SUMENEP – Hasil donasi konser amal kemanusiaan yang menghadirkan Valen DA7 memunculkan kontras mencolok antara dua kabupaten bertetangga. Jika Pamekasan mampu mencatatkan donasi fantastis hingga Rp1,112 miliar, konser serupa di Sumenep justru hanya mengumpulkan dana sekitar Rp71 juta.
Perbandingan ini pun ramai diperbincangkan publik dan memantik beragam penilaian.
Di Pamekasan, konser amal yang digelar Kamis (1/1/2026) dan difasilitasi oleh H. Her menjadi magnet solidaritas lintas kalangan. Pejabat daerah, pengusaha, komunitas, hingga masyarakat umum bersatu menyumbang dana kemanusiaan untuk korban bencana Aceh dan Sumatera. Bahkan, H. Her tercatat sebagai donatur terbesar dengan sumbangan pribadi mencapai Rp500 juta.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Deretan donatur besar lainnya ikut menyumbang signifikan, mulai dari H. Yaqub dan Owner Nesma masing-masing Rp100 juta, Bunji Owner Arta LDT Rp88 juta, hingga Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan yang masing-masing menyumbang Rp25 juta.
Dukungan media relations BM Group turut memperkuat penggalangan dana hingga menembus angka miliaran rupiah.
Sebaliknya, konser amal Valen–Mila DA7 di Sumenep yang diinisiasi Radiesta Production dan disalurkan melalui Baznas Sumenep hanya berhasil menghimpun donasi sekitar Rp71 juta.
Meski panitia menyampaikan rasa syukur dan apresiasi, angka tersebut dinilai jauh dari ekspektasi jika dibandingkan dengan capaian Pamekasan.
Perbedaan hasil donasi yang bak “langit dan bumi” pada Jumat, 2/1/2026, malam ini memunculkan pertanyaan publik.
“Mengapa semangat filantropi di dua daerah dengan kultur sosial yang relatif serumpun bisa terpaut begitu jauh? Minimnya keterlibatan donatur besar, terbatasnya dukungan lintas sektor, serta absennya figur penggerak utama tentu menjadi faktor pembeda,” ujar Rendi, pemerhati kebijakan publik.
Ia menilai panitia keliru dalam menentukan konsep. Menurutnya, jika sejak awal konser diniatkan untuk misi kemanusiaan, seharusnya dibuat berbayar agar hasil yang dihimpun maksimal.
“Kalau memang disetting untuk kemanusiaan, harusnya berbayar dan hasilnya untuk kemanjaan. Masa konser semegah itu hanya mampu mengumpulkan Rp71 juta,” ujarnya.
Meski demikian, panitia menegaskan bahwa nilai kemanusiaan tidak semata diukur dari besaran angka. Setiap rupiah yang terkumpul tetap memiliki arti bagi para korban bencana.
Namun tak bisa dipungkiri, perbandingan ini menjadi tamparan sekaligus refleksi sosial tentang sejauh mana kepedulian dan keberpihakan elite lokal dalam momentum-momentum kemanusiaan.
Konser amal ini akhirnya bukan hanya soal musik dan donasi, tetapi juga cermin nyata kesenjangan partisipasi sosial antara Pamekasan dan Sumenep—sebuah fakta yang kini sulit diabaikan.
Penulis : Redaksi








