SDN Panaongan III Jadi Contoh Konsistensi Jalankan Perbup Bahasa Madura dalam Safari Pendidikan Sumenep

Rabu, 9 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMENEP – Pendidikan yang kuat tidak hanya lahir dari kebijakan, tetapi dari sekolah yang mampu menerjemahkan kebijakan menjadi kebiasaan. Pesan itu mengemuka dalam Safari Kecamatan se-Kabupaten Sumenep yang dilaksanakan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep Moh. Iksan, S.Pd., M.T., di SDN Pasongsongan IV, Rabu (9/9/2026).

Kegiatan dihadiri Pengawas Bina SD H. Abu Supyan, M.Pd., Ketua KKKS Kecamatan Pasongsongan H. Akhmad Busri, M.Pd., para kepala SD negeri dan swasta serta perwakilan guru PNS, PPPK Penuh Waktu dan PPPK Paruh Waktu. Sebanyak 92 peserta mengikuti kegiatan tersebut.

Kehadiran Moh. Iksan disambut pengalungan bunga melati oleh H. Abu Supyan. Acara kemudian dibuka dengan Tari Topeng Madura yang dibawakan siswa berbakat SDN Padangdangan I. Penampilan siswa dari sekolah di wilayah pinggiran tersebut berhasil memukau peserta dan menjadi bukti bahwa potensi anak dapat tumbuh di sekolah mana pun ketika diberi ruang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua KKKS Kecamatan Pasongsongan, H. Akhmad Busri, M.Pd., dalam laporannya menyampaikan terima kasih atas kehadiran Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep. Ia berharap Safari Kecamatan dapat menjadi ruang untuk mendapatkan arahan sekaligus bekal bagi kepala sekolah dan guru.

 “Kami berharap kehadiran Kepala Dinas Pendidikan di Pasongsongan tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga menjadi bekal dan motivasi bagi kepala sekolah serta guru untuk bersama-sama meningkatkan mutu pendidikan,” ujar H. Akhmad Busri.

Empat Pilar dan Penguatan Bahasa Madura

Dalam pembinaannya, Moh. Iksan menekankan pentingnya sinergi empat pilar pendidikan, yaitu pemerintah, sekolah beserta kepala sekolah, guru, murid dan komite, wali murid, serta masyarakat yang peduli terhadap mutu pendidikan.

Ia juga mengingatkan para guru agar terus memperkuat empat kompetensi guru dalam menjalankan tugas profesionalnya.

Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah perlunya seluruh sekolah menyukseskan Perbup Sumenep Nomor 55 Tahun 2025 tentang Mata Pelajaran Bahasa Madura sebagai Muatan Lokal Wajib di Sekolah.

Menurutnya, kebijakan tersebut jangan berhenti pada administrasi pembelajaran, tetapi harus diterjemahkan menjadi budaya di lingkungan sekolah.

“Pendidikan ini tidak bisa dikerjakan oleh sekolah saja. Ada pemerintah, sekolah, wali murid dan masyarakat yang harus bersinergi. Kalau semuanya bergerak bersama, insyaallah mutu pendidikan akan semakin baik,” tegas Moh. Iksan.

Dalam konteks pelaksanaan Perbup tersebut, SDN Panaongan III menjadi salah satu contoh sekolah yang konsisten membangun budaya Bahasa Madura melalui program ABANG SAMAD (Aku Bangga Berbahasa Madura).

Program tersebut telah dijalankan sebelum Perbup 55 Tahun 2025 diterbitkan. Bahasa Madura tidak hanya ditempatkan sebagai materi pembelajaran, tetapi juga dihidupkan melalui pembiasaan komunikasi di lingkungan sekolah.

Praktik tersebut menunjukkan bahwa kebijakan daerah akan lebih bermakna ketika diterjemahkan menjadi gerakan nyata dan budaya sekolah.

Anak DO Harus Didatangi

Moh. Iksan juga meminta sekolah memberikan perhatian terhadap anak yang mengalami drop out (DO). Ketika seorang anak berhenti sekolah, pihak sekolah diharapkan tidak sekadar mencatatnya sebagai data, tetapi mendatangi dan mencari tahu persoalan yang dihadapi anak dan keluarganya.

Sementara terkait pengangkatan kepala sekolah baru, ia menjelaskan bahwa pemerintah daerah masih melakukan koordinasi serta meminta persetujuan dengan KemenPAN-RB dan BKN.

Usai pembinaan, kegiatan dilanjutkan dialog yang berlangsung cair dan penuh kekeluargaan. Para peserta menyampaikan berbagai pertanyaan dan persoalan di lapangan, yang dijawab Moh. Iksan secara lugas, jelas dan sesekali diselingi humor.

Safari Kecamatan di Pasongsongan akhirnya berlangsung sukses dan lancar.

Dari Pasongsongan, pesan penting kembali ditegaskan: kebijakan pendidikan akan benar-benar hidup ketika sekolah mau bergerak. Dan melalui ABANG SAMAD, SDN Panaongan III menunjukkan bahwa menjaga Bahasa Madura dapat dimulai dari kebiasaan sederhana membuat anak bangga menggunakan bahasa dan budayanya sendiri.

Berita Terkait

Dari Blangkon ke Buku, Agus Sugianto Tinggalkan Jejak Untuk Masa Depan SDN Panaongan III Sumenep
Kilas Nostalgia Himpun Alumni IQDA 1997–2026, IKA UIN Madura Resmi Diluncurkan
Menutup Agustus dengan Doa dan Kebersamaan, Pasongsongan Gelar Malam Resepsi HUT RI ke-81
Masih SMP, Dua Bocah di Pemalang Memulung hingga Malam Demi Uang, Generasi Emas atau Generasi Cemas?
WCC III Sukses Digelar di Sumenep, MAPALA WIRASTA UNIJA Dorong Regenerasi dan Prestasi Atlet Panjat Tebing Jawa Timur
Final Lomba Mewarna Damar Kurung Tingkat Kabupaten Gresik Digelar Meriah di Gress Mall
Festival Band Pelajar se-Madura Ramaikan MCF 2026 Malam Ini, Disbudporapar dan Disdik Sumenep Beri Ruang Kreativitas
Bukan Sekadar Mengisi SKP, Mereka Belajar Arti Saling Menguatkan di SDN Panaongan III Pasongsongan Sumenep

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 17:59 WIB

SDN Panaongan III Jadi Contoh Konsistensi Jalankan Perbup Bahasa Madura dalam Safari Pendidikan Sumenep

Selasa, 8 September 2026 - 19:43 WIB

Dari Blangkon ke Buku, Agus Sugianto Tinggalkan Jejak Untuk Masa Depan SDN Panaongan III Sumenep

Minggu, 6 September 2026 - 17:06 WIB

Kilas Nostalgia Himpun Alumni IQDA 1997–2026, IKA UIN Madura Resmi Diluncurkan

Rabu, 2 September 2026 - 21:50 WIB

Menutup Agustus dengan Doa dan Kebersamaan, Pasongsongan Gelar Malam Resepsi HUT RI ke-81

Rabu, 2 September 2026 - 00:18 WIB

Masih SMP, Dua Bocah di Pemalang Memulung hingga Malam Demi Uang, Generasi Emas atau Generasi Cemas?

Berita Terbaru