baik tersebut. Selain itu, anak juga perlu diingatkan ketika melakukan tindakan yang kurang baik. Karena sejatinya, anak melakukan kebaikan itu karena adanya pengulangan setiap hari,” ujar Miss Novi.


Lingkungan anak usia dini yang dinamis, mulai dari bermain di taman hingga interaksi di PAUD menjadikan akhlak mulia sangat penting. Nilai tersebut membantu anak mengelola emosi, belajar berbagi, serta menghormati orang lain, sehingga mampu meminimalisasi konflik seperti berebut mainan atau menangis karena rasa iri.

Para ahli pendidikan Islam, seperti Imam Al-Ghazali, menegaskan bahwa akhlak adalah cahaya yang menerangi jiwa dan mencegah perilaku buruk sejak dini. Di era digital saat ini, ketika anak mulai terpapar gawai dan media digital, akhlakul karimah menjadi tameng agar mereka tidak terjebak dalam budaya instan dan rendah empati.

Penerapan akhlak mulia dapat dilakukan melalui praktik sederhana dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah. Misalnya, mengajarkan kejujuran dan tanggung jawab dengan membiasakan anak mengakui kesalahan dan meminta maaf.

Nilai kesabaran dan toleransi dapat ditanamkan saat anak belajar mengantre, sementara sikap penyayang dan gemar berbagi dapat dilatih dengan berbagi makanan atau mainan.
Anak juga dibiasakan menghormati orang tua dan guru melalui kebiasaan mengucap salam dan terima kasih. Seluruh nilai tersebut diterapkan melalui pendekatan bermain, bukan paksaan, sehingga anak merasa nyaman dan bahagia saat belajar.

Metode menyenangkan dan konsisten, seperti mendongeng kisah Nabi Muhammad SAW yang penuh kasih terhadap anak yatim, terbukti efektif membentuk karakter positif. Diskusi ringan setelah cerita juga membantu anak memahami nilai keteladanan. Kolaborasi antara rumah dan sekolah, termasuk melalui workshop orang tua, semakin memperkuat dampak pendidikan akhlak ini.

Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama pengaruh media sosial dan kesibukan orang tua. Anak rentan meniru perilaku negatif dari tayangan digital atau menjadi terlalu bergantung pada gawai. Oleh karena itu, pembatasan waktu layar maksimal satu jam per hari serta penggantian dengan aktivitas luar ruang menjadi solusi yang dianjurkan.

Dengan kesabaran dan konsistensi, tantangan tersebut justru dapat menjadi peluang untuk membentuk generasi yang tangguh dan berakhlak mulia. Akhlakul karimah bukanlah beban, melainkan investasi jangka panjang demi kebahagiaan anak dan terciptanya masyarakat yang harmonis. Satu kebiasaan kecil yang ditanamkan hari ini dapat membawa perubahan besar di masa depan.

Penulis : Sani Nur Faiyah kak

Berita Terkait

Reses Yoyok Mulyadi Perkuat Sinergi DPRD dan Warga untuk Bangun Situbondo
Bangkit dari Kekalahan, Putra Pimpinan Umum BanuaMinang Raih Emas di Kejuaraan Karate 100 Tahun Jam Gadang
DIANPINRU 2026 Resmi Ditutup, Bekali Peserta Menuju PERGAMA V di Bawean Gresik
Belajar dari Tanah, Siswa SMPN 4 Petarukan Tanam Kangkung Demi Wujudkan Kemandirian Pangan Sejak Dini
Nonton Konser Ari Lasso, Mbak Wali Ajak Warga Perkuat Kolaborasi Wujudkan Kota Kediri yang Mapan
FORKOGAKUM Soroti Febrie Adriansyah Tak Diborgol dan Tanpa Rompi Tahanan, Desak Kejagung Tegakkan SOP Secara Konsisten
24 Tahun Menetap dan Berusaha, Warga Warpat Puncak Digusur: BPBH GIBAS Desak DPRD Buka Status Lahan dan Pastikan Keadilan
Semarak HUT RI ke-81, Kesbangpol Pemalang Ajak Warga Kibarkan Merah Putih Selama Sebulan Penuh

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 17:40 WIB

Reses Yoyok Mulyadi Perkuat Sinergi DPRD dan Warga untuk Bangun Situbondo

Minggu, 26 Juli 2026 - 17:29 WIB

Bangkit dari Kekalahan, Putra Pimpinan Umum BanuaMinang Raih Emas di Kejuaraan Karate 100 Tahun Jam Gadang

Minggu, 26 Juli 2026 - 11:36 WIB

DIANPINRU 2026 Resmi Ditutup, Bekali Peserta Menuju PERGAMA V di Bawean Gresik

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:07 WIB

Nonton Konser Ari Lasso, Mbak Wali Ajak Warga Perkuat Kolaborasi Wujudkan Kota Kediri yang Mapan

Sabtu, 25 Juli 2026 - 22:41 WIB

FORKOGAKUM Soroti Febrie Adriansyah Tak Diborgol dan Tanpa Rompi Tahanan, Desak Kejagung Tegakkan SOP Secara Konsisten

Berita Terbaru