PROBOLINGGO – Perbaikan paving di kawasan Alun-Alun Kraksaan kembali memantik amarah publik. Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Probolinggo dinilai melakukan perbaikan “setengah hati”.
Pasalnya, dari sekian banyak paving yang amblas dan bergelombang, perbaikan hanya dilakukan pada sekitar satu meter titik kerusakan, sementara bagian lain dibiarkan rusak begitu saja.
Pantauan di lokasi memperlihatkan metode perbaikan yang terkesan asal-asalan. Paving yang amblas hanya ditambal menggunakan sekarung pasir tanpa pembenahan pondasi tanah dasar. Cara tambal sulam semacam ini dinilai tidak akan menyelesaikan masalah, karena akar persoalan justru berada pada struktur bawah yang rapuh dan mudah tergenang air.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ironisnya, hingga berita ini diturunkan, Kepala Bidang Tata Bangunan DPKPP Kabupaten Probolinggo, Slamet Yuni Maryono, belum memberikan pernyataan resmi terkait langkah teknis lanjutan yang akan diambil.
Ketiadaan penjelasan tersebut justru memperkuat spekulasi publik bahwa perbaikan dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban, bukan menyelesaikan persoalan secara tuntas.
Padahal secara geografis, Alun-Alun Kraksaan berada di jantung Kota Kraksaan yang merupakan ibu kota Kabupaten Probolinggo.
Kawasan ini bukan sekadar ruang terbuka hijau, melainkan pusat aktivitas masyarakat dan wajah utama kota yang setiap hari dilihat publik.
Kondisi ini mendorong desakan agar pemerintah daerah tidak berhenti pada pernyataan normatif.
Audit teknis terbuka terhadap proyek alun-alun dinilai mendesak untuk memastikan apakah pembangunan telah sesuai spesifikasi perencanaan, serta siapa pihak yang harus bertanggung jawab jika ditemukan kelalaian atau kesalahan teknis.
Menanggapi polemik tersebut, Kepala Inspektorat Kabupaten Probolinggo, Imron Rosyadi, mengaku telah berkoordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman terkait hasil pengerjaan proyek yang ramai disorot media.
“Untuk laporan tetap kami tindak lanjuti, Pak. Mohon maaf tidak dapat menerima telepon karena masih mengantar warga ke rumah sakit,” ujarnya singkat.
Pernyataan singkat itu belum mampu meredam kekecewaan publik. Warga kini menanti langkah konkret, bukan sekadar janji, agar Alun-Alun Kraksaan tidak terus menjadi simbol proyek mahal yang dikerjakan tambal sulam di atas uang rakyat.
Penulis : Moch Solihin







